POJOKSATU.id - Sutan Sjahrir rupanya menyimpan kisah saat menghadapi masa-masa sulit sebelum akhirnya meninggal dunia.

Pada tanggal 16 Januari 1962, ia ditangkap bersama rekan politiknya.

Ketika mendengar kabar penangkapan Sutan Sjahrir, Bung Hatta merasakan kesedihan dan keprihatinan yang mendalam.

Tanpa banyak pertimbangan, Hatta pun menulis surat kepada Presiden Soekarno. Surat tersebut memohon kepada sahabatnya untuk membebaskan Sjahrir, karena Hatta yakin bahwa Sjahrir tidak mungkin memiliki niat jahat seperti yang dituduhkan.

Baca Juga: Kisah Perseteruan Gus Dur dan Soeharto, dari Tulisan, Ucapan Hingga Percobaan Memecah Belah NU

Menurut Hatta, meskipun Sjahrir dan rekan-rekannya yang ditangkap telah melakukan oposisi yang tegas dalam konteks politik, namun ia menegaskan bahwa mereka tidak akan menggunakan cara-cara teror. Sayangnya Presiden Soekarno tetap bersikeras pada pendiriannya.

Ia lebih mempercayai penjelasan dari kepala intelijennya yakni Soebandrio. Hal ini terbukti dengan tidak adanya balasan surat dari Soekarno kepada Hatta.

Sjahrir mengalami penderitaan yang cukup berat saat menjadi tahanan politik. Menurut Rosihan Anwar, ketika Sjahrir dipindahkan ke Madiun pada tanggal 16 November 1962, tekanan darahnya naik lagi.

Ia kemudian dibawa ke RSPAD Jakarta untuk perawatan. Setelah 8 bulan mendapatkan perawatan dan dinyatakan sembuh, Sjahrir lalu dipindahkan ke sebuah rumah di Jalan Keagungan, Jakarta.

Baca Juga: Aktivis 98 Ini Semangati Firli Bahuri, Jangan Gentar Lawan Serangan Balik Koruptor, Buka Semua Data ke Dewas K

Dalam situasi yang sulit tersebut, pada tanggal 9 Februari 1965 Sjahrir dipindahkan ke Rumah Tahanan Negara di Jalan Budi Utomo, Jakarta.

Menurut Rosihan, RTM Budi Utomo tidaklah layak untuk menjadi tempat tahanan politik sekelas Sjahrir.

Tempat tersebut merupakan penjara tua yang tidak memenuhi standar kesehatan yang layak. Selama berada di sana, Sjahrir ditempatkan di sebuah kamar yang lembab dan berada di samping toilet.

Pada tanggal 22 Februari 1965, Sjahrir mengalami serangan stroke pertamanya di RTM Budi Utomo dan serangan stroke kedua ketika berada di kamar mandi.

Teman-temannya berusaha untuk segera membawa Sjahrir ke rumah sakit. Namun, Sjahrir memilih untuk tetap bertahan di tempatnya.

Baca Juga: Prabowo Subianto Sebut Perang Israel Palestina Berpengaruh Kepada Ketentraman Rakyat Indonesia

Meskipun kondisi kesehatannya agak membaik setelah itu, beberapa jam kemudian seorang prajurit penjaga tiba-tiba berteriak minta tolong karena melihat Sjahrir jatuh.

Semua teman-temannya berusaha agar dia segera mendapatkan bantuan dari seorang dokter.

Namun, upaya untuk mendapatkan izin khusus dari Jaksa Agung tidak membuahkan hasil, bantuan untuk Sjahrir terhambat dan tertunda.

Hingga keesokan harinya dengan susah payah Sjahrir baru dapat diangkut ke RSPAD.

Para dokter di RSPAD menghadapi kesulitan dan tidak ada cara lain selain merawatnya di luar negeri. Namun, masalahnya adalah siapa yang dapat memperoleh izin dari Soekarno.

Akhirnya, seorang sahabat dekat Sjahrir yang juga dekat dengan Soekarno yaitu Hasjim Ning diutus untuk bertemu dengan Soekarno.

Hasjim menemui Soekarno dan memberitahunya bahwa kondisi Sjahrir sangat kritis dan perlu segera ditangani.

Sayangnya alih-alih merasa terharu, Soekarno justru menunjukkan kejengkelannya terhadap permintaan tersebut.

Kemudian muncul ide untuk menghubungi istri Sjahrir yakni Poppy agar dapat berbicara langsung dengan Presiden, namun Soekarno tiba-tiba berubah pikiran. Ternyata ia tidak benar-benar ingin mengabaikan Sjahrir.

Izin untuk Sjahrir berobat ke luar negeri akhirnya diberikan dan Swiss dipilih sebagai tujuan perawatan. Pada tanggal 25 Juli 1965, keluarga kecil Sjahrir berangkat dari Bandara Kemayoran menuju Swiss.

Namun meskipun mendapat perawatan medis di Swiss, penanganan yang diberikan oleh para dokter ternyata tidak memberikan kemajuan bagi kesehatan Sjahrir.

Setelah berjuang dengan rasa sakit dan kerinduan akan tanah air selama 9 bulan, Sjahrir akhirnya harus mengakhiri perjalanannya untuk selamanya. ***