POJOKSATU.id, JAKARTA - Akademisi Rocky Gerung sudah lama dikenal sering mengkritik Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Tapi siapa sangka kalau Jokowi ternyata pernah berniat memberi penghargaan kepada mantan dosen Universitas Indonesia itu.
Tidak tanggung-tanggung, Jokowi ternyata sempat melontarkan keinginan memberikan penghargaan Bintang Mahaputra Nararya kepada Rocky Gerung atau RG.
Sekadar diketahui, Bintang Mahaputera Nararya diberikan kepada orang yang dianggap telah berjasa bagi Indonesia.
Niat Jokowi memberi penghargaan Bintang Mahaputra kepada Rocky Gerung ini diungkap Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD baru-baru ini.
Mahfud mengakui bahwa ia telah mengundang Rocky Gerung, yang sering kali mengkritik pemerintah terutama Presiden Joko Widodo.
BACA JUGA: Ketua PSSI Erick Thohir Beberkan Biaya Penerapan VAR di Liga 1, Wasitnya Sudah Dilatih
Mahfud juga memberitahu Jokowi tentang hal itu dan Jokowi tidak mempermasalahkannya, hanya tertawa.
Mahfud mengatakan bahwa Jokowi berbeda dengan Soeharto yang melarang stafnya bertemu dengan pengkritik atau lawan politik pemerintah pada era Orde Baru.
Menurutnya, Presiden Jokowi justeru tidak keberatan jika menterinya bertemu dengan lawan politik pemerintah.
Tidak hanya Rocky Gerung, Mahfud juga mengaku telah bertemu dengan orang-orang lain yang sering mengkritik Jokowi, seperti Rizal Ramli dan Said Didu.
Semua pertemuan tersebut diketahui oleh Presiden Jokowi.
Mahfud menyatakan bahwa Jokowi tidak pernah alergi terhadap kritik. Bahkan, Jokowi mengusulkan agar orang yang kritis diberi penghargaan.
BACA JUGA: Korlantas Polri Bakal Gelar Operasi Patuh Jaya Senin Depan, Personel Lakukan Persiapan
Mahfud menyebutkan bahwa Jokowi pernah mengusulkan agar Rocky Gerung dianugerahi Bintang Mahaputera Nararya.
"Mengapa tidak mengusulkan Rocky Gerung?" kata Mahfud menirukan Jokowi dengan nada serius dan tidak mengejek.
Kemudian, pada bulan Agustus 2020, Bintang Mahaputera Nararya diberikan kepada Fadli Zon dan Fahri Hamzah. Mereka diberikan penghargaan tersebut karena dianggap kritis selama menjabat sebagai pimpinan DPR periode 2014-2019.
Bintang Mahaputera merupakan tanda kehormatan diberikan Presiden bagi mereka yang berjasa luar biasa guna keutuhan, kelangsungan, dan kejayaan bangsa dan negara.
Bintang Mahaputera merupakan tanda kehormatan tertinggi setelah Bintang Republik Indonesia.
Tanda kehormatan ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
BACA JUGA: Saleh Daulay Disambut Meriah Warga Tambangan, Tekankan Pentingnya Perhatian Jakarta untuk Pelosok
Bintang Mahaputera Nararya adalah bintang mahaputera kelima setelah Bintang Mahaputera Adipurna, Bintang Mahaputera Adipradana, Bintang Mahaputera Utama, Bintang Mahaputera Pratama.
Penghargaan tersebut tidak selalu diberikan kepada pejabat negara.
Pada tahun 2010, Frans Mendur diberikan Bintang Mahaputera Nararya.
Frans Mendur adalah seorang fotografer yang memotret momen Sukarno-Hatta saat membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Pada tahun 1994, pemerintah juga memberikan Bintang Mahaputera Nararya kepada cendekiawan Hans Bague Jassin.
Lalu bagaimana respon Rocky Gerung (RG) dengan pengakuan Mahfud MD soal niat Jokowi memberinya penghargaan Bintang Mahaputra Nararya?
RG mengaku mendapat banyak pertanyaan dari wartawan soal itu. Namun, ia tidak menjawabnya.
Ia malah meminta wartawan bertanya mengenai hal yang lebih bermanfaat.
Di kanal YouTube Rocky Gerung Official, ia menyebut rencana pemberian bintang Mahaputera bukan kabar menggembirakan bagi dirinya.
"Mungkin itu maksudnya supaya dapat bintang Mahaputera nalar liar. Kalau itu saya terima," ucap Rocky Gerung sambil tertawa.
Rocky juga mengaku mendapat banyak pesan dari teman-temannya yang memintanya menolak jika diberi penghargaan oleh pemerintah.
Meski begitu Rocky tetap mengapresiasi Menko Polhukam Mahfud MD, sosok yang membocorkan usulan Jokowi agar Rocky diberi tanda kehormatan.
Menurut Rocky, Mahfud adalah orang yang tetap ingin pemerintah memiliki oposisi.
Dalam hal ini bukan oposisi partai politik di luar pemerintahan, melainkan oposisi pikiran karena Rocky Gerung terus menerus memproduksi pemikiran atau nalar yang mengkritik kebijakan pemerintahan Jokowi.
Editor: Jumaidil Halide




