POJOKSATU.ID - Seorang Cendikiawan yang juga sejarawan muslim pertama, dia adalah Ibnu Ishaq. Lahir di Madinah pada Tahun 85 Hijriyah, ia diberi nama Muhammad bin Ishaq bin Yasar.

Ibnu Ishaq masih berdarah Irak dari keturuan ayahnya. Kakeknya bernama Yasir, merupakan seorang tawanan perang Khalid bin Walid saat perang dengan Raja Persia pada masanya.

Kemudian, kakeknya menetap di Madinah. Begitu pula dengan Ibnu Ishaq yang menghabiskan masa kecil di kota itu.

Ibnu Ishaq merupakan imam pertama dengan ahli sirah dan maghazi yang memiliki kecerdasan. Menurut literatur Islam, Maghazi adalah ragam tulisan mengenai ekspedisi militer Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya.

Pada abad kedua hijriyah, muai marak penulis yang mengupas sejarah putra Abdullah tersebut. Satu dari penulis sirah nabi yang masyhur pada saat itu adalah Ibnu Ishaq.

Pada tahun 115 H, Ibnu ishaq berkelana ke Alexandria, Mesir. Di sana ia meriwayatkan hadits-hadits salah satunya berasal dari Ubaidillah bin Mughirah.

Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya ke Kuffah hingga ke Baghdad. Di tempat terakhir inilah, ia menetap dan memulai kerja-kerja intelektualnya.

Penguasa Baghdad Khalifah Al-Manshur, mendengar kecerdasan Ibnu Ishaq. Sang raja pun mengundangnya ke istana. Lalu pada saat itu, Ibnu Ishaq diperintahkan untuk menyelesaikan sebuah karangan kitab yang berisi tentang kisah sejak zaman Nabi Adam Alaihi Salam.

Kemudian ia pun menyelesaikan tugas dari Khalifah al-Manshur tersebut, dengan karya yang monumental berjudul Sirah Nabawiyah.

Kitab tersebut, terbagi dalam tiga bahasan utama. Pertama, tentang awal mula kehidupan Nabi Muhammad (mubtada'). Kedua bagian Nabi Muhammad diangkat sebagai Nabi dan Rasul (mab'ats). Dan terakhir, peperangan yang terjadi dan yang diikuti oleh Nabi Muhammad (maghazi).

Dalam perkembangannya, Sirah Nabawiyah merupakan buku sejarah terbesar yang memiliki sejarah tersendiri.

Buku tersebut mengundang para penulis lainnya tidak hanya untuk dibaca dan diacu, tetapi juga merangsang untuk menuliskan karya-karya baru yang menjadi turunannya.

Ibnu Hisyam merupakan salah satu penulis yang melakukan reproduksi terhadap sirah Nabawiyah. Ia menuliskan syarah atau penjelas dari apa yang telah ditulis oleh Ibnu Ishaq.

Dalam tulisannya tersebut, Ibnu Hisyam meringkas beberapa bagian yang sekiranya tidak berhubungan langsung dengan Nabi Muhammad. Seperti halnya uraian tentang nabi-nabi putra Ibrahim.

Selain itu, Ibnu Hisyam juga memberikan penambahan riwayat pada bagian-bagian yang sekiranya perlu. Sekaligus memberikan koreksi dan solusi pada kesimpulan yang dibuat oleh Ibnu Ishaq, namun dinilai masih lemah dan bermasalah.

Tak berhenti pada Ibnu Hisyam saja. Usaha reproduksi dari Sirah Nabawiyah juga dilakukan oleh Abul Qasim Abdurahman as-Suhaili.

Abdul Qasim membuat kitab syarah dari Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Ibnu Hisyam. Sebagaimana kitab syarah, As-Suhaili juga memberikan komentar, kritik sekaligus penambahan data. Kitab tersebut, ia beri judul, 'Ar-Raudlu al-Unfu'.

Tak hanya mengundang syarah, Sirah Nabawiyah juga mengundang para pengkritik. Salah satunya adalah Badruddin Muhammad bin Ahmad al-'Aini al-Hanafi. Kitab tersebut berjudul “ Kasyful Litsam ” yang selesai ditulis pada 805 H.

Akan tetapi, karya Badruddin tersebut, segera memancing penulis lainnya untuk membela Sirah Nabawiyah. Ia adalah Abu Dzar al-Khasyni yang memaparkan berbagai hal yang gharib atau menyimpang, dan berbagai kesalahan dari apa yang ditulisnya mengenai Ar-Raudlu al-Unfu.

Kemudian muncul as-Suhaili dan al-Khasyni, merupakan dua penulis yang semakin mengokohkan lagu akademik dari Sirah Nabawiyah tersebut.

Selain menghasilkan syarah, Sirah Nabawiyah juga melahirkan mukhtashar atau konsiliasi. Sirah yang ditulis berjilid dan tebal tersebut, diringkas oleh Burhanuddin bin Muhammad al-Murahhil asy-Syafi'i yang membagi tiga bagian besar karya Ibnu Ishaq tersebut, ke dalam 18 bagian yang lebih ringkas. Kitab itu diberi judul “adz-Dzakirah fi Mukhtashar as-Sirah” yang rampung ditulis pada tahun 611 H.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Imaduddin bin Abdurrahman al-Wasithi. Ia memberi nama kitabnya tersebut, “Mukhtashar Sirah Ibnu Hisyam ”. Ia menuntaskannya pada 711 H.

Karya lain dari reproduksi Sirah Nabawiyah, selain berupa syarah dan mukhtashar, juga berupa nadzam alias umpan-umpan syair. Di antara penulisnya adalah Abu Muhammad Abdul Aziz, Abu Nashar al-Fath, Abu Ishak al-Anshari at-Talmisani, dan Abu Bakar. Nama kitabnya yang berjudul “al-Fathul Qarib .”

Dalam perkembangan selanjutnya, Sirah Nabawiyah termasuk ke dalam bahasa pengantar yang beraneka ragam. Tak hanya dalam bahasa Arab sebagaimana aslinya, tapi juga diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa besar di dunia. Seperti halnya “The Life of Muhammad ” yang ditulis oleh A. Guillaumi dalam bahasa Inggris.

Demikianlah sebuah karya besar. Tak hanya melahirkan nama besar, tapi juga mampu melahirkan karya-karya turunannya yang tak kalah besarnya. Sebuah Magnum opus akan abadi dengan sendirinya.

Ibnu Ishaq wafat sekitar tahun 150 atau 153 Hijriyah.
(TIK/NIN/pojoksatu)