POJOKSATU.id - Dalam perjalanan sejarah Indonesia, beberapa tokoh penting telah turut serta dan berperan aktif dalam perjuangan bangsa.
Sejumlah di antara mereka, termasuk pahlawan Indonesia, hilang secara misterius.
Seperti yang dilaporkan oleh Museumsumpahpemuda.kemdikbud.go.id pada Kamis (10/11/2022), sebagian dari pahlawan ini dinyatakan tewas dalam pertempuran, tetapi lokasi pemakamannya belum ditemukan.
Sementara itu, beberapa yang lainnya hilang total tanpa meninggalkan jejak, seolah-olah lenyap dari muka bumi.
Baca Juga: Aron Donnum Pahlawan Toulouse dalam Kemenangan Bersejarah Atas Liverpool
Maka dari itu, ketahuilah ini dia identitas para pahlawan yang masih hilang atau belum ditemukan.
1. Otto Iskandar Dinata
Otto Iskandar Dinata adalah seorang pahlawan Indonesia yang turut serta dan berperan dalam pembentukan panitia persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Pahlawan yang dikenal dengan gelar si Jalak Harupat ini merupakan anggota BPUPKI dan juga menjadi salah satu menteri negara pertama yang dimiliki oleh Indonesia, bersama dengan tokoh-tokoh lain seperti Wahid Hasyim dan A.A. Maramis.
Malangnya, setelah mengepalai jabatan sebagai menteri negara yang bertanggung jawab atas badan keamanan rakyat dalam Kabinet Pertama Presiden Soekarno, Otto Iskandardinata menjadi korban penculikan.
Pada tanggal 20 Desember 1945, diperkirakan bahwa Otto Iskandardinata diserang dan tewas di Pantai Mauk, Banten oleh kelompok Laskar Hitam yang tidak puas dengan kebijakan penyatuan mantan anggota Peta yang dibentuk oleh Jepang dengan bekas prajurit KNIL yang dibentuk oleh Belanda.
2. Moewardi
Dr. Moewardi adalah salah satu tokoh perjuangan kemerdekaan yang ikut andil dalam persiapan pembacaan teks Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945.
Lahir di Jawa Tengah pada tahun 1907, Dr. Moewardi, sepanjang karirnya mendirikan sebuah sekolah kedokteran dan membantu rakyat dalam melawan Front Demokrasi Rakyat (FDR), yang merupakan bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI).
Pada peristiwa Madiun, pada tanggal 13 September 1948, Dr. Moewardi dikabarkan diculik ketika sedang menjalankan tugasnya sebagai dokter di Rumah Sakit Jebres, Solo.
Sejak saat itu, keberadaan Dr. Moewardi menjadi misteri. Tidak ada informasi mengenai nasibnya, bahkan jasadnya tidak pernah ditemukan.
Baca Juga: Abadi dalam Syair, Ini 5 Contoh Puisi yang Bertema Hari Pahlawan 10 November
3. Soeprijadi
Soeprijadi, dengan pangkat Sodancho atau komandan platon, adalah seorang pahlawan nasional yang terkenal karena terlibat dalam pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) melawan kekuasaan Jepang di Blitar.
Melihat penderitaan pekerja di bawah sistem kerja paksa yang tidak manusiawi, Soeprijadi memimpin pasukannya untuk memberontak.
Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 14 Februari 1945.
Sayangnya, pemberontakan itu berhasil dicegah oleh Jepang, yang kemudian menghukum mati sekitar 8 pemimpin utamanya.
Namun, Soeprijadi disebutkan selamat dan berhasil melarikan diri.
Pada tanggal 6 Oktober 1945, Soeprijadi diangkat sebagai menteri keamanan rakyat, tetapi dia tidak pernah muncul.
Dia menghilang tanpa jejak dan keberadaannya masih menjadi misteri hingga saat ini.
Pada tanggal 9 Agustus 1975, namanya secara resmi diakui sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia.
