POJOKSATU.id - Tidak ada yang menyangka perempuan lansia yang sehari-harinya bekerja di sawah kecil di pelosok Maros itu kini menjadi wajah promosi internasional musim Haji 2026 Kerajaan Arab Saudi.
Namanya Jumariyah.
Seorang perempuan tua yang hidup sebatang kara, tidak bisa membaca dan menulis, serta menghabiskan puluhan tahun hidupnya dengan bekerja di sawah dan kebun ubi demi bertahan hidup.
Namun dari kehidupan sederhana itulah lahir kisah yang menyentuh jutaan orang.
Baca Juga: Gaji ke-13 Tahun 2026 Segera Cair, PP Nomor 9 Atur Jadwal dan Daftar Penerima
Jumariyah kini dikenal sebagai ikon haji Indonesia 2026 setelah perjalanan hidupnya dipilih menjadi bagian promosi resmi musim haji oleh Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi.
Padahal, selama bertahun-tahun hidupnya berjalan dalam sunyi.
Hidup Sendiri di Rumah Panggung Sederhana
Pagi Jumariyah selalu dimulai dengan suara ayam di halaman rumah panggung sederhananya.
Baca Juga: Guru ASN Wajib Tahu, Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2026 Atur TPG Bulanan dan Penghentiannya
Selepas Subuh, ia berjalan perlahan menuju kandang kecil di samping rumah untuk memberi makan ayam peliharaan.
Setelah itu ia membersihkan rumah, memasak sarapan, lalu bersiap menuju kebun.
Hanya ada satu porsi makanan yang dimasaknya setiap pagi.
Sebab tidak ada lagi orang lain di rumah itu.
Baca Juga: Guru ASN Wajib Tahu, Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2026 Atur TPG Bulanan dan Penghentiannya
Jumariyah hidup sendiri selama puluhan tahun setelah berpisah dengan suaminya. Ia juga tidak memiliki anak.
Kesunyian menjadi teman sehari-harinya.
Namun perempuan lansia itu tidak pernah menyerah pada hidup.
Sekitar pukul 09.00 pagi, ia berjalan membawa sabit menuju kebun ubi milik tetangganya. Setelah itu ia berpindah ke sawah kecil miliknya yang luasnya sekitar 15 are.
Baca Juga: Kabar Gembira! Saldo BPNT April–Juni 2026 Masuk ke KKS BNI, Ini Wilayah yang Sudah Cair
Di sanalah ia menanam, membersihkan, merawat, hingga memanen padi seorang diri.
“Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri,” ujarnya sambil tersenyum saat ditemui Tim Media Center Haji di Hotel Asrar Al Tayseer, Makkah.
Menabung Haji di Dalam Ember Selama 20 Tahun
Di balik rutinitas sederhana itu, Jumariyah ternyata menyimpan mimpi besar.
Ia ingin pergi ke Tanah Suci dan melihat Ka’bah secara langsung.
Mimpi itu mulai ia rawat sekitar 20 tahun lalu.
Baca Juga: Kabar Gembira! Saldo BPNT April–Juni 2026 Masuk ke KKS BNI, Ini Wilayah yang Sudah Cair
Caranya sangat sederhana.
Tidak ada rekening tabungan. Tidak ada investasi. Tidak ada simpanan emas.
Ia hanya menyimpan uang sedikit demi sedikit di dalam ember di rumahnya.
“Saya kumpul uangku sedikit-sedikit di ember,” katanya lirih.
Dari hasil sawah dan kebun, sebagian penghasilannya selalu disisihkan untuk tabungan haji.
Baca Juga: SE Mendikdasmen Terbit, Bagaimana Nasib Guru Honorer, Naik Status atau Dirumahkan?
“Kalau saya dapat Rp100.000, saya simpan Rp50.000.”
Kalimat sederhana itu menyimpan perjuangan luar biasa seorang perempuan lansia yang hidup pas-pasan tetapi tak pernah membiarkan mimpinya mati.
Tahun 2011, setelah uang yang dikumpulkannya mencapai sekitar Rp25 juta, Jumariyah akhirnya mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji.
Karena tidak bisa membaca dan menulis, ia datang didampingi kerabat jauhnya untuk mengurus administrasi pendaftaran.
Jadi Jemaah Paling Disiplin Saat Manasik
Meski usia sudah senja, semangat Jumariyah justru membuat banyak orang kagum.
Lokasi manasik berjarak sekitar 15 kilometer dari rumahnya.
Namun jarak itu tidak pernah membuatnya absen mengikuti bimbingan haji bersama Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah atau KBIHU.
Ia bahkan dikenal selalu duduk di barisan paling depan demi mendengarkan penjelasan pembimbing dengan jelas.
Baca Juga: Catat Tanggalnya! Jadwal Penyaluran TPG Mei 2026
Kesederhanaan hidup, ketekunan, dan perjuangannya menjaga mimpi berhaji akhirnya menarik perhatian banyak pihak.
Ketua Kloter UPG 14, Sitti Hawaisyah, mengatakan Jumariyah kemudian diajukan sebagai ikon haji Indonesia 2026.
