POJOKSATU .ID - Bencana longsor kembali menerjang Kabupaten Banjarnegara.

Tebing setinggi puluhan meter di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, runtuh dan menimpa permukiman warga.

Sedikitnya 20 rumah terdampak, satu orang dilaporkan meninggal dunia, dan dua warga lainnya terjebak material longsor saat kejadian berlangsung.

Baca Juga: Ditjen GTK Resmikan Ujian Susulan bagi Peserta PPG TUK UMSU yang Jadwalnya Berubah, ini Penjelasannya!

Korban meninggal diketahui bernama Klewih (40), sementara dua warga lain masih dalam proses evakuasi.

Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, hingga relawan turun ke lokasi untuk melakukan pencarian.

Namun upaya itu terkendala karena tanah di lokasi masih labil dan bergerak sehingga sangat berbahaya bagi petugas.

Baca Juga: Ditjen GTK Resmikan Ujian Susulan bagi Peserta PPG TUK UMSU yang Jadwalnya Berubah, ini Penjelasannya!

Selain itu, hujan deras yang terus turun membuat proses evakuasi tidak bisa dilakukan secara maksimal.

Bencana ini memaksa sedikitnya 480 warga atau 180 KK mengungsi ke lokasi aman yang telah disiapkan pemerintah daerah.

Mereka ditempatkan di beberapa titik pengungsian darurat yang dilengkapi dapur umum serta fasilitas kesehatan.

Baca Juga: Bahaya Learning Loss: Mengapa Murid Kesulitan Literasi Dasar Terutama Pasca Pandemi

Jumlah pengungsi diperkirakan masih dapat bertambah seiring pendataan lanjutan BPBD.

Tak hanya warga yang mengungsi, sebanyak 45 jiwa di beberapa dusun juga masih terisolasi akibat akses jalan yang tertutup material longsor.

Jalan utama menuju permukiman lumpuh total dan hanya dapat ditembus dengan alat berat, yang sampai saat ini belum bisa masuk karena kondisi tanah yang masih labil.

Baca Juga: Prof Nunuk Beberkan Dua Kunci Utama Pengangkatan Guru PPPK Paruh Waktu Jadi Full Time, Ini Penjelasannya

Longsor di Banjarnegara kali ini dipicu hujan intensitas tinggi yang turun selama berjam-jam.

Wilayah Banjarnegara memang termasuk zona merah bencana longsor.

BNPB sebelumnya telah memetakan sejumlah daerah di kabupaten tersebut sebagai lokasi berisiko tinggi, mengingat kondisi geografis Banjarnegara yang didominasi perbukitan curam.

BPBD Banjarnegara mengingatkan bahwa hujan deras menjadi pemicu utama pergerakan tanah, terutama di wilayah lereng yang sudah jenuh air.

Baca Juga: 5 Beasiswa Kuliah Gratis dari Kampus untuk Siswa SMA, Semua Biayanya Ditanggung Penuh

Warga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda awal longsor seperti retakan tanah, suara gemuruh, hingga kemunculan mata air baru di lereng.

Imbauan ini sangat relevan mengingat dalam beberapa tahun terakhir, Banjarnegara sering mengalami bencana serupa.

Selain itu, longsoran lain juga terjadi di sejumlah kecamatan.

Di Desa Badakarya, Kecamatan Punggelan, tebing setinggi 8 meter runtuh dan menutup seluruh akses jalan kabupaten.

Baca Juga: Empat Pelaku Penganiayaan Anak Disabilitas hingga Tewas Diringkus Polres Karawang

Sementara di Kecamatan Sigaluh, material longsor menutup jalan nasional dan menyebabkan kemacetan panjang.

Situasi ini menunjukkan bahwa bencana yang terjadi bersifat meluas dan memengaruhi banyak titik di Banjarnegara.

Pemerintah daerah kini fokus pada penyelamatan warga, pemulihan akses jalan, serta penanganan pengungsi.

Kebutuhan mendesak saat ini berupa logistik, selimut, obat-obatan, dan pelayanan psikososial untuk warga yang kehilangan rumah.

Bencana longsor Banjarnegara kembali mengingatkan bahwa mitigasi jangka panjang harus diprioritaskan.

Penataan lereng, penguatan vegetasi, hingga relokasi warga dari zona rawan perlu menjadi agenda serius agar tragedi berulang dapat dicegah.***