POJOKSATU.id, JAKARTA -- Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meluruskan narasi yang mengaitkan pembacaan Surat Al-Ahzab ayat 70-73 dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor dengan teguran khusus kepada Presiden Prabowo Subianto.

Alumnus Gontor tahun 1983 itu menegaskan, ayat tersebut ditujukan kepada seluruh peserta yang hadir dalam momentum satu abad Gontor, bukan secara khusus kepada Presiden.

“Kalau dikaitkan dengan pilihan ayat Al-Qur’an yang dibacakan, apakah itu secara khusus ditujukan kepada Pak Prabowo? Tentu tidak. Karena itu berlaku, ditujukan bagi kita semua yang hadir di situ,” kata Lukman, Senin (28/9/2026).

Baca Juga: Prabowo Disorot Gegara Sebut ‘Pakar Goblok’, Kini Bilang Ucapannya Kerap Dipelintir

Lukman menjelaskan, acara tersebut merupakan reuni akbar yang mempertemukan berbagai generasi alumni Gontor, mulai angkatan 1950-an hingga 2000-an. Karena itu, menurut dia, pembacaan ayat mengenai amanah harus ditempatkan dalam konteks yang lebih luas.

“Jadi pilihan ayat itu, tiga ayat itu, Al-Ahzab 70, 71, 72, 73, adalah mengingatkan kita semua. Jadi semua kita yang hadir itu, dan ayat itu berlaku umum, berlaku kepada semua kita bahwa tanggung jawab itu harus diemban dengan sebaik-baiknya, kepercayaan itu harus dijaga dengan sebaik-baiknya,” jelas Lukman.

Lukman juga mengatakan konteks lain yang perlu diperhatikan ialah bagaimana Gontor menerima Presiden selama kunjungan tersebut.

Menurut dia, rangkaian penyambutan justru menunjukkan penghormatan kepada Prabowo sebagai Kepala Negara.

Baca Juga: Hadir di Puncak 100 Tahun Gontor, Presiden Prabowo Terima Hadiah Istimewa Mushaf dan Buku Sejarah!

“Gontor itu sangat menghormati Bapak Presiden. Bahkan ekspresi disampaikan oleh Kiai Hasan Abdullah Sahal. Semua Presiden itu diundang secara terhormat oleh Gontor,” ujar Lukman.

Ia mencontohkan penyambutan yang diberikan kepada Prabowo sejak memasuki lingkungan pondok. Ribuan santri turut menyambut kedatangan Presiden dalam momentum satu abad Gontor tersebut.

“Lihat saja penyambutan Presiden itu. Penyambutan dari sisi protokoler ke Gontor, yaitu protokoler nomor satu, yang tertinggi. Disambut sejak masuk ke jalan wilayah Gontor oleh santri-santri yang berbaris. Tidak semua orang disambut seperti itu, hanya Presiden yang disambut seperti itu,” katanya.

Karena itu, menurut Lukman, tidak tepat apabila pembacaan Al-Ahzab kemudian dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa Gontor sedang menunjukkan sikap tidak hormat kepada Presiden.

“Jadi kalau dikatakan Gontor tidak menghormati Presiden, tidak benar. Presiden dimuliakan, bahkan Pak Kiai meminta Presiden lebih lama makan siang di sana dan seterusnya,” ungkapnya.

Lebih jauh, Lukman meminta publik memperhatikan pernyataan pimpinan Gontor KH Hasan Abdullah Sahal mengenai hubungan pondok dengan Presiden. Pernyataan tersebut, menurut dia, penting untuk memahami konteks acara secara utuh.

Bahkan apabila terdapat masukan atau kritik dari Gontor kepada pemerintah, Lukman menilai hal itu tidak semestinya serta-merta dibaca sebagai bentuk permusuhan terhadap Presiden.

“Jadi yang harus digarisbawahi, Kiai Gontor itu Kiai Hasan Abdullah Sahal itu eksplisit mengatakan bahwa Gontor selalu senantiasa berhusnuzon kepada Presiden,” ujar Lukman.

“Justru andai pun ada masukan, katakanlah ada kritik, itu bentuk cintanya Gontor kepada Presiden, wujud kasih sayangnya, wujud cintanya, bentuk kepedulian Gontor terhadap Presiden. Jadi selalu positif maknanya,” pungkas Lukman.