POJOKSATU.id, -- Sang Proklamator Bung Karno bahkan rela menceraikan istrinya Inggit Garnasih demi menikahi gadis cantik asal Bengkulu bernama Fatmawati.

Kisah cinta Fatmawati bersama Sang Proklamator bersemi ketika Bung Karno diasingkan ke Bengkulu selama empat tahun atau sejak 1938 hingga 1942.

Fatmawati adalah putri dari pasangan Hasan Din dan Siti Chadijah. Keduanya tokoh Muhammadiyah dan Aisyiyah di Bengkulu.

Fatmawati merupakan istri ketiga Soekarno, setelah Siti Oetari Tjokoraminoto dan Inggit Garnasih. Dua istri Bung Karno ini diceraikan lebih dulu sebelum menikahi Fatmawati.

Baca Juga :

Soekarno dan Agus Salim Dibuang ke Tepian Danau Toba 3 Bulan, Sayur Kangkung Miliki Peran Sejarah

Fatmawati lahir di kampong Pasar Malabero Bengkulu pada 5 Februari 1923. Dia dibesarkan dalam lingkungan yang taat beragama dalam lingkungan Muhammadiyah.

Ketertarikan Soekarno muda pada Fatmawati saat itu awalnya lebih kepada kasih sayang ayah terhadap anak seperti dituturkan Bung Kanro dalam buku karya Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat.

Ketertarikan Bung Karno pada Fatmawati ditangkap oleh istrinya Inggit Garnasih hingga benih cemburu muncul dalam diri Inggit.

Perasaan kurang nyaman antara Inggit dan Bung Karno akhirnya mencuat.

Saat itu usia, Bung Karno 37 tahun dan Inggit sudah 53 tahun.

Pernikahan keduanya mengikutsertakan seorang gadis yang merupakan anak angkat Inggit yang bernama Ratna Juami.

Ratna Juami lalu menyelesaikan sekolah di Bengkulu dan pindah ke Jawa, Inggit lalu ikut mengantarkan Ratna ke Jawa.

Pada kondisi kesepian di tengah pengasingan itulah benih cinta makin menguat antara Soekarno dan Fatmawati.

Cindy Adams juga menuliskan pernyatan Bung Karno, ‘Istriku sudah mendekati usia 53 tahun. Aku masih muda, penuh vitalitas, dan memasuki usia terbaik di puncak kehidupan. Aku menginginkan anak. Istriku tidak dapat memberikannya padaku. Aku menginginkan kegembiraan hidup. Inggit tidak lagi memikirkan soal-soal seperti itu,’.

Kondisi itu semakin membuat hubungan Inggit dan Bung Karno memburuk. Kondisi rikuh terus terjadi dalam rumah tangga Bung Karno.

Dalam beberapa catatan lain, Soekarno dikatakan masih tetap mencintai Inggit namun menginginkan keturunan dari Fatmawati.

Bung Karno ingin menikahi Fatmawati namun tidak ingin melepas Inggit. Tetapi Inggit berketetapan hati bahwa apabila Bung Karno ingin menikahi Fatmawati, maka dia harus diceraikan dahulu.

Ketiadaan keturunan dari Inggit juga menjadi salah satu alasan Bung Karno menceraikannya.

Inggit yang telah menikah 18 tahun dengan Bung Karno, belum juga ada tanda-tanda hamil.

Dalam perkembangannya dengan berbagai pertimbangan, Fatmawati akhirnya menerima lamaran Bung Karno dengan syarat tidak mau dimadu.

Maka secara baik-baik, Inggit diceraikan dan diserahkan kepada orang tuanya di Bandung.

Akhirnya Fatmawati menikah dengan Bung Karno di Bengkulu tanggal 1 Juni 1943.


Fatmawati Remaja Aktiv di Aisyiah Muhammadiyah


Sejak kecil, Fatmawati telah belajar agama Islam antara lain membaca dan menulis Al-Qur'an pada sore hari kepada datuknya dan kepada seorang guru agama Islam.

Sejak kecil sudah kelihatan bakat seninya terutama seni membaca Al-Qur'an dan sangat supel dalam bergaul.

Kepintarannya membaca Al-Qur'an pernah ditunjukkan pada pembukaan Kongres Muhammadiyah di Palembang tahun 1936.

Di bidang lainnya, Fatmawati tertarik pada filsafat Islam dan gender dalam Islam. Terlebih setelah Fatmawati menjadi aktivis Aisyiyah, sebuah organisasi dalam naungan Muhammadiyah.

Fatmawati sejak remaja sudah aktif di Muhammadiyah melalui Nasyi’atul Aisyiah/NA.

Fatmawati bertemu dengan Bung Karno tahun 1938. Saat itu, Bung Karno dipindahkan oleh Kolonial Belanda dari Pengasingan di Ende (Flores) ke Bengkulu.

Bersamaan itu, keluarga Hasan Din pindah ke Kota Bengkulu setelah 3 tahun tinggal di Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.

Bung Karno ketika di Bengkulu aktif di Persyarikatan Muhammadiyah, bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Bagian Pengajaran.

Dalam melaksanakan kegiatannya di Muhammadiyah inilah maka persahabatan keluarga Hasan Din dan Bung Karno semakin akrab.

Mereka saling berkunjung dan Fatmawati sering diajak ayahnya untuk bersilaturrahmi dengan Bung Karno.

Pada masa itu, Bung Karno ditemani isterinya bernama Inggit Garnasih, wanita asal Bandung dan anak angkatnya bernama Ratna Juami. (ikror/pojoksatu)