POJOKSATU.id - Kisah Viral dan haru kembali datang dari sebuah kawasan pesisir yang terpencil, hidup seorang anak berusia 11 tahun bernama Aza.
Ia baru duduk di kelas 1 SMP, namun beban yang ia pikul jauh lebih berat daripada anak seusianya.
Di usia yang seharusnya dihabiskan untuk belajar dan bermain.
Aza justru harus bergulat dengan kenyataan hidup yang pahit dan dewasa sebelum waktunya.
Hilangnya Ibu, Perginya Ayah
Aza tumbuh tanpa hangatnya kedua orangtua. Sang ibu lebih dulu meninggalkan dunia setelah berjuang melawan sakit lambung kronis.
Kepergian ibunya menyisakan luka mendalam, terlebih karena tak lama setelah itu, ayahnya pergi tanpa jejak dan tak pernah kembali.
Sejak hari itu, Aza benar-benar berdiri sendirian, tanpa pelukan seorang ibu dan tanpa sandaran seorang ayah.
Setelah ditinggalkan kedua orangtuanya, Aza tinggal bersama neneknya yang juga tengah berjuang dengan kesehatannya.
Nenek Aza hanya bisa terbaring di atas kasur tipis di sudut rumah sederhana mereka.
Untuk makan pun nenek harus disuapi, dan hampir semua kebutuhan rumah kini menjadi tanggung jawab Aza.
Anak kecil yang seharusnya masih sepenuhnya bergantung pada orang dewasa.
Menjadi Buruh Pengupas Udang demi Bertahan Hidup
Untuk memastikan ia dan neneknya tetap bisa makan setiap hari, Aza memilih bekerja sepulang sekolah.
Pekerjaan itu bukan pekerjaan ringan, terutama untuk anak seusianya mengupas udang.
Setelah pulang dari sekolah, ia langsung menuju tempat pengupasan.
Upah yang diperolehnya hanya Rp2.500 per kilogram, dan dalam sehari ia hanya mampu mengupas sekitar 3 hingga 6 kilogram.
Artinya, pendapatan maksimal Aza hanya sekitar Rp15.000 dalam sehari.
Jumlah itu tentu saja sangat kecil, namun bagi Aza itulah harapan. Uang itu untuk membeli makanan sederhana bagi dirinya dan nenek yang sakit.
Namun pekerjaan ini tak menentu. Jika nelayan tak mendapat hasil, maka Aza tak bisa bekerja.
“Kalau lagi ga ada udang, Aza ga bisa kerja, Kak. Aza sama nenek jadi sering ga makan,” ucapnya dengan suara pelan dilansir Instagram @pembasmikehaluanreal.
Bagi sebagian orang, Rp15.000 mungkin hanya cukup untuk membeli segelas minuman.
Tapi bagi Aza, itu adalah nilai yang menentukan apakah ia dan neneknya makan atau tidur dengan perut kosong.
Rumah Nyaris Roboh, Terendam Saat Pasang
Masalah Aza tak berhenti pada persoalan ekonomi. Rumah yang ia tinggali bersama nenek berada tepat di pinggir laut dan kondisinya sangat memprihatinkan.
Dinding rumah sudah rapuh, lantai lembap, dan bagian atap berlubang di berbagai sudut sehingga angin malam mudah masuk. Ketika hujan turun, air menetes tak henti-henti.
Baca Juga: Pengakuan Mengejutkan! AKBP Basuki Hidup Serumah 5 Tahun dengan Dosen Untag yang Tewas
Saat air laut pasang, rumah itu sering kali terendam.
Air asin menyusup ke lantai, membuat mereka kedinginan sepanjang malam dan sulit tidur.
Kondisi rumah yang nyaris tak layak huni itu membuat perjuangan Aza semakin berat.
Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu Jepara Jauh dari UMK? Pemkab Bongkar Alasan Sebenarnya
Selain mengurus nenek yang sakit, ia juga harus memastikan rumah tetap bertahan dan tidak roboh.
Bocah Kecil dengan Jiwa Besar
Meski hidupnya penuh keterbatasan, Aza tetap berusaha sekolah seperti anak-anak lain. Ia pulang sekolah tidak untuk bermain, melainkan langsung bekerja.
Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu Jepara Jauh dari UMK? Pemkab Bongkar Alasan Sebenarnya
Di tangan kecilnya, kulit udang ia kupas satu per satu. Semua demi orang yang masih tersisa baginya neneknya.
Guru-guru di sekolahnya mengenal Aza sebagai anak yang pendiam, jarang mengeluh, dan selalu berusaha hadir meski keadaan di rumah sering kali menyulitkannya.
Baca Juga: Viral Nikah Siri Dijual Online, Agama Kok Jadi Paket Promo di TikTok!, Begini Respon Ulama
Namun di balik sikapnya yang tegar, Aza memendam rasa rindu yang dalam pada kasih sayang orangtua.
Tak jarang, ia hanya bisa menahan air mata ketika melihat teman-temannya diantar orangtua ke sekolah atau ketika mendengar cerita teman lain tentang liburan keluarga.
Harapan Kecil Aza
Kisah Aza adalah potret nyata perjuangan seorang anak kecil yang dipaksa hidup terlalu cepat.
Baca Juga: Miris! Sikap Pilih Pilih kasus Jet Pribadi KPU dan Pengadaan Gas Air Mata, Ada Apa Dengan KPK ?
Di balik tubuh ringkihnya, ada hati yang kuat, keberanian yang besar, dan tanggung jawab yang luar biasa.
Aza hanya ingin satu hal ia ingin neneknya sembuh dan mereka bisa hidup lebih layak.
Tidak lagi tidur di rumah yang tergenang air, tidak lagi makan seadanya, tidak lagi bergantung pada upah kecil yang tak menentu.
Di tengah kondisi yang serba sulit, Aza tetap berharap masa depannya kelak bisa berubah. Ia ingin tetap sekolah dan bercita-cita memiliki pekerjaan yang lebih baik.
Meski hidupnya penuh keterbatasan, semangatnya adalah sesuatu yang tak bisa dibeli oleh apa pun.***




