POJOKSATU.id, MEDAN—Komisi Perlindungan Anak Indoesia (KPAI) mengungkap fakta baru bahwa memang benar siswi kelas 6 SD berinisial SAS alias Al diduga membunuh ibunya.

Motif siswi kelas 6 SD ini diduga membunuh ibunya, Faizah Soraya (42) di Medan, karena sakit hati sering dimarahi korban.

Pelaku SAS juga ingin membela ayah dan kakaknya yang dia anggapnya sering dimarahi oleh ibunya.

Diyah mengungkap temuan baru dari kasus pembunuhan sadis di Medan tersebut.

Baca Juga: Update! Korban Tewas Bencana Sumatera Tembus 1.068 Jiwa, Negara Dinilai Kalah Cepat dari Alam

Usai kejadian dan sebelum rekonstruksi, Al sebagai terduga pelaku mengurai curhatan.

Al mengungkap alasannya tega membunuh sang ibu kandung.

Awalnya isu yang berkembang adalah alasan Al menusuk Faizah karena kesal kakaknya dimarahi pada Selasa malam.

Ternyata, belakangan diungkap KPAI, Al bukan cuma ingin membela sang kakak saja.

Al mengaku ia juga ingin membela sang ayah yang sering dimarahi korban.

"Anak ini sebenarnya membela kakaknya, yang mungkin sering diginiin ibunya. Kemudian juga membela ayahnya,” jelsnya.

Baca Juga: IPB University Resmi Luncurkan Program Doktor Ilmu Manajemen, Pendaftaran Dibuka 20 Oktober 2025

“Jadi yang kami dapatkan informasi, anak ini merasa tidak nyaman dengan perilaku ibunya yang kadang sering marah-marah kepada kakaknya dan ayahnya, terutama kakaknya," ungkap Diyah lagi.

Motif Sakit Hati

Kepada KPAD Medan, Al mengaku sakit hati kepada sang ibu.

"Jadi lebih ke motif utama (pelaku membunuh) mungkin dendam atau sakit hati (kepada ibu)," ujar Diyah.

Rasa sakit hati itu menggelayuti perasaan Al karena melihat perangai sang ibu yang temperamen.

"Iya, informasi yang kami dapatkan juga demikian (si ibu sering temperamen)," imbuh Diyah.

Adapun penyebab tindakan parisida yang dilakukan Al, KPAI menganalisa pemicunya adalah karena faktor emosi.

"Emosional ini karena si anak belum bisa meregulasi kondisi emosinya. Mungkin dia semacam protes melihat perilaku ibunya. Dia bingung 'saya ingin membela tapi saya juga tidak terima dengan kondisi ini'," kata Diyah.