POJOKSATU.id - Kata dhuha secara bahasa berarti awal siang atau waktu pagi ketika matahari mulai meninggi.

Dalam kajian fiqih, salat Dhuha adalah salat sunnah yang dilakukan pada waktu dhuha, yaitu sejak matahari terbit setinggi satu tombak hingga menjelang zawâl atau tergelincirnya matahari ke arah barat.

Hukumnya sunnah muakkadah, yakni sangat dianjurkan untuk dilaksanakan.

Rentang waktunya dimulai setelah matahari naik kira-kira setinggi tujuh hasta hingga sebelum masuk waktu Zuhur. Meski demikian, ada waktu yang dinilai lebih utama untuk melaksanakannya.

Keutamaan Salat Dhuha
Salat Dhuha memiliki banyak keutamaan sebagaimana dijelaskan dalam berbagai riwayat hadis.

Pertama, dua rakaat salat Dhuha dapat menggantikan sedekah untuk seluruh persendian tubuh manusia.

عَنْ أَبِى ذَرٍّ عَنِ النَّبِىِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ... وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى. (رواه مسلم)

Artinya, “Diriwayatkan dari Abu Dzar radliyallahu ‘anh, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: ‘Ada sedekah atas seluruh tulang salah seorang dari kalian… dan dua rakaat salat Dhuha mencukupi semuanya itu’,” (HR Muslim).

Kedua, salat Dhuha disebut sebagai salat kaum awwâbîn, yakni orang-orang yang kembali dan bertaubat kepada Allah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: لَا يُحَافِظُ عَلَى صَلَاةِ الضُّحَى إِلَّا أَوَّابٌ... (رواه الحاكم)

Artinya, “Tidak ada yang menjaga salat Dhuha kecuali orang yang kembali kepada Allah dengan bertaubat… Salat Dhuha adalah salat orang-orang yang kembali kepada Allah,” (HR al-Hakim).

Ketiga, setiap jumlah rakaat memiliki keutamaan tersendiri sebagaimana diriwayatkan al-Baihaqi:

عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ ... وَإِنْ صَلَّيْتَهَا ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللهِ لَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ. (رواه البيهقي)

Artinya, “Jika engkau salat Dhuha dua rakaat maka tidak dicatat sebagai orang lalai; empat rakaat dicatat sebagai orang berbuat baik; enam rakaat sebagai orang taat; delapan rakaat sebagai orang beruntung; sepuluh rakaat tidak dicatat dosa pada hari itu; dan dua belas rakaat akan dibangunkan rumah di surga,” (HR al-Baihaqi).

Waktu Paling Utama
Meski waktu salat Dhuha dimulai sejak matahari naik setinggi tombak, waktu yang paling utama adalah ketika terik matahari mulai terasa panas, kira-kira setelah seperempat siang berlalu atau sekitar pukul 09.00 pagi.

Imam Muslim meriwayatkan:

صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِيْنَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ (رواه مسلم)

Artinya, “Salat kaum awwâbîn adalah ketika anak-anak unta merasakan panasnya bumi karena terik matahari,” (HR Muslim).

Hikmahnya agar setiap seperempat siang tidak kosong dari ibadah salat: awal siang ada Subuh, kemudian Dhuha, dilanjutkan Zuhur, dan Ashar.

Jumlah Rakaat dan Bacaan
Salat Dhuha dilaksanakan dua rakaat satu salam. Minimal dua rakaat dan maksimal dua belas rakaat.

Surat yang dianjurkan setelah al-Fatihah antara lain:

Asy-Syams dan Adh-Dhuha

Al-Kafirun dan Al-Ikhlas

Bahkan lebih utama digabung, rakaat pertama membaca Asy-Syams dan Al-Kafirun, rakaat kedua membaca Adh-Dhuha dan Al-Ikhlas.

Untuk rakaat berikutnya, dianjurkan Al-Kafirun di rakaat pertama dan Al-Ikhlas di rakaat kedua.

Niat Salat Dhuha
Niat dilakukan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Untuk membantu pemantapan niat, boleh dilafalkan:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushallî sunnatad dhahâ rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Saya niat salat sunnah Dhuha dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Doa Setelah Salat Dhuha
Setelah salam, dianjurkan membaca doa berikut:

اَللّٰهُمَّ إِنَّ الضَّحَآءَ ضَحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللّٰهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِيْ فِي السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعْسَرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ، بِحَقِّ ضَحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ، آتِنِيْ مَا آتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ.


Allâhumma innad dlahâ’a dlahâ’uka, wal bahâ’a bahâ’uka, wal jamâla jamâluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ‘ishmata ‘ishmatuka. Allâhumma in kâna rizqî fis samâ’i fa anzilhu, wa in kâna fil ardhi fa akhrijhu, wa in kâna mu‘assaran fa yassirhu, wa in kâna harâman fa thahhirhu, wa in kâna ba‘îdan fa qarribhu, bi haqqi dlahâ’ika wa bahâ’ika wa jamâlika wa quwwatika wa qudratika, âtinî mâ âtayta ‘ibâdakash shâlihîn.

Artinya, “Wahai Tuhanku, sungguh dhuha ini adalah dhuha-Mu, keagungan ini adalah keagungan-Mu, keindahan ini adalah keindahan-Mu, kekuatan ini adalah kekuatan-Mu, dan penjagaan ini adalah penjagaan-Mu. Wahai Tuhanku, jika rezekiku berada di atas langit, maka turunkanlah; jika berada di dalam bumi, maka keluarkanlah; jika dipersulit, mudahkanlah; jika (tercampur tanpa sengaja dengan yang) haram, sucikanlah; jika jauh, dekatkanlah; dengan hak dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu dan kekuasaan-Mu, berikanlah kepadaku apa yang Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Doa Kedua:

اَللّٰهُمَّ بِكَ أُصَاوِلُ وَبِكَ أُحَاوِلُ وَبِكَ أُقَاتِلُ

Allâhumma bika ushâwilu, wa bika uhâwilu, wa bika uqâtilu.

Artinya, “Dengan-Mu, aku menerjang. Dengan-Mu, aku berupaya. Dengan-Mu, aku berjuang.”

Doa Ketiga (dibaca 40 atau 100 kali):

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Rabbighfir lî, warhamnî, wa tub ‘alayya, innaka antat tawwâbur rahîm.


Artinya, “Tuhanku, ampunilah aku. Kasihanilah aku. Terimalah tobatku. Sungguh Engkau Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang.”

Salat Dhuha bukan sekadar ibadah sunnah, tetapi sarana mendekatkan diri kepada Allah, membuka pintu rezeki, dan menjaga hati agar tidak lalai.

Di tengah kesibukan pagi, menyempatkan dua rakaat Dhuha bisa menjadi pengingat bahwa keberkahan hari bermula dari sujud yang tulus dan doa yang penuh harap.***