POJOKSATU.id, JAKARTA-- Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia yang menentang Belanda hingga Jepang. Jari tangannya bahkan sampai remuk disiksa Jepang.

Ayah dari KH Abdul Wahid Hasyim ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 17 November 1964.

Kakek Gus Dur ini merupakan kelahiran 10 April 1875. Kiai Hasyim meninggal pada 25 Juli 1947 di usia 72 tahun.

dan pernah mengeluarkan Resolusi Jihad saat mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada 22 Oktober 1945.

Baca Juga: Partai Nasdem Haqul Yakin Cak Imin Tidak Terlibat Kasus Korupsi

Pada masa awal penjajahan Jepang, pihak Jepang bersikap lebih lunak dibanding pihak penjajah Belanda. Ini dilakukan sebagai upaya untuk memperoleh dukungan para pemimpin Muslim.

Pada 1942, Kiai Hasyim Asy'ari beserta beberapa santri ditahan kembali karena menolak untuk melakukan seikere yaitu penghormatan terhadap kaisar Hirohito dan ketaatan pada Dewa Matahari yang merupakan suatu kewajiban bagi rakyat Indonesia kala itu.

Selama dalam tahanan, banyak penyiksaan fisik yang diterima Kiai Hasyim Asy’ari, bahkan jari tangannya sampai remuk disiksa tentara Jepang.

Akhirnya, setelah empat bulan, tepatnya pada tanggal 18 Agustus 1942, Hasyim Asy’ari dibebaskan karena banyaknya protes dari kalangan kiai dan santri.

Baca Juga: Diserang Fans Fuji Gegara Thariq Berhubungan dengan Aaliyah Massaid, Atta Halilintar : Kok Kita yang Dimaki?

Meski mengalami beragam kekerasan di dalam penjara, tidak menyurutkan sedikit pun semangat Kiai Hasyim menegakkan agama Allah dengan tetap melantunkan ayat suci Al Qur’an dan mengulang hafalan hadits-hadits dalam kitab Al Bukhari.

Kisah keteguhan hati Kiai Hasyim Asy’ari di penjara Jepang ini diriwayatkan oleh Komandan Hizbullah wilayah Jawa Tengah, KH Saifuddin Zuhri saat berbincang dengan KH Wahid Hasyim.

Momen ini terjadi dalam sebuah kesempatan sesaat setelah Kiai Hasyim Asy’ari dibebaskan oleh Jepang melalui diplomasi KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Wahid Hasyim sendiri.

Kiai Wahid Hasyim menjelaskan bahwa kesehatan ayahnya justru semakin membaik di penjara Jepang.

Baca Juga: Kampung Bebas Narkoba Hadir, Persempit Ruang Penyalahgunaan Barang Haram di Kota Bandung

Kiai Hasyim menyebut ayahnya selama di penjara mampu mengkhatamkan Al-Quran dan Kitab Hadits Al-Bukhari berkali-kali.

Awalnya Kiai Hasyim dipenjara di Jombang, lalu dipindah ke Mojokerto.

Dipenjaranya Kiai Hasyim Asy’ari memantik perlawanan dari ribuan santrinya.

Mereka ramai-ramai menggeruduk penjara Jepang di Jombang sehingga mereka terpaksa harus memindahkan ayah Kiai Abdul Wahid Hasyim itu ke Mojokerto.

Langkah tersebut sekaligus disadari oleh Jepang bahwa langkah mengurung Kiai Hasyim merupakan kesalahan besar sehingga langkah diplomasi perlu dilakukan.

Baca Juga: Demokrat Tegaskan Sudah Selesai dengan Anies Baswedan, Berharap Mega Bisa Terima SBY

Langkah diplomasi ini memang sekuat tenaga dilakukan oleh Jepang dengan Kiai Abdul Wahab Chasbullah dan Kiai Wahid Hasyim.

Dipenjaranya Kiai Hasyim menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Jepang akan munculnya perlawanan yang lebih besar bangsa Indonesia terhadap kolonialisme.

Jepang memperoleh informasi yang salah ketika menuduh Kiai Hasyim Asy’ari memobilisasi rakyat untuk melakukan pemberontakan di daerah Cukir, sekitar Jombang.

Akhirnya kesepakatan diperoleh, Jepang mau membebaskan Kiai Hasyim Asy’ari dengan syarat ia mau diangkat sebagai Shumubucho, Kepala Jawatan Agama yang dulunya dijabat oleh seorang Jepang, Kolonel Horie.

Baca Juga: Tangis Haru Ganjar Pranowo Pecah Usai Pamitan Kepada Ribuan Rakyat Jawa Tengah

Di sinilah politik kompensasi dilakukan oleh Jepang untuk menarik perhatian rakyat Indonesia karena Kiyai Hasyim mempunyai pengaruh yang sangat luas. Kiyai Hasyim setuju dengan berbagai syarat.


Kyai Hasyim Melawan Belanda

Perjuangan Kyai Hasyim Asy’ari tidak saja melawan Jepang, namun juga melawan Belanda. Pada tahun 1913 misalnya, intel Belanda mengirim seorang pencuri untuk membuat keonaran di Tebuireng.

Pencuri ini kemudian tertangkap dan dihajar oleh para santri hingga tewas. Tewasnya pencuri ini dimanfaatkan pihak Belanda untuk menangkap Hasyim Asy’ari dengan tuduhan pembunuhan.

Akan tetapi, karena Hasyim Asy’ari memahami dengan baik hukum-hukum Belanda, ia dapat menepis semua tuduhan tersebut dan lepas dari jeratan hukum.

Tidak puas karena belum berhasil menjatuhkan Hasyim Asy’ari, Belanda mengirimkan beberapa kompi pasukan untuk menghancurkan pesantren Hasyim Asy’ari yang baru berusia 10 tahunan kala itu.

Alhasil, bangunan pesantren porak-poranda dan kitab-kitab hancur serta terbakar. Perlakuan Belanda ini terus berlangsung sampai tahun 1940.***