POJOKSATU.id - Di sudut Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, berdiri sebuah masjid yang tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menyimpan kisah turun-temurun yang masih dipercaya masyarakat hingga kini.

Masjid itu adalah Masjid Tiban Nurul Huda, yang diyakini usianya lebih tua dibanding Masjid Jami’ Lasem.

Secara geografis, masjid ini berada di wilayah Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Letaknya cukup strategis, di sebelah barat Sungai Babagan dan berhadapan dengan bangunan Lawang Ombo serta klenteng Tjoe An Kiong di Desa Dasun.

Keberadaan masjid dan klenteng yang saling berhadapan ini menjadi gambaran harmonisnya sejarah Lasem sebagai kota pesisir yang multikultural.

Baca Juga: Pendaftaran TKA SD-SMP 2026 Segera Ditutup, Ini Cara Generate Nopes dan Alur Lengkapnya

Julukan “Tiban” sendiri bukan tanpa alasan. Masyarakat meyakini bangunan ini berdiri secara misterius, seolah “datang tiba-tiba” tanpa diketahui proses pembangunannya.

Cerita tersebut diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.

Salah satu sesepuh desa, Suyoto, mengisahkan bahwa dulu area masjid dipenuhi pohon sawo dan beringin.

Saat dilakukan perluasan bangunan, pohon-pohon tersebut ditebang.

Ia juga menyebut adanya batu pasujudan besar di posisi imam berdiri, yang diyakini memiliki bekas telapak tangan dan kaki.

“Waktu pemugaran, saya ikut membantu. Di bawah posisi imam ada batu besar untuk pasujudan. Karena tanah ditinggikan supaya rata, batu itu ikut diratakan dan ditutup,” ujarnya.

Meski telah mengalami revitalisasi, imam masjid Abdul Karim menegaskan bahwa bagian inti bangunan asli tetap dipertahankan.

Empat tiang utama, pintu lama, serta sumur kuno di depan masjid masih menjadi saksi bisu perjalanan panjangnya.

Di sekitar masjid juga terdapat makam Mbah Kamplok yang diyakini sebagai 1murid Sunan Bonang.

Baca Juga: Kaum Mokel Wajib Baca, Ancaman Berat bagi yang Sengaja Membatalkan Puasa, Ini Dalilnya

Setiap bulan Syura, warga menggelar haul sebagai bentuk penghormatan.

Sementara pada bulan Ramadhan, masjid ini hidup dengan pengajian selepas Ashar, tadarus dini hari, hingga rutinan malam Jumat.

Selain sejarahnya, berkembang pula kisah-kisah yang dipercaya sebagian warga.

Ada cerita tentang mushaf Al-Qur’an yang terlihat buram bagi seseorang yang memandangnya, hingga larangan tidur di dalam masjid karena pernah terjadi peristiwa tak biasa.

Namun, menurut Karim, semua kembali pada keyakinan masing-masing.

Di tengah perubahan zaman, Masjid Tiban Nurul Huda tetap berdiri sederhana namun sarat makna.

Ia bukan hanya bangunan ibadah, tetapi juga penanda perjalanan panjang Islam pesisir Jawa yang berpadu dengan budaya lokal.

Dari Lasem, kita diingatkan bahwa sejarah tidak selalu tertulis di buku, melainkan hidup dalam cerita, tradisi, dan keyakinan masyarakatnya.***