POJOKSATU.id, JAKARTA-- DPW LDII Jawa Tengah bekerja sama dengan Badan Kesbangpol Jawa Tengah menggelar Silaturrahim Kebangsaan Jilid III di Hotel Santika, Semarang, Jateng, Sabtu (29/7/2023).

Dalam sambutannya, Ketua DPW LDII Singgih Tri Sulistiyono mengingatkan pentingnya eksistensi bangsa untuk bisa menjaga toleransi terhadap perbedaan.

“Sejarah kita bertutur mengenai bangkit dan jatuhnya kerajaan-kerajaan. Jangan sampai NKRI bernasib sama, karena bangsa yang plural selalu rawan dengan konflik dan perpecahan,” tutur Singgih.

Menurutnya, bangsa Indonesia memiliki tantangan besar menjaga Empat Pilar Kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Pastikan Bakal Melanjutkan Program Jokowi : Tidak Mungkin Dihentikan

Agar pilar-pilar kebangsaan ini tidak hanya menjadi kiblat dalam merajut persatuan, maka perlunya mengawal Indonesia agar tidak gagal menjaga eksistensinya.

"Perlunya mengawal Indonesia agar tidak gagal menjaga eksistensinya," ujarnya.

Singgih kemudian memaparkan masih adanya potensi konflik dalam pluralitas di Indonesia.

Ia mengutip data Kementerian Agama mengenai Indeks Kerukunan 2021, yang diukur dalam tiga hal, yakni kesetaraan, kerja sama, dan toleransi.

"Toleransi masih rendah, padahal tokoh sekaligus pahlawan bangsa Sam Ratulangi mengatakan syarat mutlak membangun bangsa Indonesia adalah toleransi dan kesabaran sosial," tutur Singgih.

Baca Juga: Kisah Fidel Castro Teman Dekat Bung Karno yang Tahan Pidato Sampai 7,5 Jam

Sementara itu, Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Amir Yanto menjelaskan, keberagaman Indonesia dapat dipersatukan dengan ideologi dan asas Pancasila.

"Untuk itu tidak ada tempat bagi mereka yang tak bertuhan atau atheisme,” tegas Amir Yanto.

Ia juga mengingatkan, usulan untuk menghapuskan kolom agama bertentangan dengan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, bahkan seseorang tidak diketahui bertuhan atau tidak.

"Dari sisi hukum dengan menempatkan kolom agama, berarti melaksanakan prinsip hukum dalam Pancasila,” urai Amir.

Selain itu, kata dia, dengan berketuhanan, maka masyarakat memiliki hak untuk hidup berdampingan dan bertoleransi dengan agama lain.

"Dengan demikian, masyarakat bisa berpartisipasi dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur,” pungkasnya.

Seperti diketahui, dalam acara ini menampilkan para pembicara yakni Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Amir Yanto, Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Darmansjah Djumala, dan Kepala Badan Kesbangpol Haeruddin.

Perhelatan tersebut dihadiri 2.360 peserta secara daring yang tersebar di 40 studio. Sementara peserta yang hadir di Hotel Santika mencapai 200-an orang.

Para peserta yang mengikuti acara tersebut adalah para pengurus DPD LDII, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), dan para tokoh agama dan masyarakat.***