POJOKSATU.id - Masjid Kuno Bayan Beleq di Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, bukan hanya simbol religi, tetapi juga saksi bisu masuknya agama Islam di Pulau Lombok.
Berdiri di atas sebuah bukit kecil dan dikelilingi cungkup makam para penyebar Islam, masjid ini telah menjadi ikon wisata budaya sekaligus penanda kuat jejak peradaban masyarakat setempat.
Kabupaten Lombok Utara yang relatif muda dari sisi administratif ternyata menyimpan warisan sejarah yang sangat tua.
Hingga kini belum ditemukan sumber tertulis pasti tentang siapa pendiri masjid dan tahun berdirinya.
Namun, diyakini bangunan ini telah berdiri ratusan tahun lalu dan dibangun oleh seorang mubalig yang menyebarkan Islam di kawasan tersebut.
Baca Juga: Impor BBM
Bangunan masjid berukuran sekitar 9 x 9 meter dengan dinding rendah dari anyaman bambu.
Atapnya berbentuk tumpang yang tersusun dari bilah bambu atau dikenal dalam bahasa Dayan Gunung sebagai atap santek.
Lantainya masih berupa tanah dengan dasar susunan batu kali, menghadirkan kesan sederhana namun sarat makna.
Sebagai ikon daerah, siluet Masjid Kuno Bayan Beleq bahkan diabadikan dalam lambang Kabupaten Lombok Utara berwarna merah.
Warna tersebut melambangkan keberanian dalam menegakkan jati diri sebagai masyarakat budaya yang religius.
Konstruksi bangunannya pun memiliki filosofi mendalam, terdiri dari kepala, badan, dan kaki yang menggambarkan dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah sebagai satu kesatuan kosmos masyarakat Lombok Utara.
Baca Juga: Kadin Minta Prabowo Batalkan Impor 105.000 Pickup CBU, Dinilai Ancam Industri Otomotif Nasional
Jika dilihat sekilas, bentuk masjid ini menyerupai rumah tradisional masyarakat Bayan. Tak heran, bagi yang baru pertama kali berkunjung mungkin tak langsung menyadari bahwa bangunan tersebut adalah masjid.
Denahnya berbentuk bujur sangkar dengan panjang sisi sekitar 8,90 meter dan ditopang empat soko guru dari kayu nangka berbentuk silinder dengan tinggi 4,60 meter.
Keempat tiang utama itu memiliki asal-usul berbeda: dari Bilok Petung Lombok Timur, Terengan, Senaru, serta Dusun Semokon Desa Sukadana.
Hal ini menjadi simbol persatuan empat wilayah dalam membangun tonggak spiritual bersama.
Di dalam masjid terdapat bedug kayu yang digantung di tiang atap serta makam besar (makam beleq) milik salah satu penyebar Islam pertama di kawasan ini, yakni Gaus Abdul Rozak.
Di sekitar masjid juga terdapat makam para tokoh seperti Pawelangan, Titi Mas Puluh, Sesait, dan Karem Saleh yang turut menyebarkan Islam di Lombok.
Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu Jember Cuma Rp1,1 Juta? Gus Fawait Buka Suara Soal Kenaikan
Tak jauh dari lokasi, terdapat Makam Reak yang diyakini sebagai makam Syekh Abdul Razak, ulama yang menyebarkan Islam hingga ke berbagai wilayah pada abad ke-16/17 M.
Dalam perjalanan dakwahnya, ia kerap menggunakan nama berbeda sehingga tidak banyak dikenal luas.
Tradisi di Masjid Kuno Bayan Beleq juga unik. Yang diperkenankan masuk adalah keturunan para penghulu atau kyai terdahulu.
Pakaian yang dikenakan pun sarat makna: warna putih melambangkan kesucian, kain panjang merah (dodot) mencerminkan kepemimpinan, serta sapuq atau bongot sebagai ikat kepala tradisional.
Menariknya, pengunjung tidak diperkenankan mengenakan celana dalam bentuk apa pun.
Kaum perempuan cukup mengenakan kemben, kain sebatas dada.
Baca Juga: Belum Genap Sebulan, Aspal Jalan Proyek Rp1,5 Miliar di Bima NTB Sudah Mengelupas dan Tergulung
Tradisi ini dilakukan karena diyakini pakaian sehari-hari bisa saja telah terkena najis, sehingga kesucian tempat tetap terjaga.
Untuk mencapai lokasi, akses transportasi dari Mataram maupun dari wilayah timur seperti Labuhan Lombok terbilang lancar.
Dari jalan lingkar Pulau Lombok, bangunan masjid memang tidak langsung terlihat.
Hanya pagar tembok dan dua rumah kecil di sisi gerbang yang tampak.
Setelah berjalan beberapa meter melewati rindangnya pepohonan, barulah masjid terlihat seperti gubuk sederhana di puncak bukit kecil.
Masjid Kuno Bayan Beleq bukan sekadar bangunan tua, melainkan penanda perjalanan panjang spiritualitas dan adat yang berpadu harmonis.
Di tengah modernitas yang terus bergerak, situs ini seakan mengingatkan bahwa identitas dan nilai leluhur adalah fondasi yang tak boleh tercerabut dari akar sejarahnya.***




