POJOKSATU.id, BANDUNG-- Basarnas mencatat sekitar 80 orang meninggal dunia tertimbun longsor Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat, Jabar, Sabtu (24/1) dinihari.

Banyak warga di sana kehilangan keluarga mereka dalam sekejap. Mereka kini hidup sebatangkara. Mereka selamat karena saat kejadian sedang berada di luar kampung tersebut.

Teti selamat karena rumahnya berada di RT berbeda. Sebanyak 13 orang keluarganya dinyatakan hilang, termasuk sang ayah.

Reni Marsela (41) harus kehilangan empat anggota keluarganya sekaligus. Sementara Adi (34) kehilangan 11 anggota keluarganya.

Baca Juga: Jenazah Korban Pesawat ATR Jatuh di Pangkep Dimakamkan di Klaten

Rival Firmansyah yang mondok di pesantren kehilangan ayah, ibu dan adik-adiknya. Dia juga kehilangan nenek dan uwaknya.

Senin sore lalu (26/1), giliran nama Andar disebut. Nama ayah Teti. Tangis Teti pecah. Ai, ibu sambungnya, memeluknya erat. Ibunya juga selamat karena sedang berada di luar kota.

Baca Juga: 5 Ide Ngabuburit Pakai Smartphone, Seru dan Bikin Waktu Puasa Terasa Cepat

Dua tubuh yang tersisa dari satu keluarga besar itu saling menguatkan.

“Paman, keponakan, sepupu, adik, menantu, cucu abah. Baru ketemu empat orang, baru ketemu adik saya, paman saya, sepupu saya, terus ini ayah saya. Mudah-mudahan sekarang ketemu semuanya,” ucap Teti dengan suara bergetar.

Tangannya menggenggam kertas putih bertuliskan nama ayahnya. Ia menggambarkan letak rumahnya di kerta HVS, mencoba menjelaskan letak rumah mereka sebelum tertimbun tanah.

“Saya di bawah, ini dia (bapak) di atas. Itu di RW 5. Posisi rumah saya yang pertama,” katanya, sesekali terhenti oleh tangis.

Longsor itu terjadi dini hari, sekitar pukul dua menuju pukul tiga pagi. Saat itu dia memang tidak bisa tidur.

Baca Juga: Penyelidik Bumi ESDM Ungkap 3 Faktor Penyebab Skala Kerusakan Besar di Longsor Cisarua

“Pas ada suara itu saya langsung keluar. Saya lihat tanah yang longsor. Itu benar-benar sekejap mata. Dalam sekejap mata semua hilang, tertimpa,” tutur Teti.

Suaranya pecah. Mata sembabnya berusaha menerawang momen yang mencekam itu.

Ia menjerit saat itu. Jeritan yang membangunkan keluarga lain di rumahnya.

“Yang lain bangun juga karena jeritan saya. Itu benar-benar dalam sekejap mata, hilang semua,” tambahnya.

Seorang warga lainnya bernama Reni Marsela (41) harus kehilangan empat anggota keluarganya sekaligus.

Tiga anggota keluarganya telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Sementara satu orang lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang dalam timbunan material.

Reni baru memberanikan diri mendatangi puing-puing rumahnya pada hari keempat untuk memantau langsung proses pencarian yang dilakukan tim gabungan.

"Pertama-tama saya terbangun karena mendengar suara gemuruh yang keras sekali seperti angin kencang. Baru mau bertanya ke suami, rumah sudah menimpa semua," ujar Reni Marsela, dikutip dari Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Rabu (28/1).

Reni berhasil selamat bersama anak dan suaminya setelah berjuang keluar dari reruntuhan bangunan melalui bagian atap.

Suaminya secara sigap membongkar paksa material atap agar mereka memiliki akses keluar saat posisi rumah sudah tertimbun sebagian.

Sementara Adi (34) juga kehilangan 11 anggota keluarganya. Paman, bibi, hingga sejumlah keponakan Adi masih terkubur di lokasi longsor.

50 Jenazah Sudah Ditemukan

Ada 80 warga Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), yang hilang akibat longsor pada Sabtu (24/1/2026).

Incident Commander bencana longsor Cisarua Bandung Barat, Ade Zakir mengatakan, hingga hari ke lima pencarian, Rabu (28/1/2026), sudah ada 35 jenazah yang berhasil diidentifikasi oleh Tim DVI.

"Yang dibawa Basarnas dari lokasi ada 50 bodypack (kantong jenazah), dari jumlah itu yang sudah terindentifikasi 35 dan 15 jenazah lagi masih proses identifikasi dari DVI," kata Ade Zakir.***