POJOKSATU.ID — Ekonomi Indonesia tampak hidup kembali di penghujung 2025.

Namun di balik grafik positif dan pernyataan optimistis, muncul tanda-tanda kebijakan ekonomi yang semakin berlapis.

Pemerintah dan Bank Indonesia kini bergerak serentak: satu sisi mendorong pertumbuhan lewat impor dan belanja fiskal.

Baca Juga: Tunjangan Belum Cair? Coba Cek, Jangan-jangan Kamu Lakukan 5 Kesalahan Ini di Info GTK!

sisi lain menjaga kestabilan dengan pembelian surat utang besar-besaran.

Langkah ganda ini membuat publik bertanya.

Apakah ini strategi jitu menjaga ekonomi tetap stabil, atau justru sinyal bahwa pemerintah sedang memadamkan api tekanan keuangan.


BI Borong Surat Utang, Pemerintah Longgarkan Belanja

Bank Indonesia (BI) mencatat telah membeli surat utang pemerintah senilai Rp270 triliun hingga Oktober 2025.

Baca Juga: Sulap Menara Pandang Jadi Perpustakaan Modern, Pemkot Depok Kejar Target Literasi 2027

Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga likuiditas sistem keuangan dan stabilitas pasar obligasi di tengah fluktuasi global.

Di sisi lain, pemerintah mempercepat realisasi belanja negara untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5%.

Kementerian Keuangan menilai langkah ini penting agar dunia usaha tidak kehilangan momentum di tengah pelemahan ekonomi global.

Baca Juga: Efek Samping MBG Niat Baik Bikin Gizi Naik, Malah Inflansi Jadi Naik!

Namun, langkah agresif kedua lembaga ini menimbulkan tanda tanya besar.

apakah ekonomi kita benar-benar kuat, atau justru sedang disokong oksigen tambahan dari kebijakan moneter dan fiskal yang longgar.


Kebijakan Ganda yang Rentan Berisiko

Pemerintah berharap belanja fiskal yang ekspansif mulai dari proyek infrastruktur, bantuan sosial.

Hingga program magang nasional dapat menstimulasi daya beli dan penciptaan lapangan kerja.

Sementara BI, lewat pembelian surat utang, memastikan pasar keuangan tidak terguncang oleh penarikan modal asing.

Baca Juga: Panggilan Energi dari Kota Sukabumi, PKK sebagai Pilar Utama Menuju Indonesia Emas

Jika BI terus membeli surat utang untuk membantu pemerintah, independensi moneter bisa dipertanyakan, dan pasar bisa membaca sinyal bahwa pemerintah sedang kesulitan pembiayaan.


Impor Melonjak, Sektor Riil Bergerak Tapi Ada Catatan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor Indonesia naik 7,17% year-on-year pada September 2025, dengan lonjakan terbesar berasal dari sektor bahan bakar, logam industri, dan komponen elektronik.

Kenaikan impor ini menandakan aktivitas industri meningkat, tapi juga menunjukkan ketergantungan tinggi pada bahan baku luar negeri.

Jika kenaikan impor tidak diimbangi dengan ekspor yang sepadan, defisit transaksi berjalan bisa melebar.

Baca Juga: Menteri dengan Skor Terendah Mengapa Bahlil Lahadalia Dikritik Malah Siap Hentikan Impor Solar 2026

Dan ketika BI harus menjaga kurs rupiah dengan intervensi di pasar valas, cadangan devisa bisa tertekan.

Langkah pemerintah memperbanyak belanja dan BI membeli surat utang menjadi kombinasi berisiko mirip dengan mengemudi cepat di jalan licin: bisa selamat, tapi juga mudah tergelincir jika tidak hati-hati.


Sinyal Pasar Optimistis Tapi Waspada

Pasar keuangan menilai kombinasi kebijakan ini masih positif untuk saat ini.

Baca Juga: Gaji Guru ASN Naik Besar-besaran 2025, Ini Rahasia Angka yang Tak Pernah Kamu Dengar dan Mekanisme Pelaksanaan

Yield obligasi pemerintah tetap stabil di kisaran 6,5–6,7%, sementara IHSG masih bergerak di atas level 7.000.

Namun, investor global mulai memperhatikan tingkat utang dan defisit fiskal Indonesia yang diprediksi melebar di atas 3% PDB pada akhir tahun.

Sejumlah ekonom juga memperingatkan bahwa ketergantungan pada stimulus fiskal tidak bisa berlangsung terlalu lama.

Baca Juga: TPG ASN Daerah 2025 Capai Rp14,7 Triliun, Tapi Banyak yang Belum Cair? Ini Data Lengkapnya!

Jika BI terus menambah pembelian SBN tanpa penyeimbangan di sisi ekspor dan produktivitas, efek “hangat sesaat” bisa berubah menjadi overheat ekonomi tumbuh cepat, tapi rapuh.


Pemerintah Optimistis, Tapi Rakyat Tetap Cemas

Menteri Keuangan menyebut kolaborasi BI dan pemerintah sebagai sinkronisasi kebijakan untuk stabilitas makro.

Namun bagi masyarakat, yang dirasakan bukan istilah teknis, melainkan harga barang di pasar.

Baca Juga: TPG Triwulan 3 Sudah Cair Tapi Belum Masuk Rekening? Ini Tahapan Lengkap di Info GTK yang Perlu Kamu Cek!

Ketika impor meningkat dan rupiah melemah, harga bahan bakar, sembako, hingga barang impor elektronik bisa ikut naik.


Strategi Tepat, Tapi Butuh Rem yang Siap Dipakai

Langkah ganda antara pemerintah dan Bank Indonesia bisa dibilang strategi berani tapi berisiko.

Keduanya berusaha menjaga agar ekonomi tetap tumbuh di tengah ketidakpastian global dari perlambatan China hingga suku bunga tinggi di AS.

Namun, keseimbangan ini harus dijaga dengan disiplin.

Baca Juga: Tak Perlu Antre Panjang, Begini Cara Booking Online Pendaftaran di Mal Pelayanan Publik Garut

Jika stimulus fiskal digeber tanpa pengendalian moneter yang hati-hati, inflasi bisa melonjak dan rupiah bisa kehilangan daya tahan.

Jadi, stabilitas ekonomi memang masih terjaga tapi seperti akrobat di atas tali, satu langkah salah bisa mengguncang keseimbangan seluruh sistem.***