POJOKSATU.id, JAKARTA -- Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman mendesak Polda Metro Jaya (PMJ) mengusut tuntas penyebab tewasnya Sutrimo (42) penjaga rumah eks Jampidsus Febrie Adriansyah.
Sutrimo yang juga kepala rumah tangga (Karumga) eks Jampidsus ini ditemukan dengan kondisi mulut dan hidung berbusa di depan Klinik Mordent, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel).
Ketua Komisi III DPR ini mendukung PMJ mengusut tuntas kasus tersebut secara transparan dan profesional.
Baca Juga: Hanya 15,7 Persen Publik Menilai Kondisi Ekonomi Nasional Sekarang Baik
"Kami minta agar kasus ini diusut secara transparan dan profesional hingga tuntas," ujar Habiburokhman kepada wartawan, Rabu (29/7/2026).
Politisi Gerindra ini menyebut banyak pihak mempertanyakan kondisi korban saat pertama kali ditemukan tewas yakni mulut dan hidungnya berbusa.
"Masyarakat bertanya soal foto kondisi almarhum yang mulut dan hidungnya berbusa. Harus diperjelas dengan penyidikan ilmiah apa penyebabnya, sebab kondisi tersebut mirip dengan korban keracunan," kata Habiburokhman.
Baca Juga: Sosok Penjaga Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Tewas di Depan Mordent, Sudah Bekerja Bareng 18 Tahun
"Situasi saat ini, kita berada di tengah arus keterbukaan informasi. Kalau ada yang ditutupi, tentu akan memperburuk citra pemerintah," tegasnya.
Kondisi TKP Sudah Rusak
Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi klinik yang berada di Jalan Kramat Pela RT 11 RW 11, Kelurahan Pulo, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Ditreskrimum Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Jakarta Selatan menerjunkan tim khusus untuk mengusut kasus ini guna memetakan kronologi peristiwa sekaligus mengungkap penyebab kematian korban.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Iskandarsyah mengatakan penyidik masih mengumpulkan berbagai alat bukti untuk mengungkap kronologi sebenarnya.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam proses penyelidikan adalah kondisi tempat kejadian perkara (TKP) yang sudah rusak.
"TKP sudah rusak karena sudah beberapa hari dan banyak orang yang berlalu lalang sejak Kamis (23/7)," ujar Iskandarsyah, Senin (27/7/2026).
Aktivitas masyarakat yang keluar masuk lokasi sejak beberapa hari terakhir membuat kondisi awal TKP berubah sehingga menyulitkan proses olah tempat kejadian perkara.
Meski menghadapi kendala tersebut, penyidik memastikan proses penyelidikan tetap berjalan.***




