POJOKSATU.id, JAKARTA-- Kusni Kasdut dikenal sebagai penjahat ulung pada tahun 1960-an hingga 1980-an. Ia beberapa kali merampok, membunuh, dan beberapa kali bisa keluar dari penjara.
Salah satu kejahatan Kusni Kasdut yang melegenda adalah ketika ia merampok Museum Nasional Jakarta.
Kasus itu tertulis dalam buku Kusni Kasdut karya Parakitri T Simbolon, wartawan senior harian Kompas, yang terbit tahun 1979. Tulisan ini menyarikan kisah dari buku yang ditulis Parakitri tersebut.
Baca Juga: Boyamin Saiman Sebut KPK Tak Punya Kemauan Menangkap Politisi PDIP Harun Masiku
Pada tanggal 31 Mei 1961, Kusni Kasdut bersama temannya masuk ke Museum Nasional yang dikenal juga Gedung Gajah.
Kasdut merampok berbagai perhiasan, termasuk enam cincin, berlian, dan subang bermata berlian senilai Rp 2,5 miliar dari Museum Nasional Jakarta.
Setelah melukai penjaga, mereka membawa lari 11 permata koleksi museum tersebut.
Kasdut, Herman, Budi, dan seseorang yang dipanggil Sumali melakukan aksinya di museum ini.
Baca Juga: Anggap Hanya Narasi-narasi Liar, Boyamin Saiman Tak Yakin dengan Temuan Irjen Krishna Murti
Herman menggunakan seragam seorang inspektur polisi. Mereka juga menyiapkan sebuah jip curian yang telah diganti pelat nomornya.
Kasdut membawa sebuah senapan berjenis vicker keluaran Jerman, Sumali dengan vickers Jepang, sedangkan Budi dan Herman masing-masing berbekal sebilah belati.
Mereka berangkat menuju Museum Nasional yang ada di Gambir, Jakarta Pusat, lewat Tanah Abang.
Tak hanya merampok Museum Nasional, aksi fenomenal Kusni Kasdut adalah ketika dia memanjat Tugu Monumen Nasional (Monas) di Jakarta.
Ceritanya, waktu itu dia ingin mengambil obor emas di monumen tersebut. Aksinya itu berhasil digagalkan petugas. Sewaktu Kusni memanjat, dia buru-buru ditangkap petugas.
Awal Mula Jadi Perampok
Di suatu hari setelah perang usai, Panglima Komando Jawa melakukan skrining siapa saja yang berhak menjadi TNI.
Nama Brigade Teratai tidak masuk dalam daftar yang akan dijadikan TNI. Kusni yang memiliki kenalan sempat mengaku sebagai anggota TRIP karena dua temannya bergabung di sana.
Tapi tetap saja, ia ditolak jadi TNI. Kusni lantas kembali ke Rampal mengurus surat pernyataan bekas pejuang.
Butuh waktu satu tahun untuk surat itu terbit sekaligus uang pemulihan yang jumlahnya amat sedikit.
Uang itu diserahkannya ke istri yang dinikahinya semasa perjuangan. Ia lantas membujuk istrinya pulang ke Blitar dengan uang tersebut, sementara dirinya mencari penghasilan.
Dari Malang, Kusni pergi ke Surabaya. Di sana ia bertemu dengan dua teman lamanya yakni Subagyo dan Purnomo.
Dua temannya itu memberi Kusni uang cukup banyak hingga ia bisa mengirimkan sebagian ke kampung. Tapi Kusni merasa bahwa ia tetap butuh pekerjaan.
Ia berangkat ke Jakarta ke kantor Biro Rekonstruksi Nasional yang mengurus penempatan bekas pejuang. Namun di Jakarta juga sama, ia masih tidak bisa mendapat pekerjaan.
Di tengah keterpurukan itu, ia kembali ke Surabaya. Ia kembali bertemu dengan Subagyo dan rekan lainnya sesama bekas pejuang.
Subagyo lantas mengajak Kusni melakukan pemerasan dengan modus penculikan, Kusni yang memimpin.
Saat itu pula Kusni menggunakan nama Kasdut sebagai nama samaran. Pencurian mereka berhasil. Kusni dan kawan-kawannya mendapatkan uang Rp 600.000 yang dibagi rata.
Uang itu terasa begitu banyak dan dibagi-bagikan Kusni ke rekan sesama pejuang. Tapi uang itu cepat menipis.
Kusni lantas kembali merencanakan tindakan serupa. Pemerasan pertama itulah yang mendasari Kusni terus terlibat kasus kejahatan.
Berakhir di Depan Regu Tembak
Hidup Kusni Kasdut berakhir di depan regu tembak di usia 51 tahun. Kusni ditembak mati di sebuah tempat di dekat Kota Gresik, Jawa Timur, 16 Februari 1980.
Pria bertubuh kecil itu kelahiran Blitar, Jawa Timur, Desember 1929. Kusni memiliki nama asli Waluyo.
Di dalam buku ‘Kusni Kasdut’ karya Parakitri Simbolon pada 1979, Kusni atau Waluyo merupakan anak Wonomejo dan Mbok Cilik.
Kusni ditinggal mati ayahnya sejak berumur 5 tahun. Kusni tinggal bersama ibunya dengan hidup yang sangat miskin. Ketika Jepang menjajah Indonesia, Kusni muda bergabung dengan heiho (tentara pembantu).
Kusni ditempatkan di Batalion Matsamura, Kota Malang. Ia dilatih sangat keras oleh tentara Jepang. Salah sedikit, kepala ditempeleng.
Tak lama, Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
Dua hari kemudian, tepatnya 19 Agustus, Kusni bergabung dengan laskar yang tergabung Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Rampal, Malang.
Kusni bersama pasukan laskar itu bergerilya hingga Surabaya menghadapi pasukan Sekutu dan Inggris.***