Baca Juga: Menelusuri Pertempuran Surabaya, Inilah Sejarah Singkat Hari Pahlawan 10 November 1945
4. Laksamana Madya TNI (Ant) Yosaphat Soedarso
Dia lebih dikenal dengan nama Komodor Yos Sudarso, yang tewas dalam pertempuran Laut Aru pada 15 Januari 1962 bersama KRI Macan Tutul.
Insiden ini terjadi setelah kapal perang Belanda Hr Ms Eversten menyerang dalam kampanye Trikora.
Meskipun demikian, jasad Kepala Staf Angkatan Laut TNI yang lahir di Salatiga, Jawa Tengah pada 24 November 1925 ini tidak pernah ditemukan.
Saat ini, namanya diabadikan sebagai nama KRI dan pulau, selain dihormati sebagai pahlawan nasional.
Wikana mungkin sering terlupakan, namun dia adalah salah satu tokoh kunci dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Dia adalah seorang pemuda yang terlibat dalam penculikan Soekarno dan Hatta selama Rengasdengklok, peristiwa persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Wikana juga yang mengorganisir pembacaan teks proklamasi di Pegangsaan.
Setelah Indonesia merdeka, ia aktif di Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sedangkan, di dunia pemerintahan, ia menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga dalam kabinet Amir Sjarifuddin.
Setelah dituduh memberontak pada peristiwa Madiun 1948, ia keluar dari jabatan menteri dan menjadi buruan tentara.
Pada akhir September 1965, saat terjadi pembunuhan perwira Angkatan Darat, tak ada kabar lagi tentang nasib Wikana.
Ia menghilang begitu saja, dan tak ada yang tahu apa yang terjadi padanya.
Baca Juga: Raja Klungkung Ida Dewa Agung Jambe, Pahlawan Nasional yang Gugur Melawan Belanda
5. Pattimura
Meskipun lebih dikenal dengan panggilan Pattimura, namun sebenarnya nama lengkapnya adalah Thomas Matulessy.
Pattimura, yang menjadi ikon pada uang seribu rupiah, adalah salah satu pahlawan yang diabadikan dalam mata uang Republik Indonesia.
Gelar Kapitan yang melekat padanya bukanlah gelar militer, melainkan sebuah gelar dalam struktur pemerintahan kerajaan di Maluku.
Pattimura lahir di pulau Saparua, Maluku, pada 8 Juni 1783.
Ketika berusia 34 tahun, dia memimpin perang melawan Belanda yang kembali menjajah tanah Maluku.
Pada tahun 1816, setelah Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada Belanda, pemerintah Belanda beserta VOC-nya mulai bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat Maluku.
Sebagai tanggapan, rakyat Maluku di bawah kepemimpinan Kapitan Pattimura bangkit melawan penjajah.
Baca Juga: Raja Klungkung Ida Dewa Agung Jambe, Pahlawan Nasional yang Gugur Melawan Belanda
Pertempuran berlanjut sepanjang tahun 1817, tetapi akhirnya Pattimura tertangkap dan dihukum gantung di Ambon pada tanggal 16 Desember 1817.
Sampai saat ini, lokasi pemakaman Kapitan asal Maluku ini tetap menjadi misteri.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa Pattimura meninggal dan jasadnya dibuang ke sebuah tempat pengasingan di Maluku, kemudian digantung di Benteng Victoria.
Ada juga yang mengatakan ia dibuang ke Pulau Buru atau Pulau Tiga, dua tempat yang sering digunakan oleh Belanda untuk mengasingkan orang-orang Indonesia yang dianggap memberontak.
Pattimura bukanlah sosok biasa. Meskipun mungkin hanya dianggap sebagai seorang pejuang ulung, pada kenyataannya, ketika Inggris berkuasa, Pattimura sudah memiliki pengalaman di militer dan mencapai pangkat mayor sebelum akhirnya gugur.***



