POJOKSATU.id, JAKARTA-- Lima warga negara Indonesia (WNI) diculik Tentara Israel saat berupaya menembus blokade Gaza melalui misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF).

Empat WNI yang ditangkap Israel merupakan jurnalis atau wartawan, sementara satu orang lagi merupakan relawan Rumah Zakat.

Steering Committee Global Sumud Flotilla asal Indonesia Maimon Herawati, Selasa (19/5) mengatakan, lima WNI yang ditangkap terdiri dari Toudy Badai Rifan dan Bambang Noroyono dari media Republika, Rahendro Herubowo dari media iNews, Andre Prasetyo dari media Tempo, serta seorang relawan Rumah Zakat bernama Angga.

Baca Juga: Iran Ancam Buat Senjata Nuklir Jika Kembali Diserang AS, Bisa Perkaya Uranium Kemurnian 90 Persen

Maimon menyebutkan, kondisi para WNI tersebut diduga masih aman berdasarkan video yang dirilis Kementerian Luar Negeri Israel.

“Tapi kami belum bisa menghubungi satupun di atas kapal yang sudah dikonfirmasi dibajak,” tuturnya.

Maimon juga membantah kabar bahwa kapal yang membawa WNI terkena penembakan. Menurutnya, insiden penembakan terjadi di kapal lain yang tidak ditumpangi warga Indonesia.

Diduga Dibawa ke Asdod

Dia menduga para WNI kemungkinan dibawa ke Pelabuhan Asdod, Israel, atau ke Siprus sebagaimana insiden serupa sebelumnya.

Baca Juga: Satgas Citarum Harum Sidak PT BMJ Karawang, Hasil Uji Limbah Cair Dipastikan Aman

Jika itu terjadi, komunikasi dengan para relawan dan jurnalis kemungkinan akan difasilitasi melalui tim pengacara.

Sementara itu, empat WNI lainnya dipastikan masih melanjutkan pelayaran menuju Gaza menggunakan dua kapal berbeda.

“Masih ada dua kapal yang berlayar yang membawa warga negara Indonesia, yaitu kapal Kastri Sadabad dan kapal Zephyro. Di kapal Zephyro ada Ronggo dan Herman, sedangkan di kapal Kastri Sadabad ada As’ad dan Hendro,” kata Maimon.

Kemlu Membenarkan

Kemlu RI mengonfirmasi lima warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan International Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 telah ditangkap militer Israel di sekitar perairan Siprus dan Mediterania Timur.

Juru Bicara I Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, mengatakan tindakan Israel terhadap para relawan kemanusiaan itu merupakan pelanggaran serius terhadap semangat kemanusiaan internasional dan upaya penyaluran bantuan bagi rakyat Palestina.

“Kementerian Luar Negeri mengutuk keras tindakan militer Israel yang mencegat sejumlah kapal dan menangkap relawan WNI yang tergabung dalam rombongan Misi Kemanusiaan International Global Sumud Flotilla atau GSF 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur,” ujar Yvonne dalam pernyataan video, Selasa, 19 Mei 2026.

Kemlu mencatat, dari total sembilan WNI anggota Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) yang mengikuti misi tersebut, lima orang telah ditangkap oleh militer Israel.

Sementara empat WNI lainnya yang berada di dua kapal berbeda masih terus berlayar di sekitar perairan Siprus dalam situasi yang dinilai sangat rawan.

Sebagai langkah antisipasi, Kemlu RI telah berkoordinasi dengan sejumlah perwakilan Indonesia di luar negeri, termasuk KBRI Ankara, KBRI Cairo, KBRI Roma, KBRI Amman, dan KJRI Istanbul.

Pemerintah juga menyiapkan penerbitan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) apabila dokumen para WNI disita, hingga dukungan medis bila dibutuhkan.

Indonesia turut bergabung bersama sembilan negara lain, yakni Turki, Bangladesh, Brasil, Kolombia, Jordania, Libya, Maladewa, Pakistan, dan Spanyol dalam pernyataan bersama yang mengecam tindakan Israel terhadap GSF 2.0.

Kemlu RI mendesak Israel segera membebaskan seluruh awak dan kapal misi kemanusiaan internasional serta menjamin penyaluran bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional.***