POJOKSATU.ID - Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Australia pada Selasa 11 November 2025, menjadi perhatian publik internasional.
Ini adalah kunjungan luar negeri resmi pertama sejak Prabowo dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia.
Dan banyak pihak menilai langkah ini sebagai ujian perdana arah politik luar negeri pemerintahannya.
Dalam lawatan singkat di Canberra, Prabowo bertemu langsung dengan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese.
Untuk membahas kerja sama bilateral di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, ketahanan pangan, hingga pertahanan dan keamanan kawasan Indo Pasifik.
Kunjungan ini, menurut para pengamat, menjadi simbol penting hubungan strategis Indonesia Australia yang sempat naik turun dalam dua dekade terakhir.
Pengamat Hubungan Internasional UI, Edy Prasetyo mengatakan, ini bukan sekadar kunjungan formal, tapi sinyal diplomatik.
Prabowo ingin menunjukkan bahwa Indonesia tetap jadi mitra utama Australia di kawasan.
Baca Juga: Pelaku Bom SMAN 72 Kelapa Gading Terinspirasi Konten Kekerasan Internet, Tulis Manusia Hama
"sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai kekuatan regional,” katanya, dikutip dari ABC News, Selasa 11 November 2025.
Indonesia dan Australia memiliki sejarah hubungan yang kompleks.
Dari kerja sama keamanan hingga ketegangan diplomatik pasca insiden penyadapan tahun 2013.
Kini, hubungan itu memasuki fase baru.
Pemerintahan Prabowo menegaskan pendekatan yang lebih terbuka dan pragmatis terhadap Canberra, tanpa meninggalkan prinsip kedaulatan nasional.
“Presiden Prabowo datang dengan niat membangun kemitraan yang saling menguntungkan, bukan ketergantungan,” ujar jubir kemenlu, Lalu Dewa Mahendra, dikutip dari Antara.
Dalam pertemuan bilateral, kedua pemimpin sepakat memperluas kerja sama ekonomi di sektor pertanian dan peternakan.
Termasuk penguatan rantai pasok pangan antara kedua negara.
Selain itu, pembicaraan juga mencakup pendidikan tinggi, energi bersih, dan peluang investasi industri pertahanan.
Kunjungan Prabowo ke Canberra juga memiliki dimensi geopolitik yang signifikan.
Di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Indo Pasifik, terutama dengan dinamika keamanan di Laut China Selatan dan aliansi AUKUS (Australia, Inggris, Amerika Serikat).
Indonesia menegaskan posisi netral aktifnya, Prabowo menekankan pentingnya stabilitas kawasan yang damai dan bebas dari konfrontasi militer.
Baca Juga: Big Bad Wolf Books Kembali ke Medan! BBW Hadirkan 1 Juta Buku dan Diskon 80 Persen
Sikap itu dianggap sebagai bentuk konsistensi diplomasi Indonesia, tegas tapi tidak konfrontatif.
Beberapa analis bahkan menilai Prabowo berhasil menunjukkan karakter diplomasi yang realistis dan adaptif.
Berbeda dengan gaya konfrontatif yang sering diasosiasikan dengannya pada masa lalu.
Kunjungan ke Australia ini menjadi tolak ukur awal bagi kebijakan luar negeri kabinet Prabowo.
Terutama dalam membangun citra Indonesia sebagai mitra strategis yang kredibel dan independen.
Langkah Prabowo akan diamati oleh negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat, China, dan mitra ASEAN.
Untuk melihat arah kebijakan luar negeri Indonesia dalam lima tahun ke depan.
Bagi pemerintah Indonesia, keberhasilan diplomasi ini juga akan berdampak langsung pada agenda domestik, terutama sektor perdagangan, energi, dan investasi.
Australia merupakan mitra dagang terbesar ke 13 Indonesia, dengan nilai perdagangan dua arah mencapai USD 14,2 miliar pada 2024.
Baca Juga: Sudah Bayar Sendiri Biaya Berobat? Begini Cara Klaim Uangnya Lewat BPJS Kesehatan
Kunjungan ini menandai awal baru dalam hubungan Jakarta Canberra.
Dari sisi politik, langkah ini dianggap sebagai pernyataan niat bahwa pemerintahan Prabowo siap memainkan peran aktif dalam percaturan kawasan.
Dari sisi substansi, publik menantikan hasil konkret dari pertemuan ini, bukan hanya foto diplomatik, tapi kesepakatan nyata yang bermanfaat bagi rakyat.
Bagi Prabowo, diplomasi di Australia bukan hanya seremoni.
Tetapi ujian pertama membuktikan bahwa politik luar negerinya tak sekadar keras di retorika, melainkan cerdas dalam strategi.***




