POJOKSATU.id – Meski dijuluki ‘negeri seribu pulau’ dengan limpahan air bersih alami.
Indonesia ternyata masih melakukan impor air minum dalam kemasan (AMDK) .
Sebuah fakta yang memunculkan pertanyaan mendalam mengapa negara dengan potensi air melimpah tega membeli dari luar?
Baca Juga: Kemenhaj RI Segera Buka Rekrutmen Petugas Haji 2026, Catat Jadwal dan Syarat Lengkapnya
Surplus tapi tetap impor
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin).
sepanjang Januari hingga Agustus 2025, nilai impor AMDK mencapai sekitar US$ 4,14 juta (setara ± Rp 69 miliar, kurs ~Rp 16.701).
Sementara itu, pada periode yang sama industri dalam negeri mencatatkan ekspor AMDK sebesar US$ 16,85 juta (± Rp 281,8 miliar).
Untuk tahun 2024, neraca perdagangan industri AMDK tercatat surplus US$ 19,46 juta (± Rp 324 miliar)
Dengan kapasitas produksi lokal yang besar 707 pabrik tersebar di 36 provinsi.
Baca Juga: Rencana Kenaikan Tarif TransJakarta Pramono Anung Minta Kajian Matang Sebelum Diputuskan
Dengan kapasitas total 47 miliar liter per tahun dan utilisasi 71,62 % pada 2024.
Fakta produksi lokal besar, ekspor naik, namun masih ada impor. Di sinilah letak ironi.
Kenapa bisa terjadi?
Beberapa faktor bisa menjelaskan paradoks ini
Segmen premium & niche Impor AMDK tidak berarti kebutuhan dasar belum terpenuhi.
Melainkan ada segmen khusus konsumen yang memilih merek atau kemasan asing (misalnya air mineral dari Prancis, Italia).
Data menunjukkan salah satu kode HS untuk air mineral (HS 22011010).
Mencatat impor US$ 1,742 juta pada Januari–Mei 2025.
Branding dan gaya hidup konsumsi.
Konsumen urban semakin mengaitkan merek asing atau kemasan eksklusif dengan status sosial atau gaya hidup premium.
Survei menunjukkan 40,64% rumah tangga Indonesia pada 2023 menggunakan air kemasan sebagai sumber utama air minum.
Spesifikasi atau fitur produk berbeda Air impor mungkin menawarkan fitur tertentu (misalnya pH tinggi.
Asal mata air luar negeri, kemasan mewah) yang sulit ditiru oleh produk lokal di segmen tertentu.
Segmentasi pasar berbeda Industri lokal mungkin lebih fokus pada volume massal (air minum harian).
Sedangkan impor masuk ke segmen eksklusif atau niche.
Dampak dan implikasi
Ironi ini membawa beberapa implikasi penting:
Bagi industri lokal Meskipun kapasitas besar, persaingan pada segmen premium menjadi tantangan.
Potensi kehilangan pasar premium ke produk impor bisa menghambat percepatan nilai tambah industri.
Bagi ekonomi nasional Meskipun nilai impor relatif kecil dibanding ekspor.
namun tetap menunjukkan adanya ruang yang belum tertangani oleh produk lokal.
Bagi konsumen Kemungkinan mengindikasikan bahwa produk lokal belum memenuhi segala preferensi.
(kemasan, asal, branding) konsumen kelas menengah-atas.
Bagi kebijakan Pemerintah perlu mengevaluasi aspek kualitas, inovasi, branding, dan regulasi agar produk lokal bisa masuk ke semua segmen, termasuk premium.
Bagi lingkungan dan sosial Produksi air dalam kemasan di dalam negeri memiliki dampak terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar sumber air.
Menjawab pertanyaan besar
“Negara kaya air, tetapi masih impor air minum?”
Baca Juga: Tahun 2026, Status Honorer Dihapus, Semua Diubah Jadi PNS atau PPPK
Jawabannya Ya namun bukan karena kekurangan air secara mutlak.
Melainkan karena faktor pasar, preferensi, dan branding, serta segmentasi produk.
Produksi lokal cukup untuk volume massal, tapi belum selalu menang di segmen premium yang dicari sebagian konsumen.
Dengan kapasitas besar dan utilitas tinggi.
Industri lokal memiliki potensi besar untuk menguasai semua lapisan pasar jika mampu meningkatkan nilai tambah dan kualitas merek.
Indonesia memiliki semua modal sumber air melimpah, kapasitas produksi besar, industri yang ekspornya naik.
Baca Juga: Tahun 2026, Status Honorer Dihapus, Semua Diubah Jadi PNS atau PPPK
Namun, fakta bahwa masih ada impor AMDK menandakan ada celah di segmen premium, di aspek branding, atau di spesifikasi produk.
Tantangan ke depan bagaimana produk lokal.
Tidak hanya memenuhi kebutuhan harian tetapi juga merebut hati konsumen yang mencari “air kemasan ala luar negeri”.
Baca Juga: Belanja Daerah Lambat, Menkeu Purbaya Dorong Pemda Gunakan Dana yang Mengendap di Bank
Jika bisa, maka ironinya akan teratasi: negara kaya air tak lagi membeli dari luar.***




