POJOKSATU.id - Pidato Surya Paloh dalam Apel Siaga Perubahan Partai NasDem di GBK masih menjadi perbincangan hangat di kalangan pengamat.

Pasalnya pidato Ketum Partai NasDem itu, tak mengungkap siapa sosok cawapres yang mendampingi Anies Baswedan.

Selain itu, Surya Paloh juga seakan mulai mengkritik revolusi mental yang digagas Presiden Jokowi selama pemerintahannya.

Baca Juga: Mengenal Larangan Malam 1 Suro, Dipercaya Terbukanya Gerbang Gaib, Ada Pantangan Menikah dan Pindah Rumah

"SP memang memberi gambaran revolusi mental sebagai titik temu SP dengan Pak Jokowi. Tetapi ketika sampai ke pengakuan bahwa revolusi itu tidak seperti yang diharapkan, tetiba pidato SP memutar ke topik lain," kata pengamat politik Ray Rangkuti dihubungi Pojoksatu.id, Selasa 18 Juli 2023.

Ray Rangkuti juga menilai pidato Surya Paloh dan Anies Baswedan itu tak ada kejelasan sosok cawapres yang akan dipilih.

Bahkan pidato keduanya dinilai tidak mempertegas arah koalisi politik yang dibangun Partai NasDem kedepannya.

Baca Juga: Isu Jaksa Agung Mundur Ditekan soal Kasus BTS, Presiden Jokowi Wajib Melindungi

"Pernyataan ini perlu untuk mempertegas garis politik yang dipilih. Perubahan. Sampai akhir pidato SP, ketegasan ini juga tidak didapatkan," ujarnya.

Karena itu, Ray Rangkuti menyayangkan apel siaga yang digelar seara megah dan memakan anggaran tak sedikit itu, nyatanya hanya sebatas upacara seremoni, kumpul-kumpul, dan diselingi atraksi budaya.

"Acara semahal itu, nampaknya, tak akan banyak membantu masyarakat memahami ke mana, di mana dan bagaimana pilihan politik NasDem dan koalisi akan berjalan," ujarnya.

Baca Juga: Batas Usia Pensiun PPPK Guru 60 Tahun, Non Guru Berapa?

Sebelumnya, capres Anies Baswedan menyampaikan pidato politik dalam Apel Siaga Perubahan Partai NasDem.

Dalam pudatonya, Anies mengingatkan, dorongan akan perubahan harus dilandasi semangat untuk menjaga persatuan.

Surya Paloh juga menyampaikan pidatonya.

Baca Juga: Makan Bakso Pakai Kerupuk Babi di Restoran Halal, Selebgram Jovi Adhiguna Minta Maaf

Dalam pidatonya, Ia menyatakan Indonesia didirikan oleh tokoh bangsa yang mewariskan alat pemersatu.

Namun, kekinian bangsa Indonesia kini semakin jauh dari budaya kegotongroyongan.

Kini bangsa Indonesia berubah menjadi bangsa yang individual dan pragmatis atau kepura-puraan.

"Bangsa kita telah berubah, dari semangat penuh kegotongroyongan dan kebersamaan, berubah menjadi bangsa dengan semangat keakuan, individualistik," kata Surya.***

Reporter : Firdausi