POJOKSATU.ID - Pada Jumat, 7 November 2025, sebuah ledakan terjadi di masjid sekolah SMAN 72, Kompleks TNI AL Kodamar, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara.

Meski sebagian korban mengalami luka fisik, dampak yang paling tak kasatmata namun sangat penting adalah trauma psikologis yang menyertai kejadian tersebut.

Menurut Kapolda Metro Jaya, korban yang mengalami luka-luka telah mencapai 54 orang.

Saksi mata dan pengelola sekolah menyebut belasan siswa berada dalam masjid atau di selasar masjid saat ledakan terjadi.

Baca Juga: P3K Bisa Jadi PNS? Begini Syarat, Aturan, dan Harapan Terbarunya

Trauma yang dialami siswa, guru, dan petugas sekolah ini bukan hanya soal suara ledakan atau luka bakartetapi rasa aman yang tiba-tiba terguncang.


Reaksi Psikologis Umum di Kalangan Siswa

Sejumlah efek psikologis yang mungkin muncul setelah insiden ini antara lain:

Kecemasan dan ketakutan berulang Suara keras, bau terbakar, atau bayangan asap bisa memicu flashback pada siswa yang berada dekat TKP.

Baca Juga: Menghadapi Dunia dengan Logika: Mengapa Numerasi penting untuk Semua Profesi

Hipervigilansi Perasaan harus selalu waspada terhadap potensi bahaya, sehingga sulit fokus belajar atau menjalani aktivitas normal.

Gangguan tidur atau mimpi buruk Siswa yang mengalami atau menyaksikan ledakan mungkin kesulitan tidur atau terbangun sering.

Penurunan performa akademik Konsentrasi dan motivasi belajar bisa menurun karena kondisi emosional yang belum pulih.

Perubahan perilaku Contohnya menarik diri dari teman, takut ke sekolah atau ruangan masjid, atau menolak aktivitas keagamaan bersama.

Guru BK dan psikolog sekolah perlu mewaspadai tanda-tanda ini agar pendampingan bisa dilakukan sedini mungkin.


Tugas Sekolah dan Dinas Layanan Pemulihan yang Dibutuhkan

Untuk membantu pemulihan siswa dan guru pasca-insiden, beberapa langkah penting harus dijalankan:

Baca Juga: Kesenjangan Pencairan PKH Tahap 4, Mengapa Pulau Jawa Cepat Sedangkan Daerah 3T Tertinggal?

1. Sesi pendampingan psikologis terstruktur

Sekolah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk menghadirkan psikolog klinis atau konselor trauma.

Sesi bisa dalam kelompok kecil atau individu, fokus pada coping-mechanism dan pemulihan kepercayaan diri siswa.

2. Pelibatan orang tua dan guru

Orang tua diundang untuk sesi sharing agar mereka paham tanda-tanda trauma dan bisa mendukung anak di rumah.

Guru diberi pelatihan singkat untuk mengenali gejala stres pasca-trauma dan cara sederhana menenangkan siswa di kelas.

Baca Juga: Adian Napitupulu, Jangan Nodai Sejarah dengan Gelar Pahlawan untuk Soeharto

3. Kegiatan normalisasi lingkungan sekolah

Aktivitas rutin seperti apel pagi, pembelajaran, ekstrakurikuler perlu dipercepat agar siswa kembali ke rutinitas.

Masjid sekolah yang terdampak perlu dibuka kembali dengan pengamanan tambahan agar siswa tidak takut beribadah.

4. Komunikasi transparan dan penguatan rasa aman

Pihak sekolah dan aparat keamanan perlu memberikan update ke siswa dan orang tua tentang hasil penyelidikan dan langkah keamanan.

Pemasangan rambu-rambu evakuasi, identifikasi jalur aman, dan simulasi tanggap darurat bisa memperkuat rasa aman.


Mengapa Pendampingan Trauma Penting untuk Sekolah?

Trauma yang tidak tertangani dapat memengaruhi perkembangan anak secara jangka panjang: dari prestasi menurun, hingga masalah emosional yang makin kompleks.

Baca Juga: Dandim: Tak Ada Toleransi bagi Pelanggar Hukum di Kodim 0604/Karawang

Dalam konteks sekolah, menjaga kesehatan mental siswa sama pentingnya dengan menjaga kondisi fisik dan fasilitas sekolah. Siswa tidak akan tampil optimal jika hatinya penuh rasa takut.

Lingkungan sekolah yang aman secara psikologis juga mendukung proses pembelajaran inklusif kunci bagi sekolah negeri di kota besar seperti Jakarta untuk tetap ramah dan mendukung bagi semua siswa.

Ledakan di Masjid SMAN 72 Jakarta Utara bukan hanya tragedi fisik, namun terutama tantangan psikologis bagi siswa, guru dan seluruh komunitas sekolah.

Sekolah bersama Dinas Pendidikan dan psikolog harus segera menjalankan pendampingan psikologis, memperkuat rutinitas sekolah, dan membangun kembali rasa aman di lingkungan belajar.

Karena, di balik bangunan sekolah yang megah, ada jiwa-jiwa muda yang membutuhkan bimbingan dan kepastian bahwa mereka aman untuk belajar, aman untuk tumbuh.***