POJOKSATU.ID - Global Positioning System atau GPS adalah sistem satelit navigasi dan penetuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat.
Tahukah anda, sebelum GPS ditemukan saat ini, pada abad ke-10, seorang muslimah dikenal karena rancangannya membangun astrolabe dengan ponsel pintar kuno saat itu. Versi modern saat ini astrolobe yang ditemukan ilmuwan perempuan Islam tersebut dikenal dengan Global Positioning System atau GPS.
Dia adalah Mariam Al-Astrolabiya Al-Ijliya yang lahir di Aleppo, Suriah. Ia dikenal sebagai cendikiawan yang cerdas dengan pemikiran yang meletakkan dasar untuk mengelola transportasi dan komunikasi menggunakan astrolab.
Astrolabe merupakan instrumen global positioning yang menentukan posisi matahari dan planet-planet. Instrumen tersebut digunakan untuk keilmuan astronomi, astrologi, dan horoskop.
Astrolobe juga digunakan untuk mengetahui waktu dan sebagai navigasi dengan cara mencari lokasi berdasarkan lintang dan bujur. Sedangkan, bagi umat Muslim astrolobe digunakan untuk menentukan kiblat, waktu shalat, dan awal Ramadahan serta Idul Fitri.
Kerajinan astrolobe sangat berkembang pesat pada abad kesembilan hingga 10. Tidak sembarang orang yang dapat menguasai teknik tersebut.
Pada saat itu, orang yang ahli dalam membuat astrolobe disebut sebagai insinyur mesin. Mariam merupakan muslimah pertama yang dikenal sebagai insinyur mesin dalam bidang astronomi.
Sayangnya, kisah Mariam sebagai mujahidah sangat sedikit dikisahkan dalam sejarah. Dan kisah cendikiawan muslimah ini, dikisahkan dalam bibliografi oleh Al Fihrist Ibnu al-Nadim.
Meskipun kisah Mariam sangat sedikit disebutkan, Mariam sangat dikenal di kalangan ilmuwan Eropa, bahkan mendapat julukan al-Astrolobe.
Dia adalah muslimah pemberani dan canggih dalam dunia ilmu pengetahuan.
Keahlian dan kepintaraanya membuat banyak ilmuwan Eropa yang berkiblat pada hasil temuannya. Sehingga, ilmu astronomi dapat berkembang pesat seperti saat ini.
Kesuksesan Mariam di bidang Astronomi tak lepas dari peran ayahnya yang merupakan seorang pegawai pembuat astrolobe terkenal di Baghdad.
Ayah Mariam dikenal dengan gelar al-Ijliya al-Usturlabi. Teknik merancang astrolobe yang dimilikinya merupakan sebuah rahasia.
Ayahnyalah yang menjadi guru utama Mariam untuk membuat astrolobe. Kemudian Mariam mendesain teknik buatannya lebih inovatif dan juga rumit.
Pada saat itu, Maria dan ayahnya bekerja di bawah penguasa Aleppo, Sayf al-Dawla yang memerintah pada tahun 944 hingga 967 Masehi.
Ilmu astronomi yang dikuasai ayahnya secara tradisi memang selalu diturunkan kepada anaknya. Secara turun temurun, keluarga Ijliya selalu membuat alat yang berkaitan dengan astronomi.
Setelah mengetahui rahasia profesinya itu, Mariam diajak ayahnya untuk berguru kepada Bitolus bersama 16 orang insinyur lainnya.
Namun, tidak diketahui di mana dan kapan Bitolus berada saat Mariam dan ayahnya berguru. Dalam kisahnya tertulis bahwa Bitolus merupakan ahli astronomi yang paling terkenal.
Nama al-Ijli diambil dari nama Bani Ijli. Sebuah suku yang merupakan bagian dari Bani Bakr, salah satu Bani Arab dari Rabiah.
Sehingga, Mariam dan keluarganya, awalnya merupakan penghuni Najd, di tengah Arabia. Tapi, mereka bermigrasi karena menjadi salah satu Badui yang harus berpindah ke perbatasan selatan Mesopotamia. (TIK/NIN/pojoksatu)




