Kisah Pernikahan Beda Agama Putri Rasulullah, Cinta Tulus Penuh Kesetiaan dan Penantian Panjang


POJOKSATU.id - Pernikahan beda agama ternyata memiliki sejarah panjang. Hal ini sudah terjadi sejak di zaman Rasulullah.

Bahkan kisah cinta tersebut dialami oleh putri sulung Rasulullah SAW dan Siti Khadijah yaitu Sayyidatina Zainab Binti Muhammad.

Kisah Sayyidatina Zainab binti Muhammad yang terjebak cinta berbeda agama atau keyakinan dengan Abul Ash bin ar-Rabi’.

Zainab merupakan salah satu tokoh dalam Islam, ia terlahir ketika Nabi Muhammad SAW berusia 30 tahun.

Bermula ketika Zainab tumbuh besar menjadi wanita yang memasuki usia layak menikah.

Kemudian Abul Ash bin Rabi’ datang kepada Rasulullah, ia meminta agar Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam sudi untuk menikahkan dirinya dengan Zainab.

Sebab dalam Islam perempuan berhak untuk memilih calon pasangan dan tidak boleh seorang perempuan dipaksa untuk menikah dengan seseorang yang dia tidak cintai.

Rasulullah lantas mendatangi putrinya. Namun Zainab terdiam, maka Rasulullah paham bahwa Zainab ridha jika Abul Ash bin Rabi’ menjadi suaminya.

Dalam islam seorang wanita perawan begitu malu, sehingga terkadang untuk mengatakan setuju pun dia tidak berani.

BACA JUGA: Kesaksian Ulama 14 Malam di Makam Rasulullah, Bergetar saat Bercerita, Banyak Kejadian di Luar Nalar

Maka terjadilah pernikahan antara Abul Ash bin Rabi’ dengan Zainab.

Pernikahan Zainab ini terjadi sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua orang anak, yaitu Ali dan Umamah.

Lalu hari kian berganti, saat Rasulullah telah berusia 40 tahun, maka Allah SWT mengutusnya menjadi Nabi dan setelah itu menjadi Rasul.

Mulailah Rasulullah mendakwahkan Islam kepada keluarga terdekat, dimulai dengan istrinya, Khadijah.

Putri-putrinya pun ikut masuk Islam termasuk Zainab, dan para sahabatnya juga ikut memeluk agama Islam.

Setelah menikah, Zainab tinggal bersama Abul Ash bin Rabi’ suaminya.

Hingga pada suatu ketika, pada saat suaminya pulang dari berdagang, Zainab menemui suaminya, dan mengatakan;

“Wahai suamiku tercinta, sungguh aku inginkan bagimu kebaikan, sebagaimana yang aku rasakan, Islamlah, sungguh ayahku telah mendapatkan wahyu dari langit, dan ayahku bukanlah seorang pendusta”

Lalu Abul Ash menjawab “Mengapa engkau tidak izin kepadaku?” kemudian Abul Ash pergi meninggalkan istrinya, dan mengatakan dirinya enggan masuk Islam.

BACA JUGA: Profil Singkat Wali Songo, Ternyata Ada Wali Yang Pimpin Pemerintahan Sampai Umur 89 Tahun

Meski demikian, kehidupan rumah tangga mereka tetap berjalan sebagaimana biasanya orang berumah tangga, karena ketika itu Allah SWT belum memerintahkan bahwa tidak boleh menjalin hubungan rumah tangga jika salah satu muslim atau muslimah, dan satunya lagi musyrik.

Genap 20 tahun hubungan ini berjalan dalam kekufuran, datanglah masanya hijrah dari kota Mekkah di mana orang-orang beriman disakiti, hartanya diambil.

Ketika itu datanglah Zainab kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah pun mengizinkan Zainab untuk menemani suaminya, yang ketika itu belum memeluk agama Islam.

Senantiasa Zainab berupaya mengajak suaminya untuk memeluk Islam, namun apa daya Zainab, karena hidayah hanya ada di tangan Allah SWT.

Sedahsyat apapun ketegaran hati Zainab mengajak suaminya untuk memeluk Islam, tetap saja Abul Ash enggan melakukan hal tersebut.

Meski begitu, Zainab tetap bersabar menghadapi suaminya, sehingga datanglah masa perang Badar, di mana semua orang di Mekkah dipaksa untuk memerangi kaum muslimin.

Dan terjadilah perang dengan 313 pasukan kaum muslimin berhadapan dengan 1000 orang dari Quraisy, diantaranya ada Abul Ash bin Rabi’ yang juga dipaksa untuk memerangi umat muslim, sungguh Zainab khawatir jika sang suami dan ayahnya terbunuh.

Perang Badar pun usai dengan kemenangan umat muslim atas izin Allah SWT, terbunuhnya dan tertawannya kaum Quraisy, termasuk Abul Ash bin Rabi’.

