POJOKSATU.id, JAKARTA — Presiden Soekarno memiliki persahabatan yang erat dengan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru di masa awal kemerdekaan Indonesia.

Nehru bahkan pernah berkunjung ke Indonesia selama 10 hari lamanya mulai 7 hingga 17 Juni 1950.

Dan ketika Nehru berkunjung ke Bandung pada 9 Juni 1950, rombongan Nehru diiringi dengan 87 mobil dari Jakarta. Rakyat Bandung menyambut meriah pria bernama lengkap Pandit Jawaharlal Nehru ini.

Sepanjang jalan dari Cipanas ke Cianjur, Padalarang, Cimahi hingga batas kota Bandung, rakyat berdiri di pinggir jalan menyambut rombongan Bung Karno dan Nehru yang diiringi 87 mobil.

Soekarno dan rakyat Indonesia menyambutnya dengan gegap gempita. Ribuan orang menyambut kedatangan rombongannya.

Baca Juga :

Terpaut Usia 24 Tahun, Ini Kisah Bung Karno Lamar Rahmi untuk Bung Hatta

 

Bendera Merah Putih berkibar di setiap rumah. Mereka ingin menyampaikan salam atas kedatangan Nehru di Kota Kembang.

“Bung Karno, Bung Hatta dan Pendit Nehru serta penggiringanja baru sampai sore di muka Gedung Gubernur jam 16.40. Sepandjang djalan dari Tjipanas ke Tjiandjur, Padalarang, Tjimahi terus ke batas kota, banyak rakyat berdiri di pinggir djalan menjambut rombongan Bung Karno jang diiringi 87 mobil,” tertulis dalam laporan surat kabar Fikiran Rakyat, 10 Juni 1950.

Perihal itu jadi bukti bahwa Nehru adalah tamu negara yang spesial. Apalagi, Nehru dan Soekarno dikenal sebagai sahabat dekat.

Indonesia sering kali membantu dan mendukung penuh India. Begitu pula sebaliknya.

Hubungan Bung Karno dan Nehru merupakan simbol hangatnya hubungan Jakarta – New Delhi.

Semua itu bermula ketika Indonesia, melalui Sutan Sjahrir, menawarkan bantuan beras 500 ribu ton beras ketika India dilanda kelaparan pada tahun 1946. Penawaran beras itu mendapatkan simpati dari India.

Sebaliknya, India menawarkan Indonesia 500 ribu ton bahan pakaian.

Kepedulian Indonesia ini mendapatkan simpati dari dunia internasional.

Pun India jadi memiliki kedekatan emosional dengan Indonesia. India mendukung penuh kemerdekaan Indonesia.

Dukungan itu membuat dukungan dari negara-negara Asia lainnya mengalir.

Keberanian India mengakui kemerdekaan Indonesia pun tak henti-hentinya diapresiasi oleh Bung Karno.

Pada peringatan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1946, misalnya. Soekarno mengatakan dukungan dan terima kasihnya pada India.

“Soekarno menunjukkan rasa terima kasihnya kepada India dengan mengajak massa yang hadir untuk menyerukan Jai Hind (Hidup India) tiga kali berturut-turut. Rasa terima kasih ini merupakan cara Republik untuk menunjukkan karakter mereka yang baik saat menerima bantuan dari pihak lain,” ungkap Muhammad Yuanda Zahra dalam buku Demi Kemanusiaan dan Persaudaraan (2020).

Yuanda menulis dalam buku itu, ucapan Jai Hind merupakan salah satu ekspresi yang dipakai warga India untuk saling menyapa satu sama lainnya dan untuk merayakan nasionalisme mereka, slogan Jai Hind ini bisa dikatakan ekuivalen dengan seruan merdeka yang lazim dipakai di Indonesia kala itu.

Dengan nenyerukan "Jai Hind" secara bersama-sama, Presiden Soekarno jelas ingin memperkuat koneksi Indonesia dan India sebagai negara yang berbagi sejarah yang sama, sebagai dua negara yang baru lahir dari tengah-tengah kolonialisme Barat. (ikror/pojoksatu)