POJOKSATU.id - Salat Idul Adha menjadi salah satu ibadah penting yang dilaksanakan umat Islam setiap tanggal 10 Dzulhijjah.
Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, momen ini juga mempererat rasa kebersamaan dan ukhuwah di tengah masyarakat.
Salat Idul Adha memiliki hukum sunnah muakkad atau sangat dianjurkan untuk dikerjakan, meski tidak wajib.
Secara umum, syarat dan rukun Salat Id hampir sama dengan salat lainnya.
Baca Juga: Kamitetep di Rumah Bikin Risih? Kenali Penyebab, Cara Membasmi, dan Mencegah Agar Tidak Datang Lagi
Namun terdapat beberapa perbedaan teknis yang perlu diperhatikan agar pelaksanaannya sesuai sunnah.
Salat Id juga tidak diawali dengan adzan maupun iqamah.
Untuk Salat Idul Adha, umat Islam dianjurkan melaksanakannya lebih awal agar setelahnya masih memiliki waktu luas untuk melakukan penyembelihan hewan kurban.
Salat Idul Adha dilaksanakan dua rakaat secara berjamaah dan dilanjutkan dengan khutbah setelah salat selesai.
Baca Juga: 7 Hikmah dan Manfaat Berkurban saat Idul Adha, Tak Sekadar Berbagi Daging
Berikut tata cara Salat Idul Adha sesuai tuntunan.
1. Membaca niat Salat Idul Adha
Sebelum memulai salat, jamaah terlebih dahulu membaca niat.
Jika menjadi makmum, lafaz niatnya sebagai berikut:
أُصَلِّيْ سُنَّةً لِعِيْدِ اْلأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya:
“Aku berniat Salat sunnah Idul Adha dua rakaat sebagai makmum karena Allah ta’ala.”
Sementara jika menjadi imam, kata “ma’muman” diganti “imaman”.
2. Takbiratul ihram dan tujuh kali takbir
Setelah niat, jamaah melakukan takbiratul ihram seperti salat biasa lalu membaca doa iftitah.
Selanjutnya pada rakaat pertama dianjurkan membaca takbir sebanyak tujuh kali.
Di sela-sela takbir, dianjurkan membaca:
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Artinya:
“Allah Mahabesar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Mahasuci Allah, baik waktu pagi dan petang.”
Baca Juga: Buruan Daftar! Beasiswa Kalla 2026 Buka 6 Jalur, Ada Bantuan Kuliah sampai Semester 8
Atau bisa juga membaca:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Artinya:
“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah Mahabesar.”
3. Membaca Al-Fatihah dan surat pendek
Setelah selesai takbir tambahan, jamaah membaca Surat Al-Fatihah.
Kemudian dianjurkan membaca Surat Al-A’la pada rakaat pertama.
Setelah itu, salat dilanjutkan seperti biasa mulai dari ruku, sujud, duduk di antara dua sujud hingga berdiri kembali untuk rakaat kedua.
Baca Juga: DTKJ Buka Magang Batch 9 Tahun 2026, Cek Formasi, Syarat, dan Cara Daftarnya
4. Lima kali takbir di rakaat kedua
Saat berdiri di rakaat kedua, jamaah kembali membaca takbir sebanyak lima kali sambil mengangkat tangan.
Di sela-sela takbir dianjurkan membaca dzikir seperti pada rakaat pertama.
Setelah membaca Al-Fatihah, dianjurkan membaca Surat Al-Ghasyiyah sebelum melanjutkan ruku dan sujud hingga salam.
Baca Juga: DTKJ Buka Magang Batch 9 Tahun 2026, Cek Formasi, Syarat, dan Cara Daftarnya
5. Mendengarkan khutbah Idul Adha
Setelah salat selesai, jamaah dianjurkan tetap berada di tempat untuk mendengarkan khutbah Idul Adha hingga selesai.
Khutbah menjadi bagian penting yang berisi nasihat, pesan ketakwaan, dan makna pengorbanan dalam Idul Adha.
Selain itu, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak takbir sejak Hari Raya Idul Adha hingga akhir hari tasyrik pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Takbir biasanya dikumandangkan setiap selesai Salat fardhu sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.
Baca Juga: KAI Daop 3 Cirebon Siapkan 39.730 Tiket Kereta Api Sambut Hari Raya Idul Adha
Idul Adha bukan hanya tentang perayaan dan penyembelihan hewan kurban, tetapi juga momentum memperkuat iman, keikhlasan, dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Dari lantunan takbir hingga sujud dalam Salat Id, ada harapan agar hati menjadi lebih tenang dan hidup terasa lebih dekat dengan keberkahan.***




