POJOKSATU.id, JAKARTA—Kisah sukses Kompol I Made Yogi Purusa Utama di Polri harus berakhir tragis gara-gara perempuan.

Lulusan Akpol 2010 yang dikenal sebagai angkatan Dharma Ksatria ini dipecat karena terlibat pembunuhan anak buahnya sendiri Brigadir Muhammad Nurhadi.

Dia bersama rekannya Ipda Haris Chandra emosi lantaran anak buahnya yang berpangkat Bintara berani merayu pacar atasan. 

Dia menempuh pendidikan Sarjana Ilmu Kepolisian PTIK tahun 2017 lalu.

Baca Juga: SUDAH Lakukan Konfirmasi Kesediaan Peserta PPG Guru Tertentu Tahun 2025 Tapi Mengapa Tidak Muncul Menu Unduh Berkas di SIMPKB? AWAS Jangan Salah Info!

Yogi pernah menjadi Kasatreskrim Polres Lombok Timur. Ia juga pernah menjabat Kasatnarkoba Polres Mataram selama dua tahun dan mengungkap berbagai kasus hingga mendapat penghargaan dari Kapolda NTB saat itu, Irjen Pol M Iqbal SIK.

Setelah itu, Yogi dirotasi menjadi Kasatreskrim Polresta Mataram.

Selama hampir dua tahun menjabat, dia mengungkap berbagai kasus seperti dugaan korupsi pengadaan masker Covid-19 Pemprov NTB tahun 2020.

Pada 1 November 2024 dia dimutasi menjadi Kasubbid Paminal Propam Polda NTB hingga kasus pembunuhan ini terjadi pada 16 April 2025.

Kompol Yogi merupakan pria kelahiran Jembrana, Bali. Selama di NTB, Kompol Yogi menjabat posisi strategis.

Baca Juga: Jadwal Lengkap dan Syarat Penilaian Usulan Kenaikan Jabatan Akademik Dosen Lektor Kepala dan Profesor Gelombang II Tahun 2025


Bawahan Merayu Pacar Atasan

Motif di balik pembunuhan ini karena korban mencoba merayu rekan wanita salah satu atasannya pada pesta pribadi di vila.

Kabar meninggalnya anggota polisi itu benar-benar jadi duka mendalam bagi keluarga. Apalagi sang istri baru saja melahirkan anak kedua mereka. Usianya baru berbilang bulan.

Anak pertama Brigadir Muhammad Nurhadi dan istri pun baru berusia 5 tahun.

Anggota polisi itu memiliki tinggi 1,6 meter, sementara kedalaman kolam hanya 1,2 meter.

Baca Juga: PENGUMUMAN dari Kemendikdasmen Bagi Guru Non Sertifikasi, Langsung Cek Info Lengkapnya di Sini!

Berdasarkan hasil penyidikan dan ekshumasi, Dirreskrimum Polda NTB Kombes Syarif Hidayat menuturkan dugaan penganiayaan terhadap Nurhadi terjadi pada pukul 20.00 hingga 21.00 Wita.

Sebelum pukul 20.00 Wita, mereka berlima berendam di kolam. Kemudian, sebelum ditemukan tewas, Nurhadi disebut mencoba merayu salah satu dari dua perempuan yang dibawa.

"Ada peristiwa almarhum mencoba untuk merayu dan mendekati rekan wanita salah satu tersangka, itu ceritanya. Diduga merayu dan itu dibenarkan oleh saksi yang ada di TKP," ujarnya.

Brigadir Muhammad Nurhadi adalah anggota aktif di Paminal Bidang Propam Polda NTB. Ia dikenal sebagai sosok penyayang keluarga, telah menikah dan dikaruniai dua anak.

Berdasarkan informasi yang dihimpun wartawan, Brigadir Nurhadi diduga mengonsumsi ekstasi berupa inex dan obat penenang riklona.

Barang tersebut juga dikonsumsi Kompol I Made Yogi Purusa Utama dan Ipda Haris Chandra, serta dua wanita yang mereka bawa yaitu Putri dan Misri.***