POJOKSATU.id - Jepang, negara maju yang dikenal akan teknologi canggih, budaya unik, dan masyarakat tertib, kini menghadapi masalah serius: krisis populasi. Jumlah anak-anak semakin sedikit, sementara populasi lansia kian meningkat.
Bayangkan sekolah-sekolah yang sepi anak-anak, sementara panti jompo semakin penuh. Kondisi ini mencerminkan fenomena yang disebut “super-aged society,” di mana jumlah orang tua jauh lebih banyak daripada anak muda.
Berdasarkan laporan AFP pada 16 September 2024, jumlah penduduk Jepang berusia 65 tahun ke atas mencapai 36 juta orang, atau 29,3% dari total populasi.
Baca Juga: Jawa Barat Deklarasikan Gerakan Tolak Judol dan Pinjol Ilegal: Komitmen Bersama untuk Masyarakat
Angka ini menjadikan Jepang sebagai negara dengan proporsi lansia tertinggi di dunia, melebihi Italia yang berada di posisi kedua dengan 24,5% populasi lansia. Fenomena ini menimbulkan berbagai tantangan bagi Jepang, dari masalah ekonomi hingga tekanan sosial.
Dampak dari Tingginya Jumlah Lansia di Jepang
1. Pertumbuhan Ekonomi yang Melambat
Populasi usia produktif yang menyusut berdampak langsung pada perekonomian Jepang. Tenaga kerja yang semakin sedikit menyebabkan penurunan produktivitas, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan mengurangi daya saing Jepang di pasar global.
Baca Juga: Rekomendasi 5 Tempat Liburan Akhir Tahun di Semarang, Nuansa Alam yang Cocok untuk Wisata Keluarga
2. Tekanan pada Sistem Pensiun dan Pelayanan Kesehatan
Jepang menghadapi beban besar dalam membiayai pensiun dan layanan kesehatan bagi para lansia, sementara pendapatan negara dari pajak usia produktif terus menurun. Hal ini memaksa pemerintah Jepang untuk mempertimbangkan opsi seperti menaikkan pajak.
3. Krisis Tenaga Kerja
Kekurangan pekerja menyebabkan banyak sektor, terutama kesehatan, manufaktur, dan pelayanan publik, menghadapi kendala besar. Kekurangan tenaga medis sangat terasa mengingat banyaknya lansia yang memerlukan perawatan intensif.
Baca Juga: Jangan Buru-buru Panik Jika Terkena Kista, Ini Cara Tepat Menanganinya
4. Beban Ekonomi dan Sosial bagi Generasi Muda
Anak muda di Jepang kini menghadapi tekanan tinggi, baik secara finansial maupun psikologis, untuk menanggung biaya pensiun dan kesehatan bagi generasi yang lebih tua. Banyak yang merasa terbebani, sehingga memilih untuk menunda atau bahkan menolak pernikahan dan memiliki anak.
5. Fenomena Sosial Baru
Selain masalah demografis, krisis ini juga memicu fenomena sosial seperti “hikikomori,” di mana individu memilih mengisolasi diri di rumah, serta meningkatnya kasus “Lonely Death,” di mana lansia meninggal dalam kesendirian.
Penyebab Tingginya Jumlah Lansia dan Rendahnya Tingkat Kelahiran
Tingkat kelahiran di Jepang hanya sekitar 1,3 anak per perempuan, jauh di bawah angka pengganti populasi. Banyak pasangan di Jepang memilih untuk tidak memiliki anak karena biaya hidup yang tinggi dan tuntutan karir. Selain itu, budaya kerja yang menuntut waktu kerja panjang juga menghambat keinginan untuk berkeluarga.
Pemerintah Jepang telah mencoba berbagai upaya untuk mengatasi krisis ini, seperti memberikan insentif untuk keluarga baru, memperpanjang usia pensiun, serta membuka pintu bagi tenaga kerja asing. Namun, hasilnya masih terbatas.***