“Pertimbangannya karena kesehariannya. Dia hidup sendiri, sebatang kara, tinggal di daerah terpencil, tetapi sangat menginspirasi,” ujarnya.
Dipilih Arab Saudi Jadi Ikon Promosi Haji Dunia
Dua hari sebelum keberangkatan ke asrama haji, tim dokumentasi dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi datang langsung ke rumah Jumariyah di Maros.
Baca Juga: Gaji ke-13 2026 Cair Juni, Ini Daftar Penerima dan Besarannya untuk Pensiunan PNS
Mereka merekam kehidupan sehari-hari perempuan lansia tersebut.
Mulai dari aktivitas memberi makan ayam, berjalan ke sawah, membersihkan kebun, hingga kisah bagaimana ia menabung uang di ember selama puluhan tahun demi bisa berhaji.
Tidak ada kemewahan dalam dokumentasi itu.
Yang ada hanyalah kehidupan sederhana seorang nenek di pelosok desa yang menjaga mimpinya dengan penuh kesabaran.
Namun justru itulah yang membuat kisah Jumariyah begitu kuat.
Baca Juga: Kurban Kambing atau Sapi, Mana yang Lebih Bernilai di Sisi Allah? Berikut Penjelasannya
Dokumenter tentang dirinya kemudian dipilih menjadi bagian promosi internasional musim Haji 2026 Kerajaan Arab Saudi.
Dari rumah panggung sederhana di Maros, nama Jumariyah kini dikenal hingga mancanegara sebagai simbol keteguhan hati jemaah haji Indonesia.
Tangis Ikon Haji Indonesia Saat Melihat Ka’bah
Perjalanan menuju Arab Saudi menjadi pengalaman pertama Jumariyah naik pesawat.
Awalnya ia mengaku takut ketika pesawat mulai lepas landas.
Baca Juga: Momentum 45 Tahun, BINUS @Medan Perkuat Kolaborasi Industri demi Masa Depan Mahasiswa
“Sempat ada rasa takut waktu naik pesawat, tetapi setelah itu nyaman,” katanya sambil tersenyum.
Namun semua rasa takut itu langsung berubah menjadi haru ketika ia tiba di Masjidil Haram.
Pada Minggu, 10 Mei 2026, Jumariyah untuk pertama kalinya melihat Ka’bah secara langsung.
Langkahnya perlahan memasuki pelataran Masjidil Haram. Di bawah terik langit Makkah, perempuan tua itu terus mengusap wajahnya dengan ujung kerudung hitamnya.
Baca Juga: Aturan Tegas Kemensos untuk Pengadaan Logistik Sekolah Rakyat Wajib Lewat E-Katalog!
Lalu Ka’bah berdiri tepat di depan matanya.
Tangisnya pecah.
Air mata yang selama puluhan tahun tertahan akhirnya runtuh di depan bangunan suci yang selalu ia sebut dalam doa-doanya di sawah kecil Maros.
“Saya senang bisa melihat Ka’bah,” ucapnya lirih sambil menahan tangis.
Momen itu menjadi simbol sempurnanya perjalanan panjang seorang perempuan sederhana yang kini justru dikenal dunia sebagai ikon haji Indonesia 2026.
Baca Juga: Kemensos Lakukan Pembenahan Total Tata Kelola Anggaran Sekolah Rakyat!
Tubuh Renta dengan Semangat yang Mengalahkan Jemaah Muda
Meski usianya sudah sekitar 70 tahun, kondisi kesehatan Jumariyah justru termasuk yang terbaik di kloternya.
Ketua kloternya bahkan menyebut tanda pengenal kesehatan Jumariyah bersih tanpa catatan penyakit.
Padahal banyak jemaah yang lebih muda justru mudah kelelahan.
Selama berada di Masjid Nabawi, Jumariyah mampu beribadah dari Asar hingga Isya tanpa mengeluh.
Baca Juga: Lulus PPG Tidak Bisa Langsung Mendapatkan TPG! Ini Syarat Penerima Tunjangan Sertifikasi!
Setelah tiba di Makkah pada 9 Mei 2026, ia juga langsung menjalani umrah wajib dan dua kali umrah sunnah dalam beberapa hari berikutnya.
Tetangganya dari Maros, Marwati, mengaku kagum melihat semangat perempuan lansia tersebut.
“Kita yang muda sudah kecapekan, beliau masih semangat,” katanya.
Bagi Jumariyah, rahasia kesehatannya sangat sederhana.
“Ke sawah setiap hari dan banyak minum air.”
Baca Juga: Cara UMKM Bertahan Saat Ekonomi Lesu, Pelaku Usaha Wajib Tahu agar Tidak Gulung Tikar
Kini, perempuan yang dulu menabung recehan di ember itu tinggal menunggu puncak ibadah haji di Padang Arafah.
Perjalanan hidup Jumariyah bukan sekadar kisah seorang nenek yang berhasil berhaji. Kisahnya berubah menjadi simbol keteguhan, kesabaran, dan kekuatan doa.
Dari sawah kecil di pelosok Maros, ia kini berdiri sebagai ikon haji Indonesia 2026 di mata dunia. ***