Dalam suasana yang dipenuhi oleh ketegangan, kaum kafir Quraisy mengirimkan utusan untuk menukar Abul Ash dengan tawanan lain.

BACA JUGA: Kisah 40 Sahabat Nabi Muhammad SAW Sahid di Dagestan Rusia, Bermula dari Perang 30.000 Melawan 4.000 Orang

Zainab juga masih menunjukkan kesetiaannya pada suami. Putri Nabi Muhammad mengirimkan kalung yang terbuat dari batu onyx Zafar hadiah pernikahan dari sang Bunda demi menebus Abul Ash.

Peristiwa tersebut menunjukkan betapa Zainab sangat mencintai Abul Ash.

Bahkan hal itu meluluhkan hati Nabi Muhammad ketika melihat kalung Zainab yang merupakan hadiah dari Khadijah, hatinya pun merasa iba.

Umat Islam yang terlibat perang kemudian rela melepaskan tawanannya yang tak lain adalah Abul Ash. Suami Zainab dilepaskan dan dikembalikan.

Kendati demikian, Rasulullah memberi syarat pada Abul Ash setelah ia dilepaskan, dengan meminta agar Abul Ash harus bercerai dengan Zainab.

Abul Ash boleh tetap bersama Zainab apabila ia mau memeluk agama Islam.

Sayangnya, Abul Ash tetap memegang teguh agama nenek moyangnya sehingga harus berpisah dari Zainab.

Setelah dilepas, Abul Ash kembali ke Makkah, ia merelakan Zainab untuk dikembalikan kepada ayahnya, Rasulullah, di Madinah.

Ia diantar Kinanah bin Rabi’ yang merupakan saudara kandung Abul Ash.

BACA JUGA: Kisah Wakaf Habib Bugak di Saudi bagi Jamaah Haji Aceh yang Hasilnya Mengalir Sampai Kiamat

Di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh kaum kafir Quraisy yang dipimpin oleh Hubar bin Aswad dan Nafi’ ibn Abdulqais.

Hubar mendorong Zainab hingga terjatuh dari untanya. Padahal, saat itu Zainab sedang hamil, hingga ia mengalami pendarahan, dan gugur kandungannya.

Zainab kemudian resmi berpisah dari suaminya. Abul Ash tinggal di Makkah, sedangkan Zainab di Madinah. Keduanya sangat bersedih atas perpisahan yang terjadi.

Ketika hendak kembali pulang, di tengah perjalanan ia bertemu dengan pasukan Rasulullah.

Mereka meminta semua harta yang dibawa dan ia pun menyerahkannya. Dengan demikian, habislah semua harta Abul Ash dan harta orang lain yang dibawanya.

Enam tahun lamanya, Zainab hidup bersama Rasulullah di Madinah. Selama itu pula, berbagai macam lamaran datang kepada Zainab, tetapi ia enggan menerima lamaran tersebut.

Justru ia tak henti berdoa agar Allah berkenan melapangkan hati suaminya untuk menerima Islam, dan berharap suaminya datang kepadanya dalam keadaan Islam dan menjemputnya kembali menjadi istri Abul Ash.

Sampai suatu saat, pada bulan Jumadil Ula tahun 6 Hijriah, Abul Ash keluar untuk berdagang ke negeri Syam.

Abul Ash tidak dapat mengembalikan amanat yang diserahkan kepadanya. Semua harta telah habis, sementara orang-orang yang menitipkan dagangan menunggu kepulangannya.

BACA JUGA;  Kisah Jin Ifrit dan Nabi Sulaiman yang Menikahi Gadis Sangat Hitam Legam 

Dalam keadaan bersedih, ia teringat pada Zainab yang sangat mencintai dan setia pada dirinya.

Hingga akhirnya Abul Ash masuk Madinah secara sembunyi-sembunyi pada waktu malam.

Ia meminta pada Zainab untuk memberikan perlindungan, serta pertolongan untuk mengembalikan hartanya.

Zainab kemudian memberikan perlindungan pada mantan suaminya itu.

Maka dia kembali ke kota madinah, kemudian ia bersaksi di hadapan Rasulullah kemudian memeluk agama Islam.

Kemudian Rasulullah mengembalikan pernikahan Zainab dengan Abul Ash dan dipersatukan kembali dengan Zainab dalam hubungan pernikahan yang Islami.

Sungguh betapa bahagianya Zainab ketika melihat keislaman Abul Ash.

Melihat kesetiaan Zainab, Rasulullah sangat kagum dengan Zainab yang setia pada suami meski telah lama berpisah, serta telah memutuskan syahwat terhadapnya demi memenuhi perintah Allah.

Zainab tetap bersikap baik dan setia memberikan pertolongan kepadanya. Zainab kemudian wafat pada tahun 8 Hijriah.

Sesungguhnya, Zainab memiliki keteladanan yang indah, yakni kesetiaan seorang istri pada suami, ketulusan cinta, dan keteguhan iman. (*/guruh/pojoksatu)