POJOKSATU.id, JAKARTA— Laksamana Muda Tadashi Maeda adalah seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di masa pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia.
Laksamana Muda Maeda menjadi satu-satunya perwira tinggi militer Kekaisaran Jepang yang diberi penghargaan oleh Pemerintah Indonesia hingga kini.
Pada 17 Agustus 1977, Pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Naraya kepada Laksamana Maeda. Penganugerahan itu disampaikan oleh Duta Besar RI di Tokyo, Witono.
Baca Juga: 43 Tahun Berbaju Golkar, Surya Paloh Ngaku Tahu Kenapa Airlangga Tak Dukung Anies
Sementara pada 17 Agustus 1973, Laksamana Maeda juga diundang ke Indonesia untuk merayakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada saat itu.
Laksamana Maeda lahir pada 3 Maret 1898 dan meninggal pada 13 Desember 1977 pada usia 79 tahun.
Saat ini, rumah Laksamana Maeda telah dijadikan Museum Perumusan Naskah Proklamasi.
Tokoh Jepang Simpati ke Indonesia
Selama Jepang menduduki Indonesia, ia menjabat sebagai Kepala Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat Tentara Kekaisaran Jepang.
Laksamana Maeda menjadi salah satu tokoh Jepang yang simpati terhadap perjuangan rakyat Indonesia dan bersedia membantu persiapan kemerdekan Indonesia.
Ia bahkan mempertaruhkan nasibnya dan mengizinkan kediamannya dijadikan tempat perumusan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Dasar pertimbangan pemilihan kediaman Laksamana Muda Maeda sebagai tempat penyusunan teks proklamasi adalah karena rumah tersebut mempunyai hak imunitas terhadap Angkatan Darat Jepang, sehingga akan tetap aman.
Pada 16 Agustus 1945 malam hari, Soekarno-Hatta dibawa kembali ke Jakarta untuk merumuskan proklamasi.
Para tokoh langsung pergi ke rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat.
Awalnya, Laksamana Maeda mengusulkan agar Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo pergi menemui Kepala Staf Tentara Angkatan Darat ke-16, Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto.
Namun, karena Yamamoto tidak menerima kedatangan Soekarno-Hatta, Laksamana Maeda mengizinkan rumahnya untuk dijadikan tempat merumuskan naskah proklamasi.
Sebagai Kepala Perwakilan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, rumahnya merupakan tempat yang harus dihormati oleh angkatan perang Jepang, sehingga dapat dikatakan aman.
Memastikan perumusan proklamasi berjalan aman Laksamana Maeda tidak hanya mengizinkan rumahnya dijadikan tempat perumusan proklamasi, tetapi juga memastikan agar proses perumusan berjalan dengan aman dan lancar.
Ia pun menyiapkan pasukan di dalam rumah dinasnya agar kondisi terjaga dengan aman.
Alasan Laksamana Maeda membantu Indonesia adalah karena ia memiliki hubungan baik dengan Soekarno dan tokoh proklamasi lainnya.
Selain itu, ia berpendapat bahwa bangsa Indonesia harus menyatakan kemerdekaannya sendiri.
Laksamana Maeda sama sekali tidak menghalangi, bahkan membantu, saat para tokoh Indonesia menyusun teks proklamasi di kediamannya.
Setelah proklamasi kemerdekaan, ia pun sempat dipenjara oleh Sekutu karena dianggap membantu Indonesia mencapai kemerdekaannya.
Ikut Cari Soekarno-Hatta
Pada 16 Agustus 1945, diselenggarakan sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
Seharusnya, Soekarno-Hatta ikut hadir dalam sidang tersebut, tetapi mereka tidak datang.
Achmad Soebardjo berusaha mencari keberadaan keduanya dengan meminta bantuan dari Laksamana Maeda.
Tidak butuh waktu lama, dengan bantuan jaringan intelijen, lokasi Soekarno-Hatta diketahui, yaitu berada di Rengasdengklok.
Kala itu, Soekarno-Hatta tengah disembunyikan oleh golongan muda ke Rengasdengklok untuk menjauhkan keduanya dari pengaruh Jepang.
Achmad Soebardjo pun segera berangkat ke Rengasdengklok dan akhirnya berhasil membawa Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta.***




