POJOKSATU.id - Di sebuah tikungan Jalan Cipaganti, Kota Bandung, berdiri anggun Masjid Cipaganti.

Tak terlalu megah, namun sarat gaya. Atap limasan, jendela-jendela tinggi, dan detail bangunan bernuansa kolonial membuatnya berbeda dari kebanyakan masjid di kota ini.

Di balik arsitekturnya yang khas, tersimpan kisah sejarah yang unik sekaligus membingungkan.

Masjid ini dirancang oleh arsitek Belanda, Charles Prosper Wolff Schoemaker. Sosoknya dikenal eksentrik.

Ia pernah memelihara macan kumbang dan ular di rumahnya di Bandung.

Menikah lima kali, sempat masuk Islam, lalu kembali memeluk Katolik sebelum wafat dan dimakamkan di pemakaman Kristen.

Baca Juga: Heboh Pendaftaran Politeknik IMIPAS Dibuka? BPSDM IMIPAS Tegas, Itu Hoaks!

Bangunan Masjid Cipaganti yang berdiri sekarang selesai pada 1934. Namun jejak awalnya jauh lebih tua.

Pada abad ke-19, telah berdiri Masjid Kaum Cipaganti berbahan bilik bambu dengan luas sekitar 8.000 meter persegi.

Masjid sederhana itu menjadi pusat ibadah masyarakat setempat sebelum kawasan Cipaganti dirancang sebagai permukiman elite Eropa pada 1920-an.

Ketika pemerintah kolonial hendak membuka jalan baru, keberadaan masjid sempat dianggap mengganggu tata kota.

Rencana pembongkaran pun muncul. Masyarakat Muslim menolak keras.

Protes disuarakan oleh Kepala Penghulu Bandung dan tokoh masyarakat. Polemik itu bahkan masuk pemberitaan surat kabar masa itu.

Baca Juga: UKRIM Yogyakarta, Jejak Sejarah dan Akreditasi, Hingga Komitmen Cetak Lulusan Profesional dan Berintegritas

Akhirnya pemerintah kolonial memberi jalan tengah: masjid boleh tetap berdiri, tetapi harus dibangun permanen dan tampil lebih layak karena berdampingan dengan vila-vila Eropa.

Dari sinilah pembangunan ulang dimulai, tetap di atas tanah wakaf yang sama, namun dengan arsitektur modern rancangan Schoemaker.

Prasasti masjid mencatat pembangunan dimulai pada 11 Syawal 1351 H atau 7 Februari 1933.

Peletakan batu pertama dilakukan Bupati Bandung saat itu, R.T. Hassan Soemadipradja.

Pembangunan dikerjakan pemborong Anggadibrata dengan dukungan Balai Keramik.

Masjid rampung pada 27 Januari 1934. Menariknya, hanya dua pekan sebelumnya beredar kabar bahwa Schoemaker mengucap syahadat dan masuk Islam.

Baca Juga: Sejarah dan Profil Masjid Raya Al Jabbar Bandung, Ikon Religi dan Arsitektur Jawa Barat

Dalam salat Jumat pertamanya sebagai Muslim, ia hadir bersama dua orang Eropa lain. Kehadiran mereka tentu mengundang perhatian jamaah kala itu.

Sejak itu ia disebut menggunakan nama “Kemal Wolff Schoemaker”. Namun perjalanan spiritualnya kembali dipertanyakan ketika muncul tulisan di media Belanda yang menyindir bahwa konversinya bermuatan politik.

Beberapa sumber menyebut, sebelum wafat pada 22 Mei 1949, ia kembali menjadi Katolik dan dimakamkan di Pemakaman Kristen Pandu, Bandung.

Terlepas dari perdebatan itu, Masjid Cipaganti tetap berdiri kokoh hingga kini.

Ia menjadi saksi bagaimana sejarah kolonial, arsitektur modern, dan dinamika keyakinan bertemu dalam satu ruang ibadah.

Masjid ini bukan sekadar tempat salat, tetapi juga pengingat bahwa perjalanan sejarah sering kali tak lurus.

Ada tikungan, ada persimpangan, dan kadang ada kisah yang tak pernah benar-benar selesai dijelaskan.***