POJOKSATU.id - Masjid Jami’ Lasem bukan sekadar tempat ibadah umat Islam.
Masjid yang berdiri megah di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah ini juga menjadi pusat wisata religi yang tak pernah sepi peziarah, baik dari dalam maupun luar kota.
Di lingkungan masjid terdapat sejumlah makam ulama dan tokoh besar penyebar Islam di Lasem.
Di antaranya makam Eyang Sambu, Mbah Srimpet, Mbah Ma’sum, serta beberapa ulama lainnya yang memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan Islam di kawasan pesisir utara Jawa.
Masjid Jami’ Lasem dibangun pada tahun 1588 M pada masa Adipati Tejakusuma I bersama seorang ulama terkemuka, Sayyid Abdurahman.
Baca Juga: Mudik Gratis Pemkab Bogor 2026 Siapkan 40 Bus! Ini Rute dan Kota Tujuannya
Salah satu peninggalan bersejarah yang masih dikenal hingga kini adalah “Makuto Probo”, yang dahulu digunakan sebagai kubah masjid.
Adipati Tejakusuma I memiliki nama lain Kyai Ageng Punggur atau Raden Bagus Srimpet.
Ia merupakan keturunan asli Lasem, trah dari garis Pangeran Santiwira bin Pangeran Kusumabadra bin Santipuspa, yang merupakan kakak Sunan Kalijaga.
Jika ditarik lebih jauh, silsilah tersebut tersambung hingga trah Majapahit.
Karena kebijaksanaan, kecerdasan, dan keluasan ilmunya, R.M. Tejakusuma I diambil menantu oleh Sultan Hadiwijaya atau yang dikenal sebagai Jaka Tingkir, Sultan Pajang.
Beliau wafat pada usia 77 tahun dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Jami’ Lasem.
Baca Juga: Pramono Tegas! Lapangan Padel Tanpa PBG di Jakarta Akan Dibongkar dan Izin Usaha Dicabut
Sementara itu, Sayyid Abdurahman dikenal sebagai Walinegara atau guru agama Islam di Lasem.
Ia didatangkan dari Tuban dan diyakini sebagai keturunan Sunan Pwa Lang.
Di Lasem, ia juga dikenal dengan nama Syech Maulana Sam Bwa Asmarakandhi atau Mbah Sambu.
Selain menjadi tokoh penting dalam syiar Islam, ia juga menjadi menantu R.M. Tejakusuma I.
Dari keturunannya lahir sejumlah ulama besar yang tersebar di berbagai penjuru Pulau Jawa.
Sayyid Abdurahman wafat di Lasem dan dimakamkan di sebelah utara Masjid Jami’ Lasem.
Berkat jasa R.M. Tejakusuma I dan Sayyid Abdurahman inilah Lasem memiliki masjid sebagai pusat ibadah dan syiar Islam yang terus bertahan hingga kini.
Meski telah beberapa kali mengalami pemugaran, nilai sejarah dan makna perjuangan para pendirinya tetap melekat kuat.
Masjid Jami’ Lasem bukan hanya saksi bisu perjalanan panjang Islam di pesisir Jawa, tetapi juga pengingat bahwa peradaban dibangun dari ketulusan, ilmu, dan perjuangan para pendahulu.
Di setiap langkah peziarah yang datang, terselip doa dan penghormatan bagi jejak sejarah yang terus hidup sampai hari ini.***




