POJOKSATU.id, JAKARTA-- Pada 20 Oktober hingga 15 Desember 1945 atau selama 2 bulan telah terjadi pertempuran Ambarawa antara Tentara Indonesia melawan Sekutu dan NICA.

Pertempuran Ambarawa terjadi setelah pasukan Sekutu dan NICA atau Pemerintahan Hindia Belanda mempersenjatai tawanan perang Belanda di Ambarawa dan Magelang.

Untuk mengatasi masalah ini, dibentuk tiga badan sebagai wadah perjuangan rakyat, salah satunya Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang dibentuk pada 22 Agustus 1945.

Baca Juga: Menhan Prabowo Wakili Presiden Jokowi Tetapkan 2.497 Komcad TNI 2023

Kolonel Soedirman kemudian membentuk divisi lokal dalam BKR dan pasukannya dijadikan sebagai bagian dari Divisi V pada 20 Oktober 1945, oleh Panglima Sementara Urip Sumoharjdo.

Pada November 1945, dilaksanakan pemilihan panglima besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Yogyakarta.

Kolonel Soedirman pun terpilih menjadi Panglima Besar TKR. Meskipun saat itu belum resmi dilantik, Kolonel Soedirman mengerahkan pasukannya untuk menyerang Inggris dan Belanda di Ambarawa.

Soedirman menggantikan posisi Letnan Kolonel Isdiman yang lebih dulu gugur dalam pertempuran.

Baca Juga: Jokowi Akui Nyaman Disopiri Prabowo, Pengamat Sebut Kode Keras Dukungan di 2024

Sejak dipimpin Soedirman, posisi TKR jauh lebih diuntungkan. Pada 11 Desember 1945, Jenderal Soedirman berunding dengan mengumpulkan para komandan sektor.

Hasilnya, didapati bahwa kondisi musuh saat itu sudah terdesak sehingga Soedirman memberikan serangan terakhir untuk menggugurkan Belanda dan Inggris.

Pada 12 Desember 1945, pasukan TKR bergerak menuju target yang sudah ditentukan.

Hanya dalam waktu 1,5 jam saja, pasukan TKR sudah berhasil mengepung musuh di dalam kota. Waktu itu, Kota Ambarawa dikepung pasukan TKR selama empat hari empat malam.

Pasukan Inggris yang merasa terdesak pun akhirnya memutuskan untuk mengakhiri pertempuran.

Pasukan Inggris pergi meninggalkan Ambarawa dan mundur ke Semarang pada 15 Desember 1945.

Dalam pertempuran Ambarawa ini, ada enam perwira militer Indonesia yang terlibat dan berperan penting mereka antara lain Kolonel Soedirman, Letkol Gatot Soebroto, Letkol Isdiman, Kolonel GPH Jati Kusumo, Kapten Surono Reksodimejo, Letkol Sarbini Martodiharjo.

Dari enam perwira militer yang terlibat di perang Ambarawa ini, satu orang gugur di usia muda yaitu Letkol Isdiman.

Setelah TNI berdiri, pejabat yang menjadi pimpinan kolektif memilih dan melantik secara resmi Soedirman sebagai Panglima Besar TNI pada tanggal 28 Juni 1947 di Istana Presiden Yogyakarta dengan pangkat Jenderal.

Letnan Kolonel Isdiman

Letnan Kolonel Isdiman lahir di Pontianak pada 12 Juli 1913 dan gugur pada 16 November 1945 di usia 32 tahun.

Ia bersekolah di SMK Bojonegoro. Masa kecil Isdiman dihabiskan di Cianjur.

Ambarawa adalah warisan yang diperjuangkan oleh Isdiman dan pasukan prajuritnya.

Ia berperan penting dalam Perang Ambarawa. Dia adalah orang kepercayaan Kolonel Soedirman untuk mengatur strategi operasional di Ambarawa.

Dia memerintahkan prajurit dalam Perang Ambarawa melawan Sekutu.

Pasukan Indonesia di bawah Letnan Kolonel Isdiman berusaha membebaskan dua desa yang ingin dikuasai Sekutu.

Namun Letnan Kolonel Isdiman terluka parah dalam serangan udara dan dibawa ke Magelang, tetapi Letnan Kolonel Isdiman meninggal dalam perjalanan ke Magelang.

Saat bertugas, markasnya diserang oleh tiga Mustang Sekutu dan dua Dakota. Kaki Letnan Kolonel Isdiman terkena senapan mesin pesawat.

Letnan Kolonel Isdiman adalah perwira Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan komandan resimen TKR Banyumas. Keahliannya membuatnya menjadi prajurit yang diandalkan Jenderal Soedirman.

Peran Letnan Kolonel Isdiman dalam Pertempuran Ambarawa adalah sebagai ahli siasat atau ahli strategi.

Jenderal Soedirman memerintahkan pasukannya untuk berperang di Ambarawa untuk menarik koalisi dari daerah tersebut dari Indonesia.

Salah satu kunci utama kemenangan ini adalah memiliki rasa solidaritas yang kuat. Bahkan ketika berhadapan dengan tentara sekutu yang dipersenjatai dengan berbagai senjata modern dan canggih, pejuang kemerdekaan itu tidak kenal takut.***