POJOKSATU.id, JAKARTA— Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) mengkritik tajam kebijakan Mendikbudristek Nadiem Makarim terkait kurikulum Merdeka.

Kurikulum pendidikan Indonesia seharusnya tidak mencontoh ke Negara Eropa Finlandia dan Negara tetangga Singapura.

Indonesia menurut JK semestinya belajar atau mencontoh ke India, China, Korea, dan Jepang, dalam bidang pendidikan.

Jusuf Kalla menyampaikan ini dalam acara Diskusi Kelompok Terpumpun bertema ‘Menggugat Kebijakan Anggaran Pendidikan’, Sabtu (7/9/2024).

JK menjadi pembicara dalam diskusi bertema pendidikan dan video pembicaraan JK ini juga disiarkan di kanal YouTube TVR Parlemen seperti dilihat, Selasa (9/9). 

Jusuf Kalla dalam acara itu mengungkap bahwa banyak lulusan SMK yang tidak terserap dunia kerja sesuai dengan bidang keahliannya, bahkan banyak yang menjadi caddy golf.

Baca Juga: KDM Tidak Minta Dukungan Kepada Lembaga - lembaga Keagamaan, Karena Itu Bisa Menodai Kesucian Lembaga Agama Yang Berpihak Pada Kebenaran

Menurut JK, sebanyak 70 persen dari empat caddy di lapangan golf adalah tamatan SMK. Menurutnya situasi ini terjadi karena ada yang salah dengan ekonomi dan pendidikan kita.

“Dua-duanya salah. Ekonomi tidak berkembang, sehingga mereka sekolah SMK tidak ada kerjaan, atau mereka tamat asal tamat, sehingga tidak bisa bekerja," kata Jusuf Kalla.

Dia menegaskan, kurikulum pendidikan Indonesia seharusnya tidak mencontoh Finlandia dan Singapura.

Menurutnya, penduduk dua negara itu hanya 5 juta jiwa, dan income per kapitanya US$ 70.000.

“Kita penduduknya 280 juta, tetapi income per kapitanya US$ 4.500. Jauh sekali. Jadi kalau bicara pendidikan di sana mau merdeka silakan, mau bicara kimia ada labnya, mau bicara fisika ada labnya, mau olahraga, mau apa saja ada tempatnya," ujarnya.

Indonesia semestinya belajar dari India, China, Korea, dan Jepang. Karena hampir semua perusahaan besar di Amerika, CEO-nya orang India, baik itu Microsoft atau Twitter.

“Nanti yang jadi presiden Amerika Kamala Harris itu ibunya India, perdana menteri Inggris dulu India, wali kota London, India. Berarti di sana pendidikan itu hebat. China kenapa maju, pendidikannya hebat, kita belajar ke sana," jelas dia.

Baca Juga: Cabuli Siswi PKL, Oknum Pejabat Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Dilaporkan ke Polisi

Lalu dia menyentil Sekjen DPR dalam acara itu agar tak memberikan izin kalau ada anggota DPR yang mau studi banding ke Finlandia.

“Jadi Pak Sekjen, kalau mau DPR mau studi banding jangan kasih ke Finlandia,” jelasnya.

Lebih lanjut Jusuf Kalla mengatakan, inti dari kurikulum pendidikan di negara-negara tersebut ada ujian nasional.

"Kalau tidak ada ujiannya, kapan belajarnya? Semua kampus merdeka, apa merdekanya? Tidak merdeka saja tidak belajar, apalagi merdeka?" tegasnya.

Jusuf Kalla mengaku konservatif soal pendidikan. Menurut dia, memerdekakan 70.000 siswa sangat tidak mungkin.

"Jangan tiru satu sekolah di sini bikin kurikulum merdeka, tiba-tiba semua sekolah mau dimerdekakan kurikulumnya. Akibatnya beginilah," ucapnya.

Baca Juga: Bantah Curhatan Fanny Soegi, Ini Klarifikasi Lengkap Manajemen Band Soegi Bornean

Bagi Jusuf Kalla, tak mengapa siswa sedikit stres dalam menghadapi ujian karena lebih stres lagi kalau tidak mendapat kerjaan.

Jusuf Kalla juga menyebut Menteri Pendidikan selama ini adalah orang yang memiliki latar belakang yang hebat di bidang pendidikan.

Dan ini berbeda dengan Nadiem Makarim.

Seperti Ki Hajar Dewantara yang merupakan pendiri Taman Siswa dan cikal bakal dari prinsip pendidikan Indonesia, Soemantri Bojonegoro, Syarief Thayeb, Daoed Joesoef, Fuad Hasan, Malik Fajar, hingga Anies Baswedan.

“Anies merupakan Rektor Paramadina,” kata JK.

JK menyebut Nadiem Makarim tidak memiliki pengalaman di bidang pendidikan.

JK juga menyebut Nadiem jarang ke kantor hingga tidak pernah blusukan ke daerah-daerah.

"Ada kemudian Mas Nadiem, yang tidak punya pengalaman guru, bidang pendidikan, tidak pernah datang ke daerah, jarang ke kantor," ujarnya.***