POJOKSATU.id, TAPTENG—Lambannya pemerintah memberikan bantuan ke Kelurahan Nauli Kecamatan Sitahuis Tapteng, hingga 6 hari bencana, nyaris membuat ratusan warga kelaparan.

Beruntung salah satu truk yang terjebak longsor di kelurahan ini berisi 7 ton beras. Patar Sibuea si sopir truk ini lalu menyerahkan 7 ton beras yang dia bawa kepada warga.

Dia tak tega melihat warga yang sudah mondar-mandir mencari beras atau mulai kehabisan pangan disebabkan bantuan tak kunjung datang ke Kelurahan Nauli, Sitahuis.

Beras itu sebenarnya bukan miliknya, namun milik saudagar atau beberapa toke beras di sana. Dia hanya bertugas membawa saja.

Baca Juga: Berkaca dari Bencana Sumatera, Wawalkot Depok Minta ASN Tindak Tegas Bangunan Liar

Patar menceritakan pengalamannya terjebak longsor di Sitahuis kepada Radio Republik Indonesia (RRI) di Laguboti, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, Selasa (2/12/2025).

Menurutnya, awal kejadian longsor, Senin (24/11), dia terjebak di sekitar Kelurahan Nauli, Sitahuis, Tapanuli Tengah.

Jalur yang dia lalui merupakan jalan lintas Sumatera yang menghubungkan Tapanuli Utara ke Kota Sibolga. Patar membawa 7 ton beras dalam truknya ketika bencana terjadi.

Truk yang dia bawa tidak terkena longsoran dan diparkiran di pinggir jalan di Kelurahan Nauli.

Setelah beberapa hari terjebak, dia mulai mendengar desas desus, warga mulai kehabisan pangan dan akan menjarah truk miliknya.

Baca Juga: Polisi Sikat Tambang Ilegal di 3 Kabupaten, Kerugian Negara Tembus Rp18 Miliar

Mendengar desas desus ini, dia kemudian mencari tokoh masyarakat di sana untuk meminta bantuan. Tokoh tersebut kemudian membawanya ke rumah lurah.

"Jadi, saya berinisiatif, punya pikiran, saya lihat di situ ada bapak, tokoh masyarakat, marga Pandiangan. Saya temuin bapak itu, saya minta diajak ke rumahnya Bu Lurah. Pemerintah-pemerintah yang terdekatlah," kata dia.

Di rumah itu, Patar menyampaikan bahwa truknya membawa 7 ton beras.

Baca Juga: Menhut Raja Juli Nilai Desakan Mundur Aspirasi, Korban Hilang Tewas Banjir Sumatera Sudah 1.354 Orang

Dia rela memberikan 7 ton beras kepada warga yang belum menerima bantuan, asalkan dibuatkan surat pertanggungjawaban sebelum pembagian dilakukan.

Lurah setempat menyetujui permintaan itu dan membuat surat. Dokumen tersebut menjadi dasar pembagian beras kepada warga terdampak di Kelurahan Nauli, Sitahuis.

Pembagian berlangsung pada 29 November 2025 atau lima hari usai bencana longsor di sana.


Patar melihat banyak warga menahan haru saat beras dibagikan. Sebab, mereka sudah dua hari tidak memiliki persediaan pangan.

Selama enam hari terjebak di Sitahuis, Patar tinggal di lokasi pengungsian bersama para sopir lainnya. Mereka bertahan dengan dapur umum dan makanan seadanya.

Patar memilih tetap berada di lokasi sampai semua beras terbagi. Ia ingin memastikan warga menerima bantuan sebelum dia pulang ke Laguboti Taput.

Setelah alat berat membuka sebagian akses, ia akhirnya dapat keluar. Patar pun melintasi ladang dan hutan warga dengan berjalan kaki karena jalur utama belum pulih.

Kini, ia menunggu kepastian pemerintah mengenai penggantian berasnya. Ia berharap ada keputusan, karena seluruh beras itu ia relakan demi warga yang kelaparan.

"Ya, harapan kami agar segera ada titik terang dari peristiwa ini," ujarnya.***