POJOKSATU.id, JAKARTA—Pengamat komunikasi politik Jamiluddin Ritonga mempertanyakan sikap Luhut Binsar Pandjaitan terkait proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.
Idealnya Luhut Pandjaitan sebagai Menko Marinvest era Jokowi sekaligus Ketua Komite Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung, menolak proyek ini.
Namun belakangan Luhut menyebut proyek Whoosh sudah busuk, namun ternayat tetap dilanjutkan.
Sikap Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) era Presiden Prabowo terkait proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) alias Whoosh dianggap tak konsisten.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Tolak Bayar Utang Whoosh, Pengamat: Saya Haqul Yakin Ini Maunya Prabowo
“Idealnya Luhut seharusnya menolak melanjutkan proyek tersebut. Namun hal itu justru tidak dilakukan Luhut. Tidak konsisten,” kata Jamiluddin Ritonga, Selasa (21/10).
Jamiluddin menilai perlu adanya audit menyeluruh terhadap proyek Whoosh di masa mantan Presiden Jokowi tersebut.
Melalui audit, nantinya akan diketahui pihak-pihak yang mendapat keuntungan dari proyek tersebut.
“Hal itu perlu dilakukan agar penggunaan anggaran proyek tersebut terang benderang. Siapa pun yang mendapat keuntungan finansial seharusnya ditindak ke ranah hukum,” tegas pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul ini.
Baca Juga: Muslim Arbi Ungkap Luhut Pandjaitan Harus Ikut Tanggung Jawab Utang Kereta Cepat Whoosh
Menurut Jamiluddin lagi, sikap inkonsisten Luhut tersebut semakin membingungkan masyarakat.
Sebab, Luhut terkesan memaksakan proyek Whoosh harus selesai meski carut-marut dan berutang ke China Development Bank (CDB) dengan bunga setiap tahunnya yang harus dibayarkan sebesar 2 persen.
Adapun total investasi pembangunan Whoosh sebesar 7,27 miliar dolar AS atau Rp120,38 triliun.
Utang Kereta Whoosh
Mengutip laporan keuangan tahunan 2022 yang diaudit oleh RSM, diketahui proyek Whoosh menelan total biaya US$ 7,26 miliar atau setara Rp 119,79 triliun (asumsi kurs Rp 16.500).
Baca Juga: Generasi Muda Berirama: Mengasah Kreativitas Lewat Seni dan Musik
Angka tersebut termasuk pembengkakan biaya sebesar US$ 1,21 miliar (Rp 19,96 triliun) dari nilai investasi awal yang ditetapkan US$ 6,05 miliar (Rp99,82 triliun).
Mayoritas porsi dana pengerjaan proyek Whoosh diperoleh dari utang pinjaman dari China Development Bank (CDB) dengan bunga utang mencapai 3,3% dan tenor hingga 45 tahun.
Pinjaman modal luar negeri menjadi salah satu bentuk pembiayaan dalam proyek Whoosh.
Proyek KCJB didanai lewat skema Businies to Businies yang salah satunya bersumber dari pinjaman dana dari China Development Bank.
Dijelaskan, dalam proyek ini, pinjaman modal luar negeri berasal dari China Development Bank (CDB) sebesar 75%. Sementara 25% modal lainnya dikucurkan oleh ekuitas pemegang saham.***




