POJOKSATU.id, TAPSEL—Tumpukan kayu-kayu besar sisa banjir masih berserakan begitu saja di sepanjang jalan menuju Desa Garoga Batangtoru, Tapsel, Sumut, Sabtu (29/11) siang.

Terjangan Sungai Aek Garoga yang datang bak tsunami Selasa siang (25/11) lalu hanya menyisakan beberapa rumah saja di desa yang berada di pinggir sungai ini.

Diperkirakan sekitar 140 rumah lenyap seketika dibawa banjir. Sebagian rumah yang selamat hanya menyisakan bangunan yang sudah tidak bisa ditempati lagi.

Sungai Aek Garoga membagi dua aliran yang membentuk pulau sepanjang 1.170 meter di desa ini.

Di pulau ini setengah dari sekitar 270 kepala keluarga (KK) penduduk Garoga bermukim, berkebun dan bersawah. Pulau ini juga menjadi perantara dua jembatan; Garoga dan Anggoli.

Baca Juga: Mengerikan! Gajah Sumatera Mati Terbawa Arus Banjir, Tumpukan Kayu Hutan Picu Pertanyaan Besar soal Pembalakan!

Banjir sungai Aek Garoga telah menyapu beberapa desa; Desa Garoga, Huta Godang, dan Desa Aek Ngadol. Desa-desa ini berada di sisi sungai Aek Garoga.

Sukrianto (51), warga Garoga yang selamat mengisahkan kronologi banjir bandang yang menerjang desanya pada Selasa lalu.

Sekitar pukul 03.00 WIB dinihari, air sungai telah naik ke permukiman. Namun masih kecil.

Begitu juga pada pukul 06.00 WIB, air sungai telah naik ke pemukiman dengan skala kecil.

Sebagian warga yang khawatir mulai mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Kondisi pagi itu memang masih hujan deras.

Baca Juga: Viral! Emak-Emak Ngamuk ke Mobil Basarnas Saat Banjir, Minta Keluarganya Diangkut tapi Ditolak

Pukul 11.00 Wib, banjir besar datang dengan membawa banyak material kayu. Banyak warga yang masih bertahan di rumah atau mengungsi ke jembatan Garoga dan ke arah perbukitan.

Warga yang bertahan di rumah tak menyangka air sungai akan setinggi itu. Begitu juga warga yang memilih lari ke jembatan, juga tidak menyangka air akan setinggi hari itu.

Air sungai itu tiba-tiba seperti tsunami, meluas, bergelombang dan menyapu apa pun yang dilaluinya. Warga yang berdiri di pinggir jembatan hanyut tersapu banjir.

“Karena jembatan itulah dirasa yang paling dekat, dan tinggi. Makanya sebagian ada yang ke situ, saat air sudah besar. Nggak sempat lagi ke mana-mana,” terang Sukrianto.

Baca Juga: Viral! Truk Muat Kayu Raksasa Melintas di Tengah Duka Banjir Sibolga Tapteng, Tega Kali Bah!

Sukrianto sendiri lari ke hutan ke arah perbukitan yang berada di belakang rumahnya.

Rumah-rumah penduduk di pulau yang dikitari sungai Garoga pun lenyap disapu banjir. Membentuk aliran sungai baru. Terkikis habis oleh air.

“Saya lihat kawan hanyut. Tapi bagaimana dalam kondisi panik, saya juga nggak bisa menyelamatkannya,” kata ayah 3 anak ini.

Banjir itu juga membawa hanyut istrinya yang hingga kini jasadnya belum ditemukan.

Istri Sukrianto hanyut entah ke mana. Saat siang maut itu, mereka terpisah. Ia mengira istrinya mengikuti dia dan anak-anaknya yang lari ke arah bukit di belakang rumah mereka.

Empat jam kemudian air sungai mulai sedikit surut.

Warga yang bertahan di bukit, menelusuri hutan ke desa tetangga di Desa Aek Ngadol, desa terakhir yang terdampak di pinggiran jalan lintas sumatra. Berjarak kurang lebih 1.3 kilometer.***