POJOKSATU.ID - Kebakaran besar yang menelan puluhan korban jiwa di Gedung Terra Drone, Jakarta Pusat, pada Selasa (9/12) menyisakan kronologi yang mengerikan.
Dari hasil penyelidikan awal, api diduga berasal dari baterai yang tersimpan di lantai 1, tepatnya di area gudang.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah jam makan siang, saat banyak pegawai sedang beraktivitas di dalam gedung tujuh lantai itu.
Baca Juga: Terungkap, Mengapa Asap dari Lantai 3 Mengurung Korban di Gedung Terra Drone Kemayoran
Saksi dan petugas menyebut api pertama kali muncul sekitar pukul 12.30–12.40 WIB.
Ledakan kecil terdengar dari arah penyimpanan baterai yang diduga baterai drone maupun perangkat elektronik lainnya sebelum api menjalar ke ruangan di lantai dasar.
Dalam hitungan menit, asap hitam pekat naik menyelimuti lantai dua dan tiga, membuat pegawai panik dan berusaha menyelamatkan diri.
Baca Juga: Dosen UGM Raih Best Greenship Innovation 2025, Jadi Model Bangunan Kayu Rendah Emisi
Beberapa pegawai sempat berlarian menuju tangga utama, namun jalur itu segera dipenuhi asap.
Sejumlah karyawan memutuskan naik ke lantai lebih tinggi untuk mencari udara segar, tetapi langkah tersebut justru membuat mereka terjebak lebih jauh di dalam gedung.
Asap yang semakin pekat mengisi seluruh ruangan dan membuat pandangan terbatas, sementara api merambat ke bagian tengah gedung dengan cepat.
Baca Juga: Kesaksian Warga Sekitar Gedung Terra Drone: Sedih Banget, Kantong Jenazah Terus Datang
Di sisi luar gedung, video warga menunjukkan momen dramatis ketika para pegawai turun menggunakan tangga besi kecil yang menempel di dinding gedung.
Tangga tersebut sejatinya bukan jalur evakuasi resmi, namun menjadi satu-satunya jalan keluar bagi mereka yang terperangkap asap.
Petugas pemadam kebakaran yang datang dengan puluhan unit langsung berusaha menyelamatkan korban yang masih terlihat di tepian jendela.
Baca Juga: Mengupas Gedung Terra Drone Kemayoran, Pusat Operasional Drone yang Berujung Tragedi Kebakaran Maut
Namun upaya tersebut tidak cukup menyelamatkan semuanya. Hingga pemeriksaan terakhir, 22 orang dinyatakan tewas.
Banyak korban ditemukan dalam kondisi tidak menunjukkan luka bakar parah, melainkan lemas akibat menghirup asap dan kekurangan oksigen.
Jenazah kemudian dibawa ke RS Polri untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Baca Juga: Mengupas Gedung Terra Drone Kemayoran, Pusat Operasional Drone yang Berujung Tragedi Kebakaran Maut
Petugas pemadam mengakui medan yang sulit membuat proses evakuasi berjalan lambat.
Asap yang terlalu tebal, ruangan tertutup, serta struktur bangunan yang mulai melemah menjadi tantangan besar bagi tim penyelamat.
Sementara itu, aparat kepolisian telah memasang garis pembatas dan mengamankan area untuk keperluan penyidikan lebih mendalam.
Indikasi awal mengarah pada baterai overheat atau korsleting sebagai pemicu kebakaran. Hal ini masih harus dipastikan melalui pemeriksaan forensik.
Baca Juga: Kebakaran Landa Ruko Perkantoran di Cempaka Baru, Jakarta Pusat: 20 Korban Dikabarkan Meninggal
Namun para ahli keselamatan menilai bahwa penyimpanan baterai lithium atau perangkat berdaya tinggi harus mengikuti standar ketat, karena risiko kebakarannya sangat besar jika penanganan tidak tepat.
Tragedi ini menjadi alarm keras bagi perusahaan-perusahaan yang bekerja dengan perangkat elektronik berisiko tinggi.
Sistem deteksi asap, jalur evakuasi yang memadai, hingga edukasi darurat bagi seluruh karyawan kini harus menjadi perhatian serius untuk mencegah kejadian serupa terulang.***




