POJOKSATU.id - Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra sepanjang Desember 2025 kembali memperlihatkan skala kerusakan yang besar.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pembaruan data per 31 Desember 2025, yang menegaskan bahwa tragedi ini menjadi salah satu bencana alam paling mematikan dalam satu dekade terakhir.
Dalam laporan teranyar tersebut, BNPB menyebut 1.154 orang dinyatakan meninggal dunia.
Baca Juga: Beli Token atau Bayar Listrik 31 Desember 2025 Banyak Diskon, Ini Daftar Aplikasinya
Angka ini meningkat dari laporan-laporan sebelumnya, seiring upaya pencarian yang terus dilakukan di sejumlah wilayah terpencil.
Penambahan data terjadi setelah tim SAR berhasil menembus lokasi-lokasi yang sebelumnya terisolasi banjir dan material longsor.
Dari total korban meninggal tersebut, sebagian besar berasal dari wilayah Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Tiga provinsi yang mengalami dampak paling luas akibat banjir, luapan sungai, dan longsor yang dipicu curah hujan ekstrem pada akhir tahun.
Sementara itu, 165 orang masih dinyatakan hilang.
Tim pencarian dan pertolongan yang melibatkan Basarnas, TNI, Polri serta relawan setempat masih terus bekerja untuk menemukan para korban.
BNPB menegaskan bahwa fokus utama di hari-hari terakhir tahun ini hingga awal tahun berikutnya tetap pada pencarian korban hilang dan pemenuhan kebutuhan pengungsi.
Selain menelan banyak korban jiwa, bencana ini juga meninggalkan kerusakan yang masif pada infrastruktur dan permukiman.
BNPB mencatat 166.925 unit rumah rusak akibat banjir dan longsor.
Ribuan rumah tersebut tersebar di tiga provinsi utama terdampak, dengan Aceh menjadi wilayah yang mencatat kerusakan paling parah.
Beberapa desa bahkan dilaporkan tidak lagi dapat dihuni karena tertutup lumpur dan puing material.
Dampak bencana juga berimbas besar pada kondisi sosial. Per 31 Desember, tercatat 395.795 jiwa masih bertahan di tempat pengungsian.
Mereka tersebar di ratusan titik pengungsian resmi maupun mandiri.
Kebutuhan logistik, layanan kesehatan, dan sanitasi meningkat tajam, terutama di wilayah yang baru dapat dijangkau beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Beli Token atau Bayar Listrik 31 Desember 2025 Banyak Diskon, Ini Daftar Aplikasinya
Situasi di pos pengungsian juga memunculkan kekhawatiran baru.
Laporan relawan kesehatan menyebut adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada anak-anak dan lansia.
Faktor pemicu utamanya adalah cuaca lembap, kepadatan hunian, serta keterbatasan fasilitas sanitasi.
Menghadapi perkembangan tersebut, BNPB menetapkan 21 daerah di Sumatra masuk fase transisi darurat bencana.
Status ini menjadi langkah awal untuk mempercepat pemulihan, meski sejumlah daerah masih menyelesaikan administrasi penetapannya.
Pemerintah pusat menekankan bahwa perbaikan infrastruktur dan rehabilitasi permukiman menjadi prioritas dalam minggu-minggu mendatang.
Arus bantuan dari berbagai pihak masih terus mengalir.
Pemerintah, lembaga kemanusiaan hingga komunitas relawan bergerak untuk memastikan akses logistik tidak terhambat.
BNPB menyampaikan bahwa laporan resmi berikutnya akan memuat perkembangan pencarian korban hilang, kondisi kesehatan pengungsi. hingga rencana rekonstruksi jangka menengah.
Dengan jumlah korban tewas mencapai 1.154 jiwa dan 165 orang masih hilang.
Bencana Sumatra 2025 menjadi pengingat penting tentang perlunya peningkatan mitigasi bencana, terutama menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.***




