POJOKSATU.id — Di tengah gelombang kritik terhadap kinerja kepolisian.

Mahfud MD justru mengingatkan publik untuk tidak terjebak pada emosi dan tuntutan ekstrem.

Dalam perbincangan di Terus Terang Podcast Mahfud melontarkan pernyataan yang menohok tapi penuh makna.

Baca Juga: Kesehatan Mental ASN Jadi Fokus Baru Pemkot Cimahi, Demi Layanan Publik Berkualitas

“Enam puluh tahun kamu punya polisi yang bebal seperti sekarang di Indonesia itu jauh lebih baik daripada polisi tidak ada,” ujarnya tegas.

Pernyataan itu langsung menjadi perbincangan.

Di satu sisi, Mahfud mengakui banyak masalah serius di tubuh Polri mulai dari penyalahgunaan wewenang hingga krisis kepercayaan publik.

Baca Juga: Kasus Guru SMPN 2 Subang Berakhir Damai, KDM: Tegakkan Disiplin Tanpa Kekerasan

Namun di sisi lain, ia ingin mengingatkan masyarakat bahwa institusi kepolisian tetap pilar penting bagi keberlangsungan negara.

Tanpa polisi, kata Mahfud, negara akan runtuh dalam hitungan jam.

Mahfud mengutip pandangan filsuf Ibnu Taimiyah yang mengatakan.

Baca Juga: Keras! Mahfud MD Kalau Semua Polisi itu Oknum, Siapa yang Bertanggung Jawab?

“Enam puluh tahun dipimpin oleh orang jahat lebih baik daripada satu malam tanpa pemimpin.”

Dari situ ia menarik analogi bahwa lebih baik memiliki polisi yang masih bisa diperbaiki daripada hidup tanpa sistem keamanan sama sekali.

Ia bahkan mencontohkan dua negara yang pernah mengalami kekacauan akibat absennya kepolisian Brasil dan Georgia.

Menurut Mahfud, di Brasil pernah terjadi mogok massal polisi hanya selama satu malam, dan akibatnya, seluruh kota berubah menjadi ladang kejahatan.

“Toko dijarah, pembunuhan di mana-mana, negara kacau,” ujarnya.

Baca Juga: Ketahui Penerapan Kurikulum OBE di Perguruan Tinggi, Faktor Penting Akreditasi, Apa, Mengapa, dan Bagaimana?

Sebaliknya, di Georgia, pemerintah pernah memecat 30.000 polisi korup secara serentak

Dan walaupun berjalan mulus, kondisi seperti itu tidak bisa serta-merta diterapkan di Indonesia yang jauh lebih kompleks.

“Kita harus ambil jalan tengah,” tegasnya. “Bukan membiarkan polisi bebal, tapi juga jangan sampai negara tanpa polisi.”

Baca Juga: Burn Out? Ini Dia 6 Langkah Simpel Atur Waktu Kamu Supaya Nggak Kewalahan Alias Burn Out!

Mahfud menyadari kekecewaan publik terhadap berbagai kasus pelanggaran di kepolisian.

Survei Kompas bahkan menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap Polri hanya sekitar 65 persen angka terendah dibanding lembaga hukum lain.

Namun bagi Mahfud, menyerukan pembubaran atau penghapusan fungsi kepolisian bukan solusi. “Kalau polisi mogok satu jam saja, negara ini bisa kacau,” ujarnya.

Baca Juga: Keras! Mahfud MD Kalau Semua Polisi itu Oknum, Siapa yang Bertanggung Jawab?

“Tidak ada yang menjaga presiden, tidak ada yang melindungi masyarakat, tidak ada yang mengatur lalu lintas, tidak ada yang mengurus keamanan di pasar.”

Ia menegaskan, keberadaan Polri tidak bisa digantikan lembaga lain.

Yang perlu dilakukan, kata Mahfud, adalah reformasi menyeluruh agar polisi kembali menjadi pelindung rakyat, bukan sumber ketakutan.

Itulah sebabnya ia kini terlibat aktif sebagai anggota Komisi Percepatan Reformasi Polri.

Lembaga baru yang dibentuk untuk menata ulang arah dan moral institusi kepolisian di era pemerintahan baru.

Dalam pandangan Mahfud, memperbaiki Polri adalah proses panjang yang memerlukan kesabaran dan keberanian politik.

Baca Juga: ASN di Era Global, Kompetisi Lulusan Luar Negeri Vs Dalam Negeri Kian Ketat

Ia mendorong agar pemerintah tidak hanya fokus menindak oknum, tetapi juga memperbaiki struktur dan budaya internal.

“Kalau kepala rusak, tubuhnya ikut rusak,” ujarnya dalam kesempatan lain.

“Kita harus bereskan dari atas sampai ke bawah, dari sistem rekrutmen sampai pengawasan.”

Baca Juga: Kesehatan Mental ASN Jadi Fokus Baru Pemkot Cimahi, Demi Layanan Publik Berkualitas

Meski kerap menjadi pengkritik keras aparat, Mahfud menegaskan bahwa kritiknya lahir dari kecintaan terhadap institusi itu sendiri.

Ia percaya, tanpa polisi, rakyat justru akan menjadi korban.

“Negara tanpa polisi bukan negara hukum, tapi rimba belantara,” katanya.

Baca Juga: Sinergi PKK dan Dunia Pendidikan, Banten Luncurkan Program PKK Mengajar

“Kita harus jaga polisi, tapi juga harus berani menertibkan yang menyeleweng.”

Pesan Mahfud ini terasa relevan di tengah meningkatnya tuntutan publik untuk reformasi aparat.

Ia mengajak masyarakat agar tetap rasional tidak membenci institusinya, tapi menuntut perbaikan sistemnya.

“Kalau semua aparat dianggap musuh, siapa yang akan menjaga kita?” ujarnya.

Pernyataan Mahfud menegaskan satu hal penting membenahi Polri tidak bisa dilakukan dengan menghancurkannya.

Reformasi, kata dia, bukan berarti meniadakan, tapi memperbaiki.

Baca Juga: Burn Out? Ini Dia 6 Langkah Simpel Atur Waktu Kamu Supaya Nggak Kewalahan Alias Burn Out!

“Lebih baik kita punya polisi yang bebal tapi bisa diperbaiki,” ujarnya, “daripada hidup dalam kekacauan tanpa polisi sama sekali.”***