POJOKSATU.id - Soekarno sebagai presiden Indonesia memang dikenal memiliki banyak istri. Salah satunya adalah Sakiko Kanase yang sering kali terlupakan dalam cerita tersebut.

Sakiko Kanase merupakan istri kelima Soekarno yang lahir di Jepang pada 1 September 1934.

Pertemuan pertama Sakiko dengan Ir. Soekarno terjadi ketika ia bekerja sebagai seorang model. Mereka berkenalan di Kyoto, Jepang pada tahun 1958 dan Sakiko pun berhasil memikat hati Soekarno.

Sakiko dan Ir. Soekarno akhirnya memutuskan untuk menikah dan menggelar pernikahan di Hotel Daiichi di Kota Ginza, Tokyo, Jepang pada tahun 1958.

Baca Juga: Abadikan Jasa Sang Proklamator, Inilah Tempat dan Jalan di Dunia dengan Nama Soekarno

Setelah menikah, Sakiko memutuskan untuk memeluk agama Islam mengikuti agama yang dianut oleh Soekarno.

Ketika mereka pindah ke Jakarta dan tinggal di rumah mewah di daerah Menteng, Jakarta Pusat, Sakiko mengikuti kehidupan muslim dan menganut agama tersebut.

Sebagai penghormatan dan sebagai bagian dari adaptasi kebudayaan baru, Soekarno memberikan nama Indonesia untuknya, yaitu Saliku Maesaroh.

Saat berada di Jakarta, Sakiko juga bekerja sebagai guru privat di salah satu cabang perusahaan Jepang di Indonesia yakni Kinoshita Trading Company. Dari pekerjaannya tersebut, ia dikenal sebagai "Ibu Guru Basuki".

Baca Juga: Kisah Cinta Soekarno dengan Hartini, Janda 5 Anak yang Setia Dampingi Bung Karno Hingga Tiada

Seiring berjalannya waktu, Soekarno yang sibuk mengurus masalah pampasan perang tetap rutin untuk pulang-pergi ke Jepang. Saat itulah, Soekarno bertemu dengan seorang gadis cantik berusia 19 tahun.

Gadis Jepang tersebut bernama Naoko Nemoto atau yang sekarang dikenal sebagai Ratna Sari Dewi Soekarno.

Pada saat itu, Naoko bekerja sebagai hostesu atau sebutan untuk profesi seorang wanita yang menemani para pria di klub malam Jepang.

Profesi tersebut sangat diminati di Jepang antara tahun 1950 hingga 1959. Sebab dianggap sebagai pekerjaan yang mewah dan dapat memberikan gaji tinggi kepada para wanita Jepang yang sulit mendapatkan pekerjaan lainnya.

Soekarno yang kembali dimabuk cinta pun mengundang Naoko untuk datang ke Indonesia. Naoko dengan senang hati menerima ide tersebut dan pada tanggal 14 September 1959, Naoko tiba di Jakarta.

Baca Juga: Kisah Omar Dhani, Panglima Kesayangan Soekarno yang Jadi Pesakitan di Masa Soeharto

Kedatangan Naoko akhirnya tercium oleh Sakiko hingga membuat hatinya terbakar oleh rasa marah dan cemburu. Dua minggu setelah Naoko datang ia merasa frustrasi dan terbuang di tanah asing.

Sayangnya, Sakiko mengalami kekecewaan yang begitu dalam sehingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Pada tanggal 30 September 1959, Sakiko meninggal dunia.

Soekarno lantas terkejut dan berlinang air mata mendengar berita yang menyedihkan tersebut. Ia kemudian meminta para bawahannya untuk mengatur pemakaman istri Jepangnya dengan baik dan tanpa menarik perhatian orang.

Kematian Sakiko dirahasiakan dengan hati-hati dari pers dan masyarakat umum. Sehingga inilah yang menjadi alasan mengapa upacara pemakaman dilakukan pada malam hari dan tidak dihadiri oleh banyak orang.

Meskipun demikian, setelah tiga tahun sejak kematian Sakiko, Naoko akhirnya secara resmi menjadi pendamping Soekarno.

Kisah cinta Soekarno dengan Sakiko Kanase yang hanya berlangsung kurang dari satu tahun tersebut berakhir dengan tragis dan nama Sakiko Kanase sebagai istri Bung Karno pun terlupakan begitu saja.***