POJOKSATU.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, menuai sorotan tajam setelah ratusan siswa SMK Swasta HKBP Sidikalang mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu yang disediakan sekolah.

Peristiwa ini terjadi pada Selasa (10/2/2026) dan langsung memicu kepanikan di lingkungan sekolah.

"Ratusan siswa dilaporkan harus mendapatkan perawatan medis di sejumlah fasilitas kesehatan, mulai dari RSUD Sidikalang, RSU Serenapitta, Klinik Katolik, hingga Puskesmas Huta Rakyat Sidikalang," dikutip dari instagram @medandailynews.

Baca Juga: Eks Ketua DPRD Bongkar Fakta Nikel Morowali: Kaya Raya, tapi Rakyat Tetap Menderita di Era Jokowi

Sebagian siswa bahkan terpaksa dirujuk ke rumah sakit karena kondisi yang dinilai cukup serius.

Keluhan kesehatan sebenarnya mulai dirasakan sejak Senin malam.

Para siswa mengeluhkan diare setelah mengonsumsi menu MBG yang terdiri dari nasi, ayam gulai, pisang, dan sayur selada.

Baca Juga: Tragis! Niat Cegah Klitih Berujung Petaka, 7 Warga Sleman Divonis 8 Sampai 10 Tahun Penjara dan Denda Rp1 Miliar

Sejumlah siswa juga mengaku mengalami mual, pusing, hingga lemas.

Menurut keterangan siswa dan guru, makanan yang dibagikan saat program MBG berlangsung tercium bau tidak sedap dan terlihat berlendir.

Kondisi tersebut membuat sebagian siswa memilih tidak menghabiskan makanan yang disajikan, bahkan ada yang sama sekali tidak menyentuhnya karena merasa ragu dengan kualitas menu.

Baca Juga: Rahasia Cair Rapel TPG 6 Bulan Terbongkar! Ternyata karena Deretan Hal Ini

Tenaga medis yang menangani para siswa menyebutkan bahwa sekitar 20 siswa harus dirujuk ke RSUD Sidikalang karena mengalami gejala lebih berat.

Beberapa di antaranya dilaporkan sempat mengalami penurunan kondisi hingga pingsan sebelum mendapatkan penanganan intensif.

Kepala sekolah dan guru SMK Swasta HKBP Sidikalang menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden ini.

Demi menjaga keselamatan dan kesehatan siswa, pihak sekolah memutuskan menolak kembali pendistribusian menu MBG pada hari Selasa (10/2/2026).

Keputusan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Baca Juga: Skandal Ekspor Limbah Sawit Buat 11 Tersangka Dijerat, Negara Boncos Rp 14 Triliun!

Di sisi lain, pihak penyedia layanan Makan Bergizi Gratis membantah tudingan bahwa makanan yang disalurkan dalam kondisi tidak layak.

Mereka mengklaim seluruh proses pengolahan hingga distribusi makanan telah dilakukan sesuai standar kebersihan dan dalam keadaan steril.

Meski demikian, insiden ini memicu kekhawatiran orang tua siswa dan masyarakat sekitar terkait pengawasan kualitas makanan dalam program MBG.

Baca Juga: Utang Whoosh Heboh Lagi, tapi Istana Fix Sebut akan Dibayar dengan APBN per Tahunnya!

Program yang sejatinya bertujuan meningkatkan asupan gizi pelajar justru dinilai perlu evaluasi menyeluruh agar tidak menimbulkan risiko kesehatan.

Hingga kini, pihak terkait masih melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa.

Pemeriksaan terhadap sampel makanan dan prosedur distribusi menjadi langkah penting untuk mengungkap apakah terdapat unsur kelalaian atau faktor lain di balik kejadian tersebut.

Baca Juga: Produk Kerajinan Jawa Barat Laris Manis di Inacraft 2026, Raup Transaksi Rp450 Juta

Kasus ini menjadi peringatan serius bahwa program pangan di lingkungan sekolah harus diawasi secara ketat, mengingat dampaknya langsung menyasar keselamatan generasi muda.***