POJOKSATU.id - Tanah longsor melanda Kampung Babakan Cibudah, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026.

Bencana ini terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Bandung Barat sejak Jumat, 23 Januari 2026.

Kondisi tersebut memicu longsor besar sekitar pukul 03.00 WIB, disertai aliran banjir bandang dari kawasan perbukitan.

Material longsor dan lumpur menerjang permukiman warga, merusak infrastruktur, hingga memutus sejumlah akses jalan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun menetapkan Status Tanggap Darurat sejak 23 Januari 2026 selama 14 hari.

Baca Juga: Menteri Hanif Bongkar Fakta Mengejutkan di Cisarua, Kawasan Longsor Dipenuhi Sayuran Asal Amerika Selatan

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Komisaris Besar Hendra Rochmawan mengatakan terdapat 25 jenazah korban longsor yang telah ditemukan.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 11 jenazah telah berhasil diidentifikasi, sementara sisanya masih menjalani proses post mortem di pos Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jabar.

Berdasarkan data keseluruhan, sebanyak 113 jiwa terdampak dalam peristiwa ini.

Sebanyak 23 orang ditemukan selamat, sehingga masih terdapat 65 orang yang belum ditemukan sejak kejadian berlangsung.

Berdasarkan keterangan tertulis BPBD Provinsi Jawa Barat, bencana di Cisarua telah menimbun sekitar 30 rumah yang berada di dua rukun tetangga, yakni RT 05 RW 11 Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua.

Per Minggu, 25 Januari 2026, posko pengungsian di Kantor Desa Pasirlangu dipadati sekitar 680 jiwa.

Baca Juga: Badai Musim Dingin Lumpuhkan Listrik Murmansk, Rusia Tetapkan Status Darurat

Selain warga yang rumahnya tertimbun atau rusak di RW 10 dan RW 11, warga dari RW 12 yang berada di sekitar lokasi kejadian juga turut mengungsi karena khawatir terjadi longsor susulan.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menduga pergeseran tanah terjadi akibat alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan intensif yang dipicu oleh urbanisasi.

Menurutnya, urbanisasi yang masif di kota-kota membawa perubahan pola konsumsi, sehingga mendorong pertanian merambah wilayah perbukitan.

“Kita sebenarnya karakternya tidak seperti itu. Tahun 2025 dulu tidak semasif ini, sehingga ini membawa dampak pertanian naik ke gunung dan membuka lahan pertanian seperti ini,” ujarnya.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria menyebut Desa Pasirlangu termasuk dalam zona kerentanan gerakan tanah menengah.

Gerakan tanah dapat terjadi terutama pada lereng yang telah terganggu secara alami maupun oleh aktivitas manusia, khususnya saat curah hujan tinggi dan berlangsung lama.

Baca Juga: Noel Buka Isu Panas, KPK Langsung Balas: Ungkap di Pengadilan, Jangan di Luar!

Ia menjelaskan, karakteristik batuan gunung api tua yang telah lapuk serta keberadaan struktur geologi memperbesar kerentanan wilayah ini terhadap longsor.

Selain itu, aktivitas pemotongan lereng untuk permukiman dan akses jalan, serta sistem drainase yang belum memadai, turut memengaruhi kestabilan lereng.

Di balik angka-angka korban, tersimpan kisah duka dan harapan dari ratusan keluarga yang kini menggantungkan nasib pada proses pencarian.
Doa dan solidaritas terus mengalir, mengiringi upaya agar para korban segera ditemukan dan para penyintas dapat kembali bangkit dari bencana ini.***