POJOKSATU.id - Jauh sebelum Cihampelas mengenal pusat belanja modern dan geliat kota kosmopolitan, Masjid Mungsolkanas sudah lebih dulu berdiri dan berfungsi.

Ia dibangun untuk satu tujuan sederhana: orang datang, beribadah, lalu pulang dengan hati yang sedikit lebih tenang.

Masjid ini berdiri sejak 1869, ketika Bandung belum sepenuhnya menjadi kota seperti hari ini.

Hamparan kebun, perkampungan kecil, dan jalan tanah lebih akrab dibanding deretan kendaraan dan etalase toko.

Jika kini Cihampelas dikenal sebagai pusat belanja, maka pada abad ke-19 kawasan ini hanyalah jalur sunyi di pinggiran kota kolonial.

Baca Juga: Dari Tambang ke Desa: Strategi ESG ANTAM Genjot Kemandirian Ekonomi Warga Pongkor

Keberadaan Masjid Mungsolkanas menjadikannya masjid tertua di Bandung Utara.

Usianya melampaui satu setengah abad, bahkan lebih tua dari Masjid Cipaganti yang kerap disebut sebagai ikon masjid bersejarah di Kota Kembang.

Mungsolkanas lahir jauh sebelum Bandung sibuk memoles diri sebagai Paris van Java.

Jejak Mama Aden dan Wakaf Seorang Janda
Sejarah mencatat, masjid ini didirikan oleh seorang ulama asal Garut, KH Abdurrohim, yang lebih dikenal dengan panggilan Mama Aden.

Dalam tradisi Sunda, sapaan “Mama” bukan sekadar panggilan akrab, melainkan simbol kewibawaan keilmuan.

Ia disematkan kepada ulama yang menjadi rujukan masyarakat dan guru bagi banyak ajengan.

Baca Juga: Heboh Tak Sengaja Bertemu Mentan, Dua Mahasiswi Ini Langsung 'Kejatuhan' Rezeki Saat Jalan di Kebun Raya Bogor

Kedatangan Mama Aden ke Bandung pada dekade 1860-an membawa misi membangun masjid sekaligus menghidupkan pesantren.

Di tengah cengkeraman pemerintahan kolonial Belanda, kehidupan umat Islam berjalan sederhana dan bertumpu pada kekuatan komunitas.

Tanah tempat masjid berdiri berasal dari wakaf seorang perempuan bernama Siti Lantenas, janda dari R. Suradipura yang wafat pada tahun yang sama dengan berdirinya masjid.

Wakaf tersebut menjadi fondasi berdirinya masjid dan pesantren, sebuah pola klasik dalam sejarah Islam Nusantara yang tumbuh dari gotong royong.

Nama Lokal yang Membumi
Yang membuat Masjid Mungsolkanas unik adalah namanya.

Di tengah tradisi penamaan masjid dengan istilah Arab, Mungsolkanas justru merupakan akronim kalimat Sunda yang mengajak umat membaca salawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: Es Cendol Bandung, dari Elizabeth hingga Katapang yang Selalu Jadi Bintang Berbuka

Nama ini mencerminkan metode dakwah Mama Aden yang membumi.

Islam disampaikan lewat bahasa sehari-hari yang akrab di telinga masyarakat.

Jika sebagian masjid berbicara dengan istilah tinggi, Mungsolkanas hadir dengan bahasa yang dekat dengan dapur dan beranda rumah.

Dari Rumah Panggung ke Dua Lantai
Saat pertama berdiri, bangunannya berupa rumah panggung sederhana berbahan bambu dan kayu dengan bentuk tajug khas Sunda.

Tidak ada kubah, tidak ada menara, apalagi pengeras suara.

Fungsinya bukan sekadar tempat salat, tetapi juga pusat komunitas dan pendidikan.

Di sinilah Mama Aden mengajar Al-Qur’an, fikih, tasawuf, dan kitab klasik dengan metode pesantren tradisional.

Santri belajar bukan hanya ilmu, tetapi juga kesabaran dan kesederhanaan.

Baca Juga: Viral Momen Kocak Seorang Anak Polos yang Beragama Kristen Berangkat Tarawih Bersama Teman Muslimnya!

Renovasi pertama tercatat pada 1933, bertepatan dengan era pembangunan Masjid Raya Cipaganti.

Bedanya, jika masjid besar lain mendapat dukungan dana kolonial, Mungsolkanas berkembang lewat swadaya warga.

Perubahan terbesar terjadi pada 2009 ketika bangunan lama diganti menjadi masjid dua lantai dengan struktur beton agar mampu menampung jamaah lebih banyak.

Secara fisik, bentuk aslinya memang telah hilang. Namun ruh sejarahnya tetap terjaga.

Salah satu peninggalan paling berharga yang masih tersimpan adalah mushaf Al-Qur’an tulisan tangan Mama Aden dari sekitar 1870-an.

Mushaf ini menjadi saksi bahwa dakwah di Bandung tumbuh dari ketekunan menulis ayat demi ayat pada masa ketika kertas dan tinta bukan barang mudah didapat.

Di depan pintu masjid, batu hitam berukir mencatat tahun berdiri serta ajakan bersalawat yang menjadi identitasnya sejak awal.

Baca Juga: Aksi Pria Angkut Kardus Setinggi Gunung Pakai Motor Matic, Netizen Sebut Ini Mah Pick Up juga Kalah!

Batu sederhana itu berfungsi layaknya prasasti kecil, penanda bahwa di tempat ini pernah tumbuh pusat spiritual yang bertahan lintas generasi.

Kisah Soekarno dan Masjid Kampung yang Tetap Hidup
Ada pula kisah yang beredar dari mulut ke mulut tentang seorang mahasiswa teknik bernama Soekarno yang disebut pernah singgah dan bermalam di masjid ini pada dekade 1920-an, saat menempuh studi di Technische Hoogeschool te Bandoeng.

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, cerita itu menambah lapisan romantisme sejarah masjid ini.

Hari ini, Masjid Mungsolkanas bukan museum. Ia tetap hidup sebagai masjid kampung yang aktif.

Pengajian anak-anak dan ibu-ibu, pendidikan usia dini, kegiatan Ramadan, hingga layanan kesehatan gratis rutin digelar bekerja sama dengan rumah sakit.

Baca Juga: Masjid Al-Syuro Garut, Masjid Bergaya Art Deco yang Jadi Markas Pejuang Kemerdekaan

Letaknya yang tersembunyi justru menjadi daya tarik tersendiri. Di tengah riuh klakson dan antrean parkir Cihampelas, Mungsolkanas menghadirkan keheningan yang jarang ditemukan di kota besar.

Masuk ke gang kecil menuju masjid ini seperti melangkah ke lorong waktu, kembali ke Bandung yang lebih pelan dan bersahaja.

Sebagai salah satu masjid tertua di Bandung, Mungsolkanas bukan sekadar bangunan ibadah.

Ia adalah penanda bagaimana Islam tumbuh lewat wakaf, gotong royong, bahasa lokal, dan keteladanan ulama.

Ia mengajarkan bahwa dakwah tak selalu harus megah, dan sejarah tak selalu berdiri di jalan raya yang ramai.***