POJOKSATU.id - Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan Indonesia agar tetap berhati-hati dalam menyikapi dinamika geopolitik global.
Khususnya terkait konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Menurut Luhut, Indonesia tidak memiliki kepentingan untuk ikut terseret dalam konflik tersebut.
Baca Juga: Luhut Sebut Perang Iran vs Amerika-Israel Tak Akan Selesai Sebulan, Mereka Bangsa Petarung!
Karena itu, ia menegaskan pentingnya menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini dianut Indonesia.
Hal itu disampaikan Luhut dalam sebuah pernyataan yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya.
Ia menilai Indonesia harus mempertimbangkan berbagai faktor geopolitik sebelum mengambil sikap dalam konflik internasional.
Termasuk hubungan dengan negara-negara besar dan negara di kawasan Timur Tengah.
“Kita jangan jadi ikut musuhan sama dia. Ya nggak ada gunanya kan,” kata Luhut, dikutip Pojoksatu.id dari Instagram @luhut.pandjaitan.
Luhut menegaskan bahwa prinsip non-blok atau non-alignment masih sangat relevan bagi Indonesia di tengah persaingan geopolitik global yang semakin kompleks.
Baca Juga: Luhut Sebut Perang Iran vs Amerika-Israel Tak Akan Selesai Sebulan, Mereka Bangsa Petarung!
Menurutnya, posisi tersebut memungkinkan Indonesia tetap menjaga hubungan baik dengan berbagai negara tanpa harus berpihak dalam konflik internasional.
“Jadi sebagai non-alignment itu non-blok itu memang Indonesia harus hati-hati menyusun strategi luar negerinya,” ujar Luhut.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia tidak bisa sembarangan memilih keberpihakan dalam konflik internasional.
Sebab, keputusan tersebut dapat berdampak luas terhadap hubungan diplomatik maupun kepentingan ekonomi nasional.
“Tidak bisa kita mau berpihak ke Amerika, kita masak musuhan dengan negara Islam,” katanya.
Baca Juga: Luhut Sebut Perang Iran vs Amerika-Israel Tak Akan Selesai Sebulan, Mereka Bangsa Petarung!
Menurut Luhut, kebijakan luar negeri Indonesia harus disusun secara hati-hati dengan mempertimbangkan kepentingan nasional dalam jangka panjang.
Selain itu, Indonesia juga harus memperhitungkan hubungan strategis dengan berbagai negara yang memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi nasional.
Karena itu, ia menilai pendekatan non-blok masih menjadi strategi yang tepat bagi Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik dunia yang semakin tidak menentu.***




