POJOKSATU.id - Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, memprediksi konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tidak akan selesai dalam waktu singkat.
Menurutnya, dinamika geopolitik di Timur Tengah saat ini berpotensi memicu konflik berkepanjangan karena karakter bangsa Iran yang dikenal sangat tangguh dalam menghadapi tekanan.
Pernyataan tersebut disampaikan Luhut dalam sebuah video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya.
Ia menilai banyak pihak mungkin meremehkan ketahanan Iran, padahal secara sejarah negara tersebut memiliki daya tahan luar biasa terhadap tekanan politik maupun ekonomi.
“Saya melihat perang ini nggak akan selesai dalam empat minggu atau satu bulan ke depan,” kata Luhut, dikutip Pojoksatu.id dari Instagram @luhut.pandjaitan.
Luhut menjelaskan bahwa bangsa Iran memiliki karakter kuat yang sudah terbentuk selama ribuan tahun sejarah peradaban mereka.
Menurutnya, Iran merupakan negara yang tidak pernah dijajah dalam waktu yang sangat panjang sehingga mentalitas masyarakatnya sangat kuat ketika menghadapi tekanan dari luar.
“Karena kita harus kenal bangsa Iran ini. Bangsa Iran ini bangsa yang tidak pernah dijajah ribuan tahun. Dan kalau kita lihat sejarahnya, ini bangsa ini fighters,” ujar Luhut
Ia juga menyinggung fakta bahwa Iran telah menghadapi embargo ekonomi selama puluhan tahun, namun negara tersebut tetap mampu bertahan.
Situasi itu menunjukkan bahwa tekanan ekonomi maupun militer tidak serta-merta membuat Iran melemah.
“Dia diembargo hampir empat dekade loh. Dia ndak pernah goyang itu,” katanya lagi.
Karena itu, Luhut menilai konflik yang terjadi saat ini tidak bisa dilihat sebagai konflik biasa.
Menurutnya, perang bisa berlangsung lama apabila dua faktor utama tidak tercapai, yakni penghancuran total sistem persenjataan Iran atau perubahan rezim di negara tersebut.
Jika dua hal itu tidak terjadi, maka konflik berpotensi berkepanjangan dan berdampak luas terhadap stabilitas global.
Situasi geopolitik ini juga menjadi perhatian banyak negara karena dampaknya tidak hanya pada keamanan kawasan, tetapi juga terhadap ekonomi dunia, terutama sektor energi.***




