POJOKSATU.id, JAKARTA — Tak semua wanita takluk dengan kharisma dan rayuan maut cinta Presiden Soekarno di masa kejayaannya. Dua wanita ini contohnya, tegas menolak cinta Sang Proklamator.
Soekarno memang sering disebut penakluk wanita. Total sembilan perempuan dengan resmi dinikahi Soekarno antara lain Siti Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Ratna Sari Dewi, Yurike Sanger, Haryati, Kartini Manoppo dan Heldy Djafar.
Namun tak banyak yang tahu kalau presiden pertama Indonesia itu pernah ditolak cintanya. Ada dua wanita cantik yang menolak cintanya yaitu Goesti Noeroel dan Irma Ottenhoff Mamahit.
1. Goesti Noeroel
Goesti Raden Ajeng Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemawardhani atau akrab disapa Gusti Noeroel merupakan Putri dari Keraton Mangkunegaran.
Dia memiliki kecantikan, kecerdasan, dan pemikiran yang modern di masa mudanya.
Pesona kecantikannya berhasil memikat tiga tokoh besar tanah air, mulai Soekarno, Sutan Sjahrir, hingga Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Mantan KSAD Jenderal Goesti Pangeran Harjo Djatikoesoemo juga kepincut. Sayangnya cinta mereka semua tak bersambut.
"Aku tak bisa menerima cinta mereka. Penyebabnya hanya satu, aku tak mau dimadu," tutur sang putri dalam memoarnya yang berjudul Goesti Noeroel: Straven naar Geluk (Mengejar Kebahagiaan).
Sebagai seorang wanita berpikiran modern, Gusti Noeroel selalu berpegang teguh pada prinsipnya untuk menolak poligami.
Perempuan cantik yang hobi berkuda di masa muda ini selalu mengingat nasihat ibunya, Goesti Kanjeng Ratu Timoer untuk tidak mau dimadu.
Pada akhirnya Gusti Noeroel lebih memilih Raden Mas Soerjosoejarso, seorang perwira berpangkat letnan kolonel yang masih sepupunya sendiri.
2. Irma Ottenhoff Mamahit
Irma Ottenhoff Mamahit merupakan seorang pramugari yang pernah bertugas di pesawat Kepresidenan Dolok Martimbang.
Irma ditugaskan di Dolok Martimbang setelah menjalani serangkaian tes pada tahun 1960. Irma mengaku sering bertugas bersama Kartini Manoppo, pramugari Garuda Indonesia yang juga menjadi salah satu istri Soekarno.
Menurut pengakuan Irma ketika diwawancarai majalah Kartini pada tahun 1979, Bung Karno kepincut terhadap kecantikannya saat memakai kebaya.
Soekarno bahkan sempat mengganti nama tengah Irma yang baginya kebarat-baratan menjadi Hidayana, singkatan dari 'taufik hidayah Tuhan'. Namun cintanya tak disambut oleh Irma.
Sang pramugari tak tertarik pria berumur, apalagi yang sudah punya banyak istri.
Bung Karno maklum dan merelakan cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun dia menjadi murka setelah mendengar kabar pernikahan Irma dengan seorang duda yang kebetulan berseberangan politik dengan Bung Karno. Irma lalu dipanggil ke Istana.
"Irma, kau tolak cintaku, karena umurku. Kenapa kau kawin dengan dia yang seumur aku pula?" tuntut Bung Karno.
Pada akhirnya, Bung Karno lagi-lagi mengikhlaskan Irma. Bahkan sempat memberikan bantuan bagi Irma saat suaminya ditahan selama enam bulan. (ikror/pojoksatu)




