POJOKSATU.id — Upaya menemukan lima jurnalis yang belum diketahui keberadaannya terus dilakukan oleh tim SAR Banten.

Dua unit drone termal disiapkan untuk mendukung pencarian di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.

Kelima jurnalis tersebut sebelumnya diketahui melakukan perjalanan menggunakan kapal cepat dari perairan Carita, Pandeglang, menuju kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau.

Setelah itu, komunikasi dengan mereka dilaporkan terputus.

Koordinator Operasi SAR, Rizky Dwianto, menyampaikan bahwa kegiatan pencarian akan kembali dimulai pada pukul 07.00 WIB.

Baca Juga: Jakarta Pusat Job Connect 2026 Buka Ribuan Lowongan Kerja, Cek Jadwal dan Cara Daftar

Operasi tersebut melibatkan sejumlah personel dan armada dari berbagai unsur.

Rizky menjelaskan, tim sebenarnya dapat memanfaatkan dukungan pesawat atau helikopter untuk melakukan pencarian dari udara.

Namun, kondisi belum memungkinkan karena sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau masih berada di wilayah tersebut.

Situasi itu membuat tim memilih drone termal sebagai alternatif.

Dua perangkat tersebut sudah berada di KN SAR Tetuka dan akan dimanfaatkan untuk melakukan pemantauan udara di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Baca Juga: Skor PISA Indonesia 2025 Naik, Tapi Peringkat Matematika Turun, Indonesia Masih di Posisi 70-an, Ini Dampaknya Bagi Pendidikan

Teknologi termal pada drone diharapkan dapat membantu tim memperluas pemantauan terhadap area yang menjadi sasaran pencarian.

Sebelumnya, KN SAR Tetuka telah melakukan penyisiran hingga sekitar pukul 22.00 WIB pada Selasa, 8 September 2026.

Setelah kegiatan tersebut dihentikan, kapal kemudian menuju dan bersandar di Pelabuhan Ciwandan, Cilegon.

Penghentian pencarian pada malam hari dilakukan karena kondisi di lapangan dinilai tidak cukup aman.

Keadaan laut yang kurang bersahabat serta jarak pandang yang terbatas menjadi pertimbangan utama tim SAR.

Baca Juga: Cara Cek Nomor NPWP Online dengan Mudah, Bisa Lewat Coretax dan M-Pajak

Dalam pencarian tersebut, sejumlah kendaraan air turut diterjunkan.

Tim mengoperasikan dua speedboat, RIB 02 Banten, KN SAR Tetuka, serta satu RIB yang didatangkan dari Lampung.

Selain melakukan penyisiran di laut, tim juga memperluas koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

Langkah ini dilakukan untuk menelusuri kemungkinan kapal yang ditumpangi para jurnalis telah merapat di lokasi tertentu.

Tim turut mengantisipasi kemungkinan kapal tersebut berhenti di pulau-pulau kecil atau dermaga yang belum terpantau dalam pencarian sebelumnya.

Adapun kabar yang menyebut kemungkinan kelima jurnalis berada di Pulau Sebesi masih ditelusuri.

Baca Juga: Karpet Sering Dicakar Kucing? Begini Cara Menghentikan Kebiasaannya

Hingga saat ini, tim SAR belum memperoleh kepastian mengenai informasi tersebut.

Nelayan serta warga di sekitar wilayah pencarian juga akan dilibatkan dalam operasi.

Keberadaan mereka diharapkan dapat membantu tim memperoleh informasi tambahan mengenai pergerakan kapal maupun kondisi perairan setempat.

Posko operasi pencarian Kantor SAR Banten mencatat terdapat lima unit alat utama yang disiapkan untuk mendukung operasi.

Seluruh sarana tersebut berada dalam kondisi siap dikerahkan.

Lima alut itu meliputi KN SAR Tetuka dan RIB 02 Banten dari Basarnas Banten, RIB Lampung milik Basarnas Lampung, KAL Anyer dari Lanal Banten, serta ambulans FBN Banten.

Kekuatan pencarian tidak hanya berasal dari armada. Tim SAR juga mendapatkan dukungan dari berbagai unsur yang tergabung dalam operasi gabungan.

Baca Juga: Nonton Rail Futsal di Tuparev Cirebon, Tiket Kereta Api Bisa Dapat Diskon 20 Persen

Secara keseluruhan, terdapat 16 unsur yang ikut mendukung proses pencarian, di antaranya USS Pandeglang, Kantor SAR Banten, personel KN SAR Tetuka, Polsek Carita, Ditpolairud Polda Banten, Lanal dan Posal Sumur/Labuan, Ditpolairud Mabes Sanjaya, Babinsa Carita, Satpol PP, pemerintah desa, Potsar Banten, Balawista, Kecamatan Carita, media lokal, serta nelayan dan masyarakat.

Dengan melibatkan berbagai armada dan unsur tersebut, operasi pencarian diharapkan dapat berjalan lebih luas dan efektif.

Namun, seluruh kegiatan tetap akan disesuaikan dengan kondisi perairan, jarak pandang, cuaca, serta perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau demi menjaga keselamatan tim di lapangan.***