POJOKSATU.id, JAKARTA - Pakar hukum tata negara, Prof Denny Indrayana menyebut ada ketua umum (Ketum) partai politik yang menjual partainya kepada kandidat calon presiden seharga Rp 5 triliun.
Menurut Denny Indrayana, ketum parpol tersebut bersedia mengusung kandidat calon presiden yang didukung Mahfud MD, asalkan bersedia membayar Rp 5 triliun.
Denny menyatakan salah satu syarat menjadi pasangan calon (paslon) pilpres adalah logistik, bukan miliaran, tapi triliunan rupiah.
Hal itu dikatakan Denny Indrayana melalui akun Twitternya, @dennyindrayana yang dilihat Pojoksatu.id, Selasa 6 Juni 2023.
"Ketika sang tokoh yang didukung Prof. Mahfud menyatakan tidak memilih seorang pimpinan sebagai cawapres, tapi masih membutuhkan parpolnya sebagai rekan koalisi, sang ketum menyebut angka Rp 5 (lima) triliun sebagai harga jual partainya," kata Denny.
BACA : Denny Indrayana Ungkap Suap Rp 5 Triliun untuk Ketum Parpol, Tulis Surat Terbuka ke Megawati
Denny tak menyebut identitas ketum parpol yang jual partai Rp 5 triliun kepada kandidat capres.
Mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM (Wamenkumham) itu hanya mengatakan bahwa pilpres masih transaksional.
"Salah-salah kita terjebak bukan pada presiden pilihan rakyat, tapi presiden pilihan uang," jelas Denny.
Karena itulah, lanjut Denny, semua pihak harus memperjuangkan sendiri daulat rakyat (demokrasi) melawan daulat duit (duitokrasi).
"Salah satunya dengan memastikan Mahkamah Konstitusi tidak mengebiri suara rakyat pemilih, dengan mengubah sistem proporsional terbuka, menjadi proporsional tertutup," terang Denny.
BACA : Dilaporkan ke Polisi, Denny Indrayana Bilang Akan Melawan Hukum yang Disalahgunakan
Denny Indrayana mengaku sempat berbincang dengan Menkopolhukam, Mahfud MD di rumah dinasnya beberapa waktu lalu.
Saat itu, Mahfud menyampaikan apakah Denny Indrayana dan teman-teman tidak mempertimbangkan tokoh lain sebagai calon presiden (capres).
Bahkan, Mahfud MD menyebut salah satu tokoh yang menurutnya layak untuk didukung menjadi calon presiden.
"Beliau sebutlah satu nama, saya bilang, “Menarik”. “Orangnya fair,” kata Denny.
Tokoh tersebut, kata Denny, sangat cocok dipasangkan dengan Mahfud MD. Namun Denny tak menyebut identitas tokoh tersebut.
"Bagi saya, kalau sang tokoh fair itu menjadikan Prof. Mahfud cawapresnya, kontestasi akan lebih menarik. Sayangnya Prof. Mahfud punya arus dukungan kuat di masyarakat bawah, tapi tidak terlalu menarik pada level atas partai politik," pungkas Denny. (rifky/pojoksatu)



